Senin, 28 Januari 2013

> Kisah Nabi Khidir Dalam Kitab Allamah Ibnu Hajar al Asqalani




Sakratul mautDiriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam kitab Tafsir: .Bercerita kepadaku ayahku, yang didengarnya dari Abdul Aziz Al-Ausiy, dari Ali bin Abu Ali, dari Ja'far bin Muhammad bin Ali bin Husain, dari ayahnya, katanya Ali bin Abi Talib berkata: .Ketika wafat Rasulullah SAW, datanglah ucapan takziah.
 Datang kepada mereka (keluarga Nabi SAW) orang yang memberi takziah. Mereka mendengar orang memberi takziah tetapi tidak melihat orangnya. Bunyi suara itu begini :
.Assalamu Alaikum Ahlal Bait Warahmatullahi Wabarakatuh. Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanyasanya disempurnakan pahala kamu pada hari kiamat. Sesungguhnya dalam agama Allah ada pemberi takziah bagi setiap musibah, bagi Allah ada pengganti setiap ada yang binasa, begitu juga menemukan bagi setiap yang hilang. Kepada Allah-lah kamu berpegang dan kepada-Nya mengharap. Sesungguhnya orang yang diberi musibah adalah yang diberi ganjaran pahala..

Berkata Imam Ja'far as Shadiq : .Bercerita kepadaku ayahku bahawa Ali bin Abi Talib ada berkata : .Tahukah kamu siapa ini? Ini adalah suara Nabi Khidir.. Berkata Muhammad bin Ja'far : .Adalah ayahku, yaitu Ja'far bin Muhammad, menyebutkan tentang riwayat dari ayahnya, dari datuknya, dari Imam Ali bin Abi Talib bahawa datang ke rumahnya satu rombongan kaum Quraisy kemudian dia berkata kepada mereka: .Maukah kamu aku ceritakan kepada kamu tentang Abul Qasim (Muhammad SAW)?. Kaum Quraisy itu menjawab: .Tentu saja mau..
Imam Ali bin Abi Talib berkata: .Jibril Alaihis salam pernah berkata kepada Rasulullah SAW :
.Selamat sejahtera ke atas kamu wahai Ahmad. Inilah akhir watanku (negeriku) di bumi. Sesungguhnya hanya engkaulah hajatku di dunia.. Maka tatkala Rasulullah SAW wafat, datanglah orang yang memberi takziah, mereka mendengarnya tetapi tidak melihat orangnya. Orang yang memberi takziah itu berkata: .Selamat sejahtera ke atas kamu wahai ahli bait. Sesungguhnya pada agama Allah ada pemberi takziah setiap terjadi musibah, dan bagi Allah ada yang menggantikan setiap ada yang binasa. Maka kepada Allah-lah kamu berpegang dan kepada-Nya mengharap. Sesungguhnya orang yang diberi musibah adalah yang diberi ganjaran pahala.. Mendengar yang demikian Imam Ali bin Abi Talib berkata: .Tahukah kamu siapa yang datang itu? Itu adalah Khidir..

Berkata Saif bin Amr At-Tamimi dalam kitabnya Ar-Riddah, yang diterimanya dari Said bin Abdullah, dari Ibnu Umar mengatakan: .Ketika wafat Rasulullah SAW, datanglah Abu Bakar ke rumah Rasulullah. Ketika beliau melihat jenazah Rasulullah SAW, beliau berkata: .Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun.. Kemudian beliau bersama sahabat-sahabat yang lain menyembahyangkan jenazah Rasulullah SAW. Pada waktu mereka menyembahyangkan jenazah Rasulullah SAW, mereka mendengar suara ajaib. Selesai solat dan mereka pun semuanya sudah diam, mereka mendengar suara orang di pintu mengatakan: .Selamat sejahtera ke atas kamu wahai Ahli Bait. Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Hanya saja disempurnakan pahala kamu pada hari kiamat.

Sesungguhnya pada agama Allah ada pengganti setiap ada yang binasa dan ada kelepasan dari segala yang menakutkan. Kepada Allah-lah kamu mengharap dan dengan-Nya berpegang. Orang yang diberi musibah akan diberi ganjaran. Dengarlah itu dan hentikan kamu menangis itu."

Mereka melihat ke arah suara itu tetapi tidak melihat orangnya. Kerana sedihnya mereka
menangis lagi. Tiba-tiba terdengar lagi suara yang lain mengatakan: .Wahai Ahli Bait, ingatlah kepada Allah dan pujilah Dia dalam segala hal, maka jadilah kamu golongan orang mukhlisin. Sesungguhnya dalam agama Allah ada pemberi takziah setiap terjadi musibah, dan ada pengganti setiap ada yang binasa. Maka kepada Allah-lah kamu berpegang dan kepada-Nya taat. Sesungguhnya orang yang diberi musibah adalah orang yang diberi pahala..
Mendengar yang demikian itu berkata Abu Bakar: .Ini adalah Khidir dan Ilyas. Mereka datang atas kematian Rasulullah SAW..

Berkata Ibnu Abu Dunia, yang didengarnya dari Kamil bin Talhah, dari Ubad bin Abdul Samad, dari Anas bin Malik, mengatakan: .Sewaktu Rasulullah SAW meninggal dunia, berkumpullah sahabat-sahabat beliau di sekeliling jenazahnya menangisi kematian beliau. Tiba-tiba datang kepada mereka seorang lelaki yang bertubuh tinggi memakai kain panjang. Dia datang dari pintu dalam keadaan menangis. Lelaki itu menghadap kepada sahabat-sahabat dan berkata: .Sesungguhnya dalam agama Allah ada pemberi takziah setiap terjadi musibah, ada pengganti setiap ada yang hilang. Bersabarlah kamu kerana sesungguhnya orang yang diberi musibah itu akan diberi ganjaran..
Kemudian lelaki itu pun menghilang daripada pandangan para sahabat. Abu Bakar berkata: .Datang ke sini lelaki yang memberi takziah.. Mereka memandang ke kiri dan kanan tetapi lelaki itu tidak nampak lagi. Abu Bakar berkata: .Barangkali yang datang itu adalah Khidir, saudara nabi kita. Beliau datang memberi takziah atas kematian Rasulullah SAW..
Berkata Ibnu Syahin dalam kitabnya Al-Jana.iz: .Bercerita kepada kami Ibnu Abu Daud, dari Ahmad bin Amr, dari Ibnu Wahab, dari Muhammad bin Ajlan, dari Muhammad bin Mukandar, berkata: .Pernah pada suatu hari Umar bin Khattab menyembahyangkan jenazah, tiba-tiba beliau mendengar suara di belakangnya: janganlah mendahului dari kami mengerjakan solat jenazah ini. Tunggulah sudah sempurna dan cukup orang di belakang baru memulakan takbir.. Kemudian lelaki itu berkata lagi: .Kalau engkau siksa dia ya Allah, maka sesungguhnya dia telah durhaka kepada-Mu. Tetapi kalau Engkau mahu mengampuni dia, maka dia betul-betul mengharap keampunan dari-Mu..Umar bersama sahabat-sahabat yang lain sempat juga melihat lelaki itu. Tatkala mayat itu sudah dikuburkan, lelaki itu masih meratakan tanah itu sambil berkata: .Beruntunglah engkau wahai orang yang dikuburkan di sini..

> TERBUKANYA MATAHATI MENUJU MA’RIFATULLAH




اِذَا فَتَحَ لَكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلَا تُبَلِ مَعَهَا اِنْ قَلَّ عَمَلُكَ فَاِنَّهُ مَا فَتَحَهَا لَكَ اِلَّا وَهُوَ يُرِيْدُ اَنْ يَتَعَرَّفَ اِلَيْكَ اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ التَّعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ وَالأَعْمَالُ اَنْتَ مُهْدِيْهَا اِلَيْهِ , وَاَيْنَ مَا تُهْدِيْهِ اِلَيْهِ مِمَّا هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ .


Apabila Allah berkehendak membukakan wijhah hatimu untuk menerima ma’rifat, maka tidak peduli lagi walau amalmu sedikit. Karena bila Allah membuka hatimu semata-mata karena berkehendak memperkenalkan diri-Nya kepadamu. Ketahuilah bahwa sesungguhnya ma’rifat itu didatangkan untukmu dan amalmu adalah persembahan untuk-Nya, mana yang lebih tinggi nilainya bagimu, apa yang datang darimu atau apa yang didatangkan kepadamu?.

Hikam
Wijhah merupakan anugerah Allah s.w.t kepada seorang hamba yang letaknya di dalam hati sanubari. Meski didatangkan sebagai buah ibadah, namun datangnya wijjah tersebut semata-mata kehendak azaliah bukan karena ibadah yang dilakukan itu. Dengan wijhah, seorang hamba dapat melaksanakan tawajjuh (menghadap dan wushul) kepada Allah s.w.t. dengan benar. Yang dimaksud tawajjuh sebagaimana yang dinyatakan Allah s.w.t dalam firman-Nya berikut ini:
إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Sesungguhnya aku menghadapkan hadapanku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan tidak menoleh kepada yang selain-Nya (hanifa) dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan Tuhan”. (QS. al-An’am; 6/79)
Dengan wijhah itu pula seorang hamba mendapatkan kemuliaan dan kedekatan di sisi Tuhannya: “Seorang terkemuka (mempunyai wijhah) di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)”. (QS. Ali Imran; 45) Namun hal tersebut bisa terjadi manakala pintu wijhah itu sudah dibuka (di dalam hati), atau seorang hamba telah mendapatkan futuh dari Tuhannya, dengan itu maka dia akan berma’rifat dengan-Nya.
Ma’rifat artinya mengenal dan yang dimaksud adalah mengenal Allah s.w.t (ma’rifatullah). Orang yang ma’rifatullah adalah orang yang kenal kepada Allah s.w.t. Kenal kepada nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, kekuasaan dan pengaturan-Nya, akhlak dan perbuatan-Nya. Kenal, baik secara rasional (teori ilmiah) maupun secara spiritual (perasaan dalam hati). Namun yang dimaksud ma’rifatullah adalah kenal secara spiritual.
Seorang hamba yang ma’rifat adalah seorang hamba yang bertakwa kepada Tuhannya. Seorang hamba yang ma’rifat adalah seorang hamba sanggup berbuat benar (shiddiq) dan tidak salah di hadapan Tuhannya. Yang demikian itu, karena ia tahu apa yang dikehendaki Allah s.w.t untuk dirinya.
Semakin seorang hamba berma’rifat kepada Allah s.w.t, maka ia akan menjadi semakin mencintai-Nya karena ia semakin mengetahui dan semakin merasakan, bahwa Allah s.w.t sudah berbuat kebaikan yang sangat banyak kepada dirinya: “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”. (QS. Al- Qoshosh; 77)
Semakin seorang hamba mencintai Tuhannya, semakin itu pula ia mampu melaksanakan pengabdian yang hakiki. Sebab, hanya kepada yang dicintai, seseorang akan mampu melaksanakan pengabdian yang benar. Demikian juga, semakin seorang hamba mampu melaksanakan pengabdian yang hakiki kapada Tuhannya berarti derajatnya di sisi Allah s.w.t akan menjadi semakin tinggi. Oleh karena itu, orang yang paling berma’rifat dan paling bertakwa dan paling mulia di sisi Allah s.w.t adalah Rasulullah s.a.w. Hal itu karena Beliau paling mencintai dan paling dicintai oleh Allah s.w.t.
Untuk mencapai ma’rifatullah. Secara teori, seorang hamba akan diperjalankan oleh tarbiyah Allah s.w.t dengan dua cara:
1. Kehendak yang datangnya dari atas ke bawah. Artinya, semata-mata wijhah yang ada di dalam hati—yang asalnya tertutup—dibuka oleh Allah s.w.t. Hijab-hijab matahati dihapuskan. Penutup pintu rahasia dibukakan. Seperti orang menyalakan lampu, maka yang asalnya gelap menjadi terang, yang asalnya tidak kenal kemudian menjadi kenal. Bagaikan mendung ketika sirna, matahari kemudian berada di atas kepala. Hal itu karena Allah s.w.t memang berkehendak mengenalkan diri kepada hamba-Nya, tidak dengan sebab yang lain, tidak dengan sebab amal ibadah yang sudah dikerjakan. Yakni, seorang hamba menjadi mengenal kepada-Nya semata-mata karena Allah s.w.t adalah Dzat Yang Maujud:
قُلِ اللَّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ
“Katakanlah : “Allah-lah” kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.” (QS. al-An’am; 6/91).
2. Kehendak dari bawah kemudian ke atas. Artinya terlebih dahulu seorang hamba dikenalkan kepada makhluk-makhluk-Nya baru kemudian dikenalkan kepada Al-Khalik (penciptanya), Sebagaimana firman Allah s.w.t:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”. (QS. 2; 164)
Pengenalan seorang hamba kepada Sang Pencipta langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar serta kemanfaatan-kemanfaatan yang dapat dimanfaatkan bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Allah s.w.t hidupkan bumi sesudah matinya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi.
Perhatian dan penelitian seorang hamba terhadap semua itu menghasilkan suatu kesimpulan bahwa betapa Allah s.w.t telah banyak berbuat baik kepada umat manusia dan betapa sangat banyak manusia yang tidak mengetahui dan tidak menyadarinya dan bahkan kafir kepada-Nya. Pemahaman tersebut kemudian menjadikan tumbuhnya rasa kecintaan yang mendalam kepada-Nya. Hasilnya, mendorong dirinya untuk bertaubat dengan taubatan nasuha dan meningkatkan diri dalam melaksanakan pengabdian kepada Allah s.w.t.
Ma’rifat yang pertama adalah ma’rifat yang langsung memancar dari hati dan ruh (spiritual) yang kemudian dipancarkan lagi di dalam akal dan fikir (rasional ilmiah) yang selanjutnya dapat teraktualisasikan melalui akhlak dan perbuatan. Itu bisa terjadi karena seorang hamba memang telah terlebih dahulu dicintai Allah kemudian ia mencintainya. Ma’rifat yang pertama ini lebih kuat daripada ma’rifat yang kedua karena ia lebih hakiki adanya dan karena sesungguhnya letak ma’rifat itu adalah di dalam hati.
Ma’rifat yang kedua adalah ma’rifat hati (spiritual) juga, akan tetapi masuknya terlebih dahulu melalui akal dan fikir (rasional). Yakni pengenalan seorang hamba kepada kejadian-kejadian yang ada di bumi dan di langit menjadikannya mengenal kepada Sang Pencipta. Seperti orang yang mengenal buah karya tulis, ketika semakin dalam pengenalannya akhirnya ia ingin mengenal penulisnya.
Walau jalan masuknya ma’rifat yang kedua ini melalui rasional, akan tetapi ketika masuk ke dalam spiritual (hati), masuknya ma’rifat itu semata kehendak Allah. Hanya saja kehendak itu telah didahului oleh kehendak-kehendak yang sebelumnya—sebagai sebab-sebab yang tersusun tertib untuk mendapatkan akibat yang baik,—yaitu pahala dari amal ibadah yang sudah dilakukan.
Bukan karena semata-mata amal ibadah yang dapat menjadikan seorang hamba berma’rifat kepada Allah s.w.t, akan tetapi sesungguhnya amal ibadah tersebut terlebih dahulu dijadikan sebab-sebab untuk bisa terpenuhi suatu proses pematangan ilmu pengetahuan secara rasional. Yakni supaya sampai kepada suatu akibat yang baik, yaitu pendewasaan ilmu dan akhlak secara spiritual.
Amal ibadah adalah persembahan seorang hamba kepada Tuhannya sedangkan ma’rifat adalah pemberian Allah kepada hamba-Nya, manakah yang lebih tinggi nilainya? Oleh karena itu, apabila Allah s.w.t berkehendak membukakan pintu wijhah hati seorang hamba untuk menerima Nur Ma’rifat, tidak peduli walau hamba-Nya itu sedang lemah dan sedikit amal ibadahnya.                                      sumber:
http://ponpesalfithrahgp.wordpress.com

> FANA ( Imam Ghazali )


1. Pengertian Fana

Kebanyakan kitab-kitab tua seperti Kitab Syarah Hikam Ibni Athoillah As-Kandariah, Kitab Manhal-Shofi, Kitab Addurul-Nafs dan lain-lain menggunakan istilah-istilah seperti 'binasa' dan 'hapus' untuk memperihalkan tentang maksud fana. Ulama-ulama lainnya yang banyak menggabungkan beberapa disiplin ilmu lain seperti falsafah menggunakan istilah-istilah seperti 'lebur', 'larut', 'tenggelam' dan 'lenyap' dalama usaha mereka untuk memperkatakan sesuatu tentang 'hal' atau 'maqam' fana ini.

Di dalam Kitab Arrisalah al-Qusyairiah disebutkan arti fana itu ialah;

Lenyapnya sifat-sifat basyariah(pancaindera)
Maka sesiapa yang telah diliputi Hakikat Ketuhanan sehingga tiada lagi melihat daripada Alam baharu, Alam rupa dan Alam wujud ini, maka dikatakanlah ia telah fana dari Alam Cipta. Fana bererti hilangnya sifat-sifat buruk (maksiah lahir dan maksiat batin) dan kekalnya sifat-sifat terpuji(mahmudah). Bahawa fana itu ialah lenyapnya segala-galanya, lenyap af'alnya/perbuatannya(fana fil af'al), lenyap sifatnya(fana fis-sifat), lenyap dirinya(fan fiz-zat)

Oleh kerana inilah ada di kalangan ahli-hali tasauf berkata:

"Tasauf itu ialah mereka fana dari dirinya dan baqa dengan Tuhannya kerena kehadiran hati mereka bersama Allah".

Sahabat Rasulullah yang banyak memperkatakan tentang 'fana' ialah Sayyidina Ali, salah seorang sahabat Rasulullah yang terdekat yang diiktiraf oleh Rasulullah sebagai 'Pintu Gedung Ilmu'. Sayyidina Ali sering memperkatakan tentang fana. Antaranya :

"Di dalam fanaku, leburlah kefanaanku, tetapi di dalam kefanaan itulah bahkan aku mendapatkan Engkau Tuhan".

Demikianlah 'fana; ditanggapi oleh para kaun sufi secara baik, bahkan fana itulah merupakan pintu kepada mereka yang ingin menemukan Allah(Liqa Allah) bagi yang benar-benar mempunyai keinginan dan keimanan yang kuat untuk bertemu dengan Allah(Salik). Firman Allah yang bermaksud:

"Maka barangsiapa yang ingin akan menemukan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amalan Sholeh dan janganlah ia mempersekutukan siapapun dalam beribadat kepada Allah (Surah Al-Kahfi:)

Untuk mencapai liqa Allah dalam ayat yang tersebut di atas, ada dua kewajiban yang mesti dilaksanakan iaitu:
Pertamanya mengerjakan amalan sholeh dengan menghilangkan semua- sifat-sifat yang tercela dan menetapkan dengan sifat-sifat yang terpuji iaitu Takhali dan Tahali.

Keduanya meniadakan/menafikan segala sesuatu termasuk dirinya sehingga yang benar-benar wujud/isbat hanya Allah semata-mata dalam beribadat. Itulah ertinya memfanakan diri.

Para Nabi-nabi dan wali-wali seperti Sheikh Abu Qasim Al-Junaid, Abu Qadir Al-Jailani , Imam Al-Ghazali, Ab Yazid Al-Busthomi sering mengalami keadaan "fana" fillah dalam menemukan Allah. Umpamanya Nabi Musa alaihisalam ketika ia sangat ingin melihat Allah maka baginda berkata yang kemudiannya dijawab oleh Allah Taala seperti berikut;

"Ya Tuhan, bagaimanakah caranya supaya aku sampai kepada Mu? Tuhan berfirman: Tinggalkan dirimu/lenyapkan dirimu(fana), baru kamu kemari."

2. Kata-kata Hikmah Dari Wali-wali Allah yang telah mengalami FANA

Ada seorang bertanya kepada Abu Yazid Al-Busthomi;
"Bagaimana tuan habiskan masa pagimu?". Abu Yazid menjawab: "Diri saya telah hilang(fana) dalam mengenang Allah hingga saya tidak tahu malam dan siang".

Satu ketika Abu Yazid telah ditanyai orang bagaimanakah kita boleh mencapai Allah. Beliau telah menjawab dengan katanya:

"Buangkanlah diri kamu. Di situlah terletak jalan menuju Allah. Barangsiapa yang melenyapkan(fana) dirinya dalam Allah, maka didapati bahawa Allah itu segala-galanya".

Beliau pernah menceritakan sesuatu tentang fana ini dengan katanya;

Apabila Allah memfanakan saya dan membawa saya baqa dengaNya dan membuka hijab yang mendinding saya dengan Dia, maka saya pun dapat memandangNya dan ketika itu hancur leburlah pancainderaku dan tidak dapat berkata apa-apa. Hijab diriku tersingkap dan saya berada di keadaan itu beberapa lama tanpa pertolongan sebarang panca indera. Kemudian Allah kurniakan saya mata Ketuhanan dan telinga Ketuhanan dan saya dapat dapati segala-galanya adalah di dalam Dia juga."

Al-Junaid Al-Bagdadi yang menjadi Imam Tasauf kepada golongan Ahli Sunnah Wal-Jamaah pernah membicarakan tentang fana ini dengan kata-kata beliau seperti berikut:

Kamu tidak mencapai baqa(kekal dengan Allah) sebelum melalui fana(hapus diri)
Membuangkan segala-galanya kecuali Allah dan 'mematikan diri' ialah kesufian.
Seorang itu tidak akan mencapai Cinta kepada Allah(mahabbah) hingga dia memfanakan dirinya. Percakapan orang-orang yang cinta kepada Allah itu pandangan orang-orang biasa adalah dongeng sahaja.

3. Himpunan Kata-kata Hikmat Tentang Fana

A. Sembahyang orang yang cinta (mahabbah) ialah memfanakan diri sementara sembahyang orang awam ialah rukuk dan sujud.

B. Setengah mereka yang fana (lupa diri sendiri) dalam satu tajali zat dan kekal dalam keadaan itu selama-lamanya. Mereka adalah Majzub yang hakiki.

C. Sufi itu mulanya satu titik air dan menjadi lautan. Fananya diri itu meluaskan kupayaannya. Keupayaan setitik air menjadi keupayaan lautan.

D. Dalam keadaan fana, wujud Salik yang terhad itu dikuasai oleh wujud Allah yang Mutlak. Dengan itu Salik tidak mengetahui dirinya dan benda-benda lain. Inilah peringkatWilayah(Kewalian). Perbezaan antara Wali-wali itu ialah disebabkan oleh perbezaan tempoh masa keadaan ini. Ada yang merasai keadaan fana itu satu saat, satu jam, ada yang satu hari an seterusnya. Mereka yang dalam keadaan fana seumur hidupnya digelar majzub. Mereka masuk ke dalam satu suasana dimana menjadi mutlak.

E. Kewalian ialah melihat Allah melalui Allah. Kenabian ialah melihat Allah melalui makhluk. Dalam kewalian tidak ada bayang makhluk yang wujud. Dalam kenabian makhlik masih nampak di samping memerhati Allah. Kewalaian ialah peringakat fana dan kenabian ialah peringkat baqa

F. Tidak ada pandangan yang pernah melihat Tajalinya Zat. Jika ada pun ia mencapai Tajali ini, maka ianya binasa dan fana kerana Tajali Zat melarutkan semua cermin penzohiran. Firman Allah yang bermaksud :
Sesungguhnya Allah meliputi segala-galanya.(Surah Al-Fadhilah:54)

G. Tajali bererti menunjukkan sesuatu pada diriNya dalam beberapa dan berbagai bentuk. Umpama satu biji benih menunjukkan dirinya sebgai beberapa ladang dan satu unggun api menunjukkan dirinya sebagai beberapa unggun api.

H. Wujud alam ini fana (binasa) dalam wujud Allah.Dalilnya ialah Firman Allah dalam Surah An-Nur:35 yang bermaksud;
"Cahaya atas cahaya, Allah membimbing dengan cahayanya sesiapa yang dikehendakinya." dan "Allah adalah cahaya langit dan bumi."

I. Muraqobah ialah memfanakan hamba akan afaalnya dan sifatnya dan zatnya dalam afaal Allah, sifat Allah dan zat Allah.
J. Al-Thomsu atau hilang iaitu hapus segala tanda-tanda sekelian pada sifat Allah. Maka iaitu satu bagai daripada fana.

4. Tajuk-tajuk yang berkaitan dengan Fana

  • Mikraj Muhammad
  • Alamat Sampai Kepada Maqam Yang Tinggi


5.  Pesanan Dari Suluk
Hakikat tidak akan muncul sewajarnya jika syariat dan thorikat belum betul lagi kedudukannya. Huruf-huruf tidak akan tertulis dengan betul jika pena tidak betul keadaannya.

Dari itu saudara-saudaraku anda seharusnya banyak menuntut dan mendalami ilmu-ilmu agama yang berkaitan dengan syariat , usuluddin dan asas tasauf untuk mendekatkan diri dengan Allah .

Sumber: Arrisalah Al-laduniyah - Imam Ghazali

> MA'RIFAT RASULULLAH SAW

MUNIF
handokoardi@yahoo.co.id
                                                                                                                                                                      Rasulullah Saw adalah mukjizat sejarah. Beliau adalah menara petunjuk bagi orang yang berada dalam kebingungan dan kesimpangsiuran berbagai pemikiran dan pendapat. Kehidupan beliau sebelum kenabian adalah sama statusnya dengan kehidupan beliau setalah kenabian, yakni bisa dijadikan sebagai nasihat, pelajaran, petunjuk dan contoh yang ideal bagi siapa saja yang menginginkan jalan yang lurus dan kokoh.
Orang yang merenungkan kehidupan Nabi Muhammad Saw sebelum beliau diutus menjadi Nabi – sedangkan orang tersebut tidak memiliki pengetahuan tentang konsep kenabian, yakni bahwa kenabian itu bukan merupakan sesuatu yang diupayakan, tetapi merupakan suatu anugerah dari Allah Swt – akan menyangka bahwa Muhammad sedang memburu wahyu dan berjuang mati-matian untuk mendapatkannya. Yang benar adalah bahwa Allah Swt telah memilih Muhammad dan melebihkannya dari semua yang ada di alam ini. Allah Swt telah memilihnya, ketika hampir tiba saatnya janji Allah Swt untuk mengutus seorang nabi setelah Isa. Allah Swt telah memilih Muhammad untuk mengemban risalah-Nya.
Imam al-Maraghi berkata: “Nubuwwah (kenabian) adalah anugerah yang tidak didapatkan dengan cara berusaha (belajar). Nubuwwah adalah hikmah Allah Swt dan ilmu-Nya. Dua hal ini diberikan kepada orang yang telah siap menerimanya dan mampu memikulnya. Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: “Allah lebih mengetahui kepada siapa Dia memberikan tugas kerasulan” (Qs. Al-An’am; 124). Dan Muhammad telah siap untuk membawa risalah ke seluruh alam, kepada manusia dan jin. Muhammad telah siap membawa risalah agama yang sempurna (Islam). Muhammad dijadikan oleh Allah Swt sebagai penutup para nabi dan rasul-Nya, agar Muhammad menjadi cahaya petunjuk sampai saatnya langit ini runtuh, bintang-bintang bertabrakan dan bumi ini diganti dengan bumi yang lain.
Kehidupan Muhammad ini memang telah direncanakan oleh Allah Swt sendiri. Allah Swt telah mempersiapkan Muhammad dalam dua aspek, yakni aspek keturunannya atau keluarganaya dan aspek fitrah atau kematangan pribadinya. Dari segi atau aspek keturunannya, maka kita bisa melihat pada sosok pribadi kakeknya, Abdul Muthalib. Beliau adalah seorang yang berwatak toleran, sabar, dermawan, pandai bergaul dan enak bicaranya. Beliau juga seorang yang memiliki “keimanan” yang kuat dalam hatiya, dan “keimanan” itu mampu mengendalikan dirinya. Suatu keimanan yang berupa “kecenderungan religius” dan tidak berwujud sebagai sebuah agama yang definitif. Namun demikian, beliau betul-betul menghayati kecenderungan religiusnya atau fitrah keagamannya walaupun beliau tidak mampu memahami dan mejelaskan bagaimana fitrah keberagamaannya tersebut.
Beliau adalah seorang pemuda Qurays, namun beliau berbeda dengan pemuda Qurays pada umumnya. Beliau seorang pemuda yang cerdas yang memiliki jiwa kepemimpinan yang hebat. Beliau seorang yang berkepribadian tegas yang tidak pernah termakan bujuk rayu orang-orang di sekitarnya. Beliau seorang yang sangat religius di tengah-tengah masyarakat yang sinis dan jauh dari nilai-nilai religius.
Watak beliau yang lain yang sangat membedakan dirinya dengan orang lain adalah beliau tidak menghabiskan waktunya untuk berpikir ataupun merenung yang sia-sia, kecuali kalau hal itu bisa mendorong beliau untuk giat bekerja dan berjuang dalam hidupnya. Ada kekuatan tersembunyi yang beliau rasakan, tetapi beliau abaikan perasaan tersebut bahkan sangat mengabaikannya. Namun demikian, keengganan beliau untuk menuruti kekuatan tersembunyi tersebut, justeru memaksa beliau untuk tunduk dan patuh pada perintah kekuatan tersembunyi tersebut.
Kekuatan tersebut telah menjelma dalam dirinya dalam beberapa bentuk. Kadang berupa kekuatan yang mendorong beliau untuk giat bekerja – seolah-olah ini telah menjadi sebuah keinginan yang tidak bisa dibendung lagi – yang menguasai dirinya sehingga beliau tidak mampu menolak dan membantahnya. Kadang-kadang pula, kekuatan itu menjelma dalam wujud seseorang yang sangat jelas dan “bersuara” yang ditemuinya dalam mimpi, dan seseorang itu memerintahkan kepada Abdul Muthalib untuk melakukan ini dan itu.
Suara itu kadang terdengar nyaring jelas, tetapi kadang juga terdengar samar-samar. Abdul Muthalib berusaha untuk tidak mempercayai suara-suara itu dan berusaha untuk mengabaikannya, tetapi suara itu terus menerus terngiang di telinganya, sehingga beliau menjadi takut dan kalut. Namun suara itu membisikkan kepadanya agar tidak berputus asa dan memberikan isyarat-isyarat kepadanya. Suara itu tidak berbentuk ucapan atau perkataan sebagaimana biasa didengar oleh kebanyakan orang, tetapi berupa kata-kata khusus yang aneh didengar dan asing maknanya.
Sedangkan ayah Muhammad, Abdullah, adalah benar-benar mewarisi kepribadian bapaknya, Abdul Muthalib, sebagaimana kata pepatah “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Fatimah al-Khats’amiyah berkata kepada Abdullah: “Sesungguhnya kau melihat dirimu persis seperti bapakmu”.
Dari suku Qurays, dari keluarga Bani Hasyim, dari seorang kakek yang bernama Abdul Muthalib – seorang pemimpin Qurays pada saat itu – dan dari seorang ayah yang bernama Abdullah, lahirlah Muhammad Saw.
Allah Swt telah meimilih Muhammad untuk mengemban rislah-Nya. Sebelum Allah Swt memilihnya menjadi rasul-Nya, Allah Swt telah mengkondisikan pribadi Muhammad sedemikian rupa. Ya, dan inilah periode kehidupan beliau sebelum diutus menjadi Rasulullah.
Periode tersebut adalah periode jihad dan pergolakan batin; antara ketenangan dan kegelisahan yang berlangsung terus menerus; antara kecemasan dan harapan; antara putus asa dan optimisme. Periode kehidupan beliau ini – dalam bahwa tasawuf al-Junaid – adalah masa yang penuh dengan pergolakan dan kekerasan.
Setiap tahun, Muhammad Saw melakukan jihad spiritual yang berkesinambungan selama satu bulan penuh di Gua Hira dengan melakukan khalwat ataupun menyendiri, berpaling secara total dari semua selain Allah Swt. Di dalam gua itu, baik di kegelapan malam maupun di siang bolong, Muhammad berusaha untuk menyingkap hijab dan tirai yang menghalanginya agar matahati beliau mampu menembus alam ghaib dan sampai kepada sidrat al-muntahā, sehingga beliau bisa menyaksikan keagunagn dan kebesaran Allah Swt.
Itulah Rasulullah Saw, seorang yang melakukan perjuangan atau jihad yang sangat hebat yang tidak bisa digambarkan oleh manusia lainnya, apalagi meniru secara persis apa yang telah beliau lakukan.
Itulah Rasulullah Saw yang telah mengerahkan segenap usahanya menuju “tujuan” yang hampir tidak bisa difahami oleh manusia lainnya, apalagi sampai pada “tujuan” tadi.
Itulah Rasulullah Saw, seseorang yang telah melihat bahwa “jalan” itu tidak rata dan sulit untuk didaki, … tetapi semua itu justeru menambah semakin tekad beliau untuk menempuhnya. Itulah jihad yang terbesar – meminjam ungkapan sebuah hadits yang sangat populer untuk menggambarkan jihad terhadap hawa nafsu agar jiwa menjadi suci.
Tahun berganti tahun, tetapi “jihad” yang dilakukan oleh Muhammad tidak pernah berhenti, sehingga beliau menjadi, atau hampir menjadi ruh yang murni, atau seberkas cahaya dari Allah Swt dab berakhir pada maqam al-qurb atau paling dekat dengan Allah Swt. Al-Ghazali menggambarkan keadaan ini dengan mengatakan: “Keadaan Rasulullah Saw pada saat beliau berada di Gua Hira untuk erkonsentrasi dan beribadah dengan Rabb-nya adalah seperti yang dikatakan oleh orang-orang Arab, bahwa Muhammad sedang tergila-gila dengan Tuhannya.
Setelah itu, turunlah surat al-‘Alaq yang berarti beliau memperoleh tugas kerisalahan, sebagai mukjizat yang bisa mengubah sejarah manusia.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (Qs. al-‘Alaq; 1-5)
Dr. Haikal berkata: Muhammad sangat serius dan bersungguh-sungguh dalam tahannuts-nya (menyendiri untuk beribadah secara serius). Beliau merenung dan berfikir tentang semua yang menghimpit pikirannya. Beliau juga bersungguh-sungguh agar memperoleh ketenangan batin dan obat penawar atas kegundahan hatinya dengan cara menyendiri. Beliau melakukan hal ini sebagai perantara untuk mencapai apa yang selama ini beliau rindukan, yakni ma’rifat dan ilham yang bisa menjelaskan kepada beliau tentang penyebab segala sesuatu yang terjadi dan wujud di alam ini.
Di atas bukit Hira – jaraknya sekitar beberapa kilometer di debeleh selatan kota Makah – terdapat sebuah gua. Gua Hira ini merupakan tempat terbaik untuk melakukan ‘uzlah dan ibadah. Dalam setiap tahunnya, selama bulan Ramadhan, Muhammad pergi ke gua tersebut dan berdiam diri di sana dengan hanya membawa sedikit bekal. Dalam Gua Hira ini, Muhammad melakukan perenungan dan ibadah dalam suasana yang jauh dari hingar bingar kehidupan manusia, semata-mata untuk mencari kebenaran. Karena kesungguhan beliau dalam merenung untuk mencari hakikat kebenaran sejati, seringkali beliau lupa makan dan tidak ingta lagi semua yang ada dalam kehidupan ini, karena beliau memandang bahwa kehidupan manusia ini serta apa yang beliau saksikan di sekitarnya bukanlah kebenaran sejati.
Pada saat berusia 40 tahun, beliau – sebagaimana biasanya – pergi ke Gua Hira untuk beribadah. Jiwa beliau penuh dengan keyakinan akan kebenaran mimpi yang pernah dialaminya. Jiwanya benar-benar ikhlas. Sungguh! Allah Swt telah mendidik beliau dengan pendidikan yang terbaik. Beliau sangat mantap hatinya untuk menempuh jalan yang lurus menuju hakikat yang abadi. Beliau menghadap dan berdo’a kepada Allah Swt dengan seenuh jiwa agar Allah Swt memberikan petunjuk kepada kaumnya, setelah mereka bergelimang dalam kesesatan. Demi terkabulnya permohonan beliau ini, beliau beribadah di malam hari dan berpuasa di siang harinya, melatih jiwa dan perasaannya, merenung dan kadang-kadang beliau melepaskan pandangannya dari atas bukit Hira itu ke alam luas yang membentang di hadapannya, kemudian beliau kembali melakukan khalwat-nya agar beliau bisa memeriksa kembali apa yang bergejolak dalam hatinya dan memperoleh kejelasan di balik gejolak tersebut.
Keadaan ini beliau alami selama enam bula sampai akhirnya beliau merasa khawatir atas akibat dari semua itu. Kekhawatiran ini beliau sampaikan kepada isterinya, Khadijah. Beliau juga menjelaskan kepada isterinya itu apa yang dilihatnya. Beliau khawatir, jangan-jangan jin telah memperdayanya. Namun, isteri beliau yang sangat tulus menguatkan hati beliau dengan mengatakan bahwa Engkau adalah al-Amin, maka tidak mungkin jin bisa mendekati dirimu. Sesungguhnya Allah Swt telah mengajak kekasih-Nya ini untuk melakukan riyādlah spiritual sampai datangnya suatu hari yang agung dan berita yang agung pula. Itulah hari turunnya wahyu yang pertama, yang berarti sejak saat itu Allah Swt telah mengangkatnya menjadi seorang Rasul. Itulah hari pada saat beliau sedang tertidur di Gua Hira, beliau didatangi oleh malaikat yang membawa suhuf dan berkata kepadanya: “IQRA’ (bacalah)!”
Kehidupan Nabi Saw sebelum beliau menjadi rasul – yang merupakan perjalanan hidup yang berlangsung di bawah petunjuk Allah Swt – bukanlah ilmu kalam dan bukan pula filsafat rasional. Perjalanan hidup beliau ini menggambarkan kepada kita tentang jalan menuju Allah Swt, yang tidak lain adalah jalan kasyf, jalan ilham, jalan bashīrah, bahkan jalan musyāhadah – sebagaimana dalam pandangan para sufi.
Perjalanan hidup yang telah diajarkan oleh Rasulullah Saw kepada kita secara global ini, telah dipaparkan secara risnci oleh para sufi dengan memakai pendekatan psikologis yang sangat gamblang. Perjalanan itu dimulai dengan perjalanan manusia selangkah demi selangkah sampai akhirnya berada pada satu tingkatan – yang tidak kami katakan sebagai tingkatan terakhir, karena tidak ada kata akhir dalam ma’rifat kepada Allah Swt – dan setelah tingkatan itu, manusia biasa tidak mampu untuk mencapai serta tidak mungkin bisa digambarkan dengan kata-kata.
Itulah jalan yang oleh para sufi dinamakan dengan manāzil al-sālikin (tempat-tempat para salik); madārij al-sālikin (tangga para sālik) dan manāzil al-arwāh (posisi-posisi ruhani) yang kesemuanya merupakan ungkapan untuk melambangkan maqāmāt dan ahwāl, di mana setiap maqām merupakan pengantar menuju maqām berikutnya dan setiap hāl menjadi pengantar pada hāl yang berikutnya, sampai manusia berada pada jarak yang “dekat” dengan Allah Swt dan bisa ber-musayāhadah serta tenggelam dalam alam malakūt yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Al-Ghazali berkata: “Pertama, jalan tersebut diawali dengan mukāsyafah dan musyāhadah, sehingga meskipun mereka (para sufi) dalam keadaan tidak tertidur (jaga), tetapi mereka bisa menyaksikan para malaikat dan arwah para nabi. Mereka bisa mendengarkan pembicaraan para nabi dan juga bisa mengambil pelajaran dari mereka. Kemudian keadaan (hal) ini meningkat dari menyaksikan (musyahadah) pemandangan-pemandangan dan gambar-gambar menuju satu tingkat atau keadaan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. @@@

> Surat – Surat Nabi Muhammad SAW Untuk Para Raja Dokumen Asli

Setelah Perjanjian Hudaibiyyah Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam memiliki kesempatan untuk berdakwah yang lebih luas. Beliau mengirimkan banyak surat kepada pembesar di berbagai negeri menyeru mereka kepada Islam. Berikut ini adalah kisah tiga orang raja yang berbeda reaksinya ketika menerima surat dari Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam. Perbedaan reaksi ini berakibat pada perbedaan nasib yang mereka alami.   
                                                                                                                                                                  1- Surat Nabi saw untuk Raja Negus (Penguasa Ethiopia)
Isi surat:
Dari Muhammad utusan Islam untuk An-Najasyi, penguasa Abyssinia (Ethiopia).
Salam bagimu, sesungguhnya aku bersyukur kepada Allah yang tidak ada Tuhan kecuali Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, dan aku bersaksi bahwa Isa putra Maryam adalah ruh dari Allah yang diciptakan dengan kalimat Nya yang disampaikan Nya kepada Maryam yang terpilih, baik dan terpelihara. Maka ia hamil kemudian diciptakan Isa dengan tiupan ruh dari-Nya sebagaimana diciptakan Adam dari tanah dengan tangan Nya. Sesungguhnya aku mengajakmu ke jalan Allah. Dan aku telah sampaikan dan menasihatimu maka terimalah nasihatku. Dan salam bagi yang mengikuti petunjuk.
Ketika Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam menulis surat kepada An-Najasyi yakni Ashhamah bin Al-Abjar dan menyerunya kepada Islam. Raja An-Najasyi mengambil surat itu, beliau lalu meletakkan ke wajahnya dan turun dari singgasana. Beliaupun masuk Islam melalui Ja’far bin Abi Tholib radiyallahu ‘anhu.
Beliau lalu mengirimkan surat kepada Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam dan menyebutkan tentang keislamannya.
Raja An-Najasyi akhirnya meninggal dunia pada bulan Rajab tahun ke-9 Hijriyyah. Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam memberitakan hal itu pada hari wafatnya lalu melakukan shalat ghaib untuknya. Beliau juga mengabarkan bahwa Raja An-Najasyi kelak akan masuk surga.
                                                                                                                                                                         2- Surat Nabi saw untuk Raja Heraclius (Kaisar Romawi)
Isi surat:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad utusan Allah untuk Heraclius Kaisar Romawi yang agung.
Salam bagi siapa yang mengikuti petunjuk. Salain dari pada itu, sesungguhnya aku mengajak kamu untuk memeluk Islam. Masuklah kamu ke agama Islam maka kamu akan selamat dan peluklah agama Islam maka Allah memberikan pahalah bagimu dua kali dan jika kamu berpaling maka kamu akan menanggung dosa orang orang Romawi. “Katakanlah: Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. Al-Imron 64
Ketika Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam mengirim surat kepada Kaisar Heraklius dan menyerukan kepada Islam. Pada waktu itu Kaisar sedang merayakan kemenangannya atas Negeri Persia.
Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam telah mengirim Dihyah bin Khalifah Al-Kalby sebagai utusan kepada Kaisar Heraklius penguasa Kekaisaran Romawi, negara adi daya pada masa itu. Sang Kaisar pun berkeinginan untuk melakukan penelitian guna memeriksa kebenaran kenabian Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam. Maka beliau memerintahkan untuk mendatangkan seseorang dari Bangsa Arab ke hadapannya.
Abu Sufyan rodhiyaullahu ‘anhu, waktu itu masih kafir, dan rombongannya segera dihadirkan di hadapan Kaisar. Beliau diminta berdiri paling depan sebagai juru bicara karena memiliki nasab yang paling dekat dengan Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam. Rombongan yang lain berdiri di belakangnya sebagai saksi, sehingga beliau tidak berani berbohong. Itulah strategi Kaisar untuk mendapatkan keterangan yang valid.
Maka berlangsunglah dialog yang panjang antara Kaisar dengan Abu Sufyan rodhiyaullahu ‘anhu. Kaisar Heraklius adalah seorang yang cerdas dengan pengetahuan yang luas. (Baca: Dialog Dengan Raja Heraclius Dan Pengakuannya => Cari disitus ini menggunakan fitur pencarian Diatas)
Dengan kecerdasan dan keluasan ilmunya Kaisar bisa mengetahui kebenaran kenabian Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan Kaisar menyatakan :
“Dia (maksudnya Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam) kelak akan mampu menguasai wilayah yang dipijak oleh kedua kakiku ini.” Sedang saat itu Kaisar sedang dalam perjalanan menuju Baitul Maqdis.
Kaisar lalu memuliakan Dihyah bin Khalifah Al-Kalby dengan menghadiahkan sejumlah harta dan pakaian. Kaisar memuliakan surat dari Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam namun masih lebih mencintai tahtanya. Akibatnya adalah di dunia Allah Subhanahu wa Ta’ala memanjangkan kekuasaannya. Namun dia harus mempertanggungjawabkan kekafirannya di akhirat kelak.
                                                                                                                                                                                    3- Surat Nabi saw untuk Raja Khosrau II (Penguasa Persia)
Isi surat:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad utusan Allah untuk Khosrau, penguasa Persia yang agung.
Salam bagi orang yang mengikuti petunjuk, beriman kepada Allah dan RasulNya, dan bagi orang yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bagi yang bersaksi bawha Muhammad itu hamba Nya dan utusan Nya. Aku mengajakmu kepada panggilan Allah sesungguhnya aku adalah utusan Allah bagi seluruh manusia supaya aku memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir. Peluklah agama Islam maka kamu akan selamat. Jika kamu menolak maka kamu akan menanggung dosa orang orang Majusi.
Ketika Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam mengirim surat kepada Kisra Abrawaiz raja dari Negeri Persia dan menyerunya kepada Islam. Namun ketika surat itu dibacakan kepada Kisra, iapun merobeknya sambil berkata, ”Budak rendahan dari rakyatku menuliskan namanya mendahuluiku.
Ketika berita tersebut sampai kepada Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam, beliaupun mengatakan, ”Semoga Allah mencabik-cabik kerajaannya.”
Doa tersebut dikabulkan. Persia akhirnya kalah dalam perang menghadapi Romawi dengan kekalahan yang menyakitkan. Kemudian iapun digulingkan oleh anaknya sendiri yakni Syirawaih. Ia dibunuh dan dirampas kekuasaannya.
Seterusnya kerajaan itu kian tercabik-cabik dan hancur sampai akhirnya ditaklukkan oleh pasukan Islam pada jaman Khalifah Umar bin Khaththab radiyallahu ‘anhu hingga tidak bisa lagi berdiri. Selain itu Kisra masih harus mempertanggung-jawabkan kekafirannya di akhirat kelak.

Minggu, 27 Januari 2013

> JALAN MENGENAL ALLAH

makrifat


MAKRIFAT IALAH :Mengenal Allah SWT.pada Zat-nya,pada Sifat-nya,pada Asma’nya dan pada Af’al-nya.

1. AWALUDIN MA’RIFATULLAH Artinya :
Awal agama mengenal Allah.
2. LAYASUL SHALAT ILLA BIN MA’RIFAT Artinya :
Tidak syah shalat tanpa mengenal Allah.
3. MAN ARAFA NAFSAHU FAKAT ARAFA RABBAHU Artinya :
Barang siapa mengenal dirinya dia akan mengenal Tuhannya.
4. ALASTUBIRAFBIKUM QOLU BALA SYAHIDENA Artinya :
Bukankah aku ini Tuhanmu ? Betul engkau Tuhan kami,kami menjadi saksi.(QS.AL-ARAF 172)
5. AL INSANNU SIRRI WA ANNA SIRRUHU Artinya :
Manusia itu rahasiaku dan akulah rahasianya.
6. WAFI AMFUSIKUM AFALA TUBSIRUUN Artinya :
Aku ada didalam Jiwamu mengapa kamu tidak melihat.
7. WANAHNU AKRABI MIN HABIL WARIZ Artinya :
Aku lebih dekat dari urat nadi lehermu.
8. LAA TAK BUDU RABBANA LAM YARAH Artinya :
Aku tidak akan menyembah Allah bila aku tidak melihatnya lebih dahulu.
Bismillahirrahmanirrahim.
HUBUNGAN MANUSIA DENGAN ALLAH

Pada malam Raibul Ruyub yaitu dalam keadaan antah-berantah pada zat,Semata-mata,pada belum ada awal dan belum ada akhir,belum ada Bulan dan belum ada Matahari,belum adbintang belum ada sesuatu.

Malahan belum ada Tuhan yang bernama Allah,maka dalam keadaan ini,diri yang punya zat tersebut ialah Mentajalikan diri-nya untuk memuji diri-nya.

Lantas Tajali-nyalah Nur Allah dan kemudian ditajali-nya pula Nur Muhammad Yaitu Insan Kamil, yang pada peringkat ini dinamakan Anta Ana,Ana Anta.

Maka yang punya zat bertannya kepada Nur Muhammad dan sekalian Roh untuk menentukan kedudukan dan taraf hamba.
Lantas ditanyakan kepada Nur Muhammad, aku ini Tuhanmu ? Maka jawablah Nur Muhammad yang mewakili seluruh Roh, Ya…Engkau Tuhanku.Persaksian ini dengan jelas diterangkan dalam Al-Qur’an surat Al-Araf 172.

ALASTUBIRABBIKUM,QOOLU BALA SYAHIDNA.
Artinya : Bukan aku ini tuhanmu ? Betul engkau Tuhan kami,Kami menjadi Saksi.

Selepas pengakuan atau persumpahan Roh ini dilaksankan,maka bermulalah Era barudi dalam perwujudan Allah SWT.seperti firman Allah dalam Hadits Qudsi yang artinya :

“Aku suka mengenal diriku, lalu aku jadikan mahkluk ini dan aku perkenalkan diriku.

Apa yang dimaksud dengan mahkluk ini ialah : Nur Muhammad sebab seluruh kejadian alam maya ini dijadikan daripada Nur Muhammad.tujuan yang punya zat mentajalikan Nur Muhammad adalah untuk memperkenalkan diri-nya sendiri dengan diri Rahasianya sendiri,Maka diri Rahasianya itu adalah ditanggung dan diakui Amanah ya oleh suatu kejadian yang bernama :
Insan yang bertubuh diri bathin (Roh) dan diri bathin itulah diri manusia,atau Rohani.

FIRMAN ALLAH DALAM HADITS QUDSI ;
AL-INSAANU SIRRI WA-ANA SIRRUHU
Artinya : Manusia itu Rahasiaku dan akulah yang menjadi Rahasianya.
Jadi yang dinamakan manusia itu ialah : karena IA MENGANDUNG RAHASIA.
Dengan perkataan lain manusia itu mengandung Rahasia Allah.

Karena manusia menanggung Rahasia Allah maka manusia harus berusaha mengenal dirinya,dan dengan mengenal dirinya manusia akan dapat mengenal tuhannya,sehingga lebih mudah kembali menyerahkan dirinya kepada yang punya diri pada waktu dipanggil oleh Allah SWT.yaitu tatkala berpisah Roh dengan jasad.
Firman Allah dalam surat An-nisa ayat 58 SBB:
INNALLAHA YAK MARUKUM ANTU ABDUL AMANATI ILAAHLIHA.
Artinya :Sesunggunya Allah memerintahkan kamu supaya memulangkan amanah kepada yang berhak menerimanya. (Allah).
Hal tersebut diatas dipertegas lagi oleh Allah dalam Hadits Qudsi :
MAN ARAFA NAFSAHU,FAQAT ARAFA RABAHU.
Artinya : Barang siapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal tuhannya.

Dalam menawarkan tugas yang sangat berat ini,Pernah ditawarkan Rahasia-nya itu kepada Langit,Bumi dan Gunung-gunung tetapi semuanya tidak sanggup menerimanya.

Seperti firman Allah SWT. Dalam Al-Qur’an surat Al—Ahzab ayat 72.
INNA ‘ARAT NAL AMATA, ALAS SAMAWATI WAL ARDI WAL JIBAL FA ABAINA ANYAH MILNAHA WA AS FAKNA MINHA,WAHAMA LAHAL INSANNU.
Artinya : Sesungguhnya kami telah menawarkan suatu amanat kepada Langit,Bumi danGunung-gunung tetapi mereka enggan memikulnya dan merasa tidak akan sanggup, Lantas hanya manusia yang sanggup menerimanya.

Oleh karena amanat (Rahasia Allah) telah diterima,maka adalah menjadi tanggung jawab manusia untuk menunaikan janjinya.
Dengan kata lain tugas manusia adalah menjaga hubungannya dengan yang punya Rahasia.

Setelah amanat (Rahasia Allah) diterima oleh manusia (diri Bathin/Roh) untuk tujan inilah maka Adam dilahirkan untuk m,emperbanyak diri, diri penanggung Rahasia dan berkembang dari satu Dekade ke satu Dekade,diri satu generasi ke generasi yang lain sampai alam ini mengalami KIAMAT DAN RAHASIA DI KUMPUL KEMBALI.

INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAAJIUN.
Artinya : Kita berasal dari Allah, kembali kepada Allah.


PENGKAJIAN MA’RIFAT
Petunjuk mengerjakan sholat berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits
Syah shalat tergantung rukun shalat

Rukun Shalat ada 13 perkara :
Harus memenuhiketenyuan sebagai berikut :
I. Qalbi / Qalbu (Hati)
II. Qauli (ucapan/Bacaan)
III. Fikli (perbuatan)

Yang dikerjakan Qalbi / Qalbu (Hati) ada dua macam :
1. Niat Buka Hakekat.
2. Tertib Berurutan,tidak boleh dibolak-balik
    Pengertian Niat secara hakekat ialah :
Tetap yaitu Buka Hakeket,menghadirkan Qalbu.
Pengertian Tertib secara hakekat ialah : Berhadapan

Yang dikerjkan oleh Qauli ada 5 Yaitu :

1. Takbiratul ikhram (Allahu Akbar)
2. Membaca Alfateha
3. Membaca Tasyahud Akhir
4. Membaca Shalawat Nabi
5. Salam

Yang dikerjakan oleh Fikli ada 6 Yaitu :

1. Berdiri (bagi yang mampu
2. Ruku’
3. I’tidal
4. Sujud
5. Duduk diantara dua sujud/salam
6. Duduk pada tasyahud akhir

Urut-Urutan Rukun Solat sebagai berikut :

1. Niat Buka Hakekat
2. Berdiri (bagi yang mampu)
3. Takbiratul Ikhram (membaca Allahu Akbar)
    Allah = Asma’
    Akbar = Maha Besar
4. Membaca Al’fateha
5. Ruku’
6. I’tidal
7. Sujud
8. Duduk diantara dau sujud/salam
9. Duduk pada Tasyahud akhir
10. Membaca Tasyahud akhir
11. Membaca shalawat Nabi
12. Salam
13. Tertib
    Niat Dengan membaca usalli itu perbatan Ulama Muthahirin (Ulama sekarang) yang ada di Indonesia,dan tidak ada dasar hukumnya.Di Arab (Mekkah / Madinah) tidak dikenal kata Usalli.
Dan apabila usalli ini dilakukan berarti :
Berdiri dulu baru Niat, jelas hal ini melanggar Rukun Shalat karena tidak tertib. Jika Usalli ini merupakan Lafas Niat berarti menambah Rukun.
    Menurut Imam Syafi’I Awal shalat itu ialah Zikri.
Yang dimaksud Zikri ialah : Allau Akbar bukan Usalli
Dan pengertian Mazhab dalam Islam sebenarnya tidak ada.
Hal ini diperkuat oleh : DR. Muatofa Muhammad ASY. Syak’ah (seorang pakar Muslim).
Dalam bukunya : “ISLAM TIDAK BERMAHZAB”
PENERBIT : GEMA INSANI JAKARTA 1994.
Kesilpulan :
1. Syahnya shalat itu letaknya di Niat (hadirnya Qalbu / hati),Rukunnya benar (sesuai dengan Rukun)
2. Kunci Shalat di Takbiratul Ikhram yaitu menyatukan syariat,Tharekat,hakekat dan Ma’rifat habisnya di Allahu Akbar (Takbiratul Ikhram).
3. Kekuatan Shalat di Al’fateha
4. Tulang / tiangnya Shalat itu di Ilmu

Firman Allah :
“WAS TA’INU BIS SABRI WAS SHALATI WAINNAHU LAKABIRATUN ILLA ALAL HASIRIN,”
Artinya : Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu dan sesungguhnya yang demikian itu sangat berat kecuali bagi orang-orang yang khusuk.

(QS.AL-BAQARAH : 45).
Sehingga Nabi / Rasul bersabda :
‘ ASHALATU MIFTAHU KULLI HAIRIN “
Artinya : Shalat adalah kunci dari segala kebaikan.
Jadi bila ada orng shalat masih berbuat maksiat,berarti shalatnya perlu dipertanyakan !
Orang-orang seperti inilah dikategorikan perusak Islam,yaitu.
1. Melakukan sesuatu tanpa diketahuinya (tanpa dimengerti) maknanya.
2. Diketahuinya yang benar tapi tidak dikerjakannya.
3. Tidak diketuinya (tidak di mengerti) tapi tidak mau belajar dan bertanya.
4. Mencela orang yang berbuat baik (ibadah kepada Allah),orang berzikir atau shalat karena tidak sama dengan dia mlah difitnah padahalkan dia tidak punya ilmu alias tidak mengerti,tidak paham bagaimana caranya beribadah dengan benar sesuai Rukun.

Yang membatalkan shalat ada 12 Perkara :

1. Sengaja berbicara
2. Bergerak yang bukan gerakan shalat berturut-turut 3 kali.
3. Berhadats kecil atau besar
4. Terkena najis
5. Terbukanya Aurat dengan sengaja
6. Berubah Niat
7. Membelakangi Kiblat
8. Makan atau minum dengan sengaja walaupun sedikit
9. Tertawa terbahak-bahak
10. Murtad
11. Meninggalkan salah satu rukun dengan sengaja
12. Mendahului Imam sebanyak 2 Rukun

HAKEKAT RUKUN SEMBAHYANG (13 PERKARA) IALAH :
Mengandung makna hakekat sendi-sendi besar yang bergerak pada tubuh manusia, yaitu :
1. Sendi Tengkuk
2. Sendi bahu kanan
3. Sendi lengan kanan
4. Sendi tangan kanan
5. Sendi bahu kiri
6. Sendi lengan kiri
7. Sendi tangan kiri
8. Sendi paha kanan
9. Sendi paha kiri
10. Sendi lutut kanan
11. Sendi kaki kanan
12. Sendi kaki kiri
13. Sendi lutut kiri
Bergeraknya 13 sendi-sendi besar didalam tubuh,membuat badan menjadi sehat.

Niat senbayang dibagi empat :
1. Niat Basitah
2. Niat Tauzi’iyah
3. Niat Hurupiah
4. Niat Kamaliyah

2 Niat yang batal Tidak ada dasar hukumnya, hanya kesepakatan
Ulama.

1. Niat Basitah Artinya terhampar,mu7lai dari usalli lalu diartikan didalam hati.
2. Niat Tauzi’iyah ialah mengartikan dalam satu kalimat
Contoh : Usalli fardal juhri Arba’araka atin lillahi ta’ala
(tidak diartikan didalam hati 0.

2 Niat Yang Syah :
Niat hurupiah ialah :Menghandirkan zat shalat dulu sedikit sebelum takbiratl ikhram. Zat shalat ialah Qalbu atau hati.
Dasar hukumnya hadits Nabi
“LA SHALATAN ILLA BIHUDURIL QALBI”

Artinya : Tidak syah shalat kalau tidak hadir Qalbu / hatinya.
Niat Hurupiah ini ada 3 yaitu :
1. Dani yaitu Roh Tabi’i
2. Usto’ yaitu Roh ‘Idafi
3. Kasui yaitu Roh Rohani yang lebih tinggi dari Dani dan Usto’

2. Niat Kamalia yaitu :
Niat para Nabi / Wali artinya mulailah Niat yang syah itu dari huruf Alif Allah dan diakhiri dengan Allahu Akbar. Roh Rabbani.Alif Allah ialah Qalbu.
    Jadi berdasarkan Niat tersebut diatas yang shalat itu sebenarnya Roh kita,maka Niatnya juga harus Niat Roh yaitu Buka hakekat,Menyamakan alam.
Roh / nyawa berasal dari Allah,kembali kepada Allah
Badan / Jasad berasal dari tanah kembali ketanah.
Pertanyaannya : Bagaimana caranya buka hakekat ?
Belajar pada orang yang ahli dibidangnya,karena tidak bisa dijelaskan pada tulisan ini.

Dalil yang mendukung 2 Niat yang syah :
1. Awwaluddin Ma’rifatullah artinya : Awal agama mengenal Allah (Hadits Qudsi)
2. Layasul shalat illa bin ma’rifat artinya :Tidak syah shalat tanpa mengenal Allah (Hadits Qudsi)
3. La shalatan Bi Huduril Qalbi artinya :Tidak syah shalatnya kalau tidak hadir hatinya atau Qalbunya.(Hadits Qudsi)
4. W Qalbi Mu’minin Baitullah artinya : Jiwa (hati) orang Mu’min itu rumah Allah (Hadits Qudsi)
5. Wafi ampusikum afala tubsirun artinya : Aku ada didalam jiwamu (hatimu) mengapa kamu tidak melihat (QS.ZARIAT 21).
6. Man Arafa Nafsahu Faqad Arafa Rabbahu artinya : Barang siapa mengenal dirinya dia akan mengenal Tuhan-nya.(Hadits Qudsi)
7. Lat5ak budu Rabbana lam yarah artinya : Aku (Saidina Ali) tidak menyembah Allah bila aku tidak melihatnya. (Hadits Qudsi)
8. Wakulu man Birairi Ilmin Ya’malu akmaluhu Mardudatun Latak balu artinya : Setiap orang dengan tanpa ilmu dia beramal, maka amal-amalnya ditolak,tidak diterima (Hadits Qudsi)
9. Fas’alu ahlaz zikri inkuntum latak lamun artinya : Bertanyalah kepada orang mempunyai pengetahuan (ilmu) atau pada ahlinya jika kamu tidak mengerti/tidak mengetahui.(QS.AN-Nahl 43)
10. Dan seterusnya………banyak lagi dalil-dalil yang mendukung 2 Niat yang syah tersebut diatas.

Nabi Bersabda :
Bismillahirahman Nirrahim
“INNA AURAMA YANJURU MIN AKMALIHIS SHALAT PA’IN ZAJAT LAHU NUJIRA FISA IRI AKHMALIHI WAINLAM TAJUD LAHU YANJURU FISAI IN MIN AKHMALIHI BAKDA”
Artinya : Sesungguhnya yang mula-mula dilihat oleh Allah dari amal perbuatan dari anak manusia adalah shalatnya.
Apa bila shalatnya sempurna maka diterimalah shalatnya itu dengan amal-amal yang lain.
Jika shalatnya tidak sempurna maka ditolaklah shalatnya itu dengan amal-amal yang lain. (HR,Al-Hakim).
“YAKTI ALANNAASI ZAMANU YUSALLUUNA WAYA TUSALLUUN “
Artinya : Akan datang kepada manusia suatu zaman ,banyak yang shalat padahal sebenarnya mereka tidak Shalat (HR.Ahmad).
PAWAILUL LIL MUSALLIN……..Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat.
ALLAZINAHUM AN SHALATIHIM SAHUN

…….(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. (QS>Al-Maun 4,5)

QAD AFLAHA MAN TAJAKKA, WAJA KARAS MARABBIHI FASHALLAH

Artinya :Sesungguhnya berbahagialah orang-orang yang selalu mensucikan dirinya (jiwanya).
Dan ia ingat nama Tuhannya lalu ia shalat.(AL-A’LQA 14,15).

MANUSIA
    Tatkala manusia dilahirkan kedunia, Bayi itu menangis dan tangisan tersebut mengandung makna sebagai berikut :
1. Tangisan pertama manusia itu merasa berat bebannya karena harus menanggung Rahasia Allah (Nyawa/ Roh).
2. Tangisan kedua manusia merasa gembira karena telah dilahirkan kedunia dan menjadi mahluk yang termulia.
    Bayi yang berumur satu hari membawa kalimah pikun ( ) dan ketika Bayi mulai ketawa Ahmad Namanya.
Kemudian masa genggaman tangan mulai terbuka Muhammad Namanya ( ) sampai akil Baliqh,namanyamuhammad
Dan pada masa akil Baliqh inilah segala perintah Allah wajib baginya.
Manusia atau Insan terdiri dari :
1. Jasmani atau Jasad Kasar
2. Rohani atau Jasad Halus
    Jasmani atau Jasad kasar ini dinamakan Muhammad.
Sedangkan Rohani atau Jasad Halus dinamakan diri Bhatin atau Roh atau diri Rahasia Allah.
Tanpa diri bhatin atau Roh manusia itu disebut mayat.
    Jadi yang dinamakan manusia itu karena dia menanggung Rahasia Allah (nyawa/Roh).
Karena manusia menanggung Rahasia Allah (diri Bhatin/Nyawa/Roh)maka manusia harusberusaha mengenal dirinya yaitu diri yang sebenar-benarnya diri dan dengan mengenal dirinya manusia akan mengenal Tuhannya,Sehingga lebih mudah kembali menyerahkan dirinya kepada yang punya diri pada waktu dipanggil oleh Allah SWT yaitu tatkala berpisah antara Roh/Nyawa dengan Jasadnya.
Manusia akan berguna disisi Allah jika ia dapat menjaga Rahasia Allah (Nyawa/Roh) yaitu diri yang sebenar-benarnya diri.
    Sehingga sembahyang itu bukan berarti menyembah,tapi suatu istiadat penyaksian diri sendiri dan sesungguhnya tiada diri kita tiu hany6alah diri Allah semata .
Kita menyaksikan bahwa diri kitalah yang membawa dan menanggung Rahasia Allah SWT.dan tiada sesuatu pada diri kita hanya Rahasia Allah semata,serta tiada sesuatu yang kita punya kecuali Hak Allah semata.
Fiaman Allah Dalam Al-Qur’an Surat AL-AHZAB 72
“INNA ‘ARADNAL AMANATA ‘ALAS SAMAWATI WAL ARDI WAL JIBAL. FA ABAINA ANYAH MIL NAHA WA’ASFAKNA MINHA WAHAMALAHAL INSANU”
Artinya : “Sesungguhnya kami (Allah) lelah menawarkan suatu amanat kepada langit, Bumi, dan Gunung-gunung tapi mereka enggan menerimanya (Memikulnya) karena merasa tidak akan sanggup, lantas hanya manusia yang sanggup menerimanya”.
    Dan karena Firman Allah inilah kita mengucap
“ASHADU ALLAA ILAA HA ILALLAH, WA ASHADU ANNA MUHAMMAD DARRASULULLAH”.
Artinya :Kita bersaksi dengan diri kita sendiri,bahwa tiada yang nyata pada diri kita hanya Allah SWT. Semata, dan tubuh zahir kita (Muhammad) sebagai tempat menangggung Rahasia Allah.

ALLAHUMMA SHALLI ‘ALA SYAIDINA MUHAMMAD WA’ALA ALI SYIDINA MUHAMMAD. KAMA SALAITA ‘ALA SYAIDINA IBRAHIM,WA’ALA SYAIDINA IBRAHIM,WABARIK ‘ALA SYAIDINA MUHAMMAD,WA’ALA SYAIDINA MUHAMMAD,KAMA BARAKTA ‘ALA SYAIDINA IBRAHIM,WA’ALA SYAIDINA IBRAHIM.FIL ALAMIN INNAKA HAMIDUN MAJID.
Dasar Hukumnya.
AL-QUR’AN Surat AL-ZARIYAT 21.
WA FII ANFUSIKUM AFA LAA TUBSHIRUUN.

Artinya : “Aku (Allah) ada pada dirimu (Jiwamu) mengapa kamu tidak memperhatikan.(tidak melihat).
WALIL LAHIL ASMA’UL HUSNA FAD ‘UHU BIHA.
Artinya : “Hanya milik Allah Asma’ul Husna,maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma’ul Husna itu (QS.AL-ARAF 180).

INNAMA YATAZAK KARU ULUL-ALBAB

Artinya : “ Hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran ini.
(QS.AR-RADU 19).

ALLAZINA YUFUNA BI’AHDILLAHI WALA YAN QUDUNAL MISAQ

Artinya : “(yaitu) orang-orang yang memenuhi janji.(QS.AR-RADU 20).

Selasa, 22 Januari 2013

> PERBEDAAN SYARIAT, THORIQOH, HAQIQAH DAN MA’RIFAT

oleh : Ust. Umar Bin Sholeh AlHamid

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar istilah-istilah agama yang kadang-kadang pengertian masyarakat masih rancu, istilah tersebut antara lain :
Syariat  Thariqah Haqiqah Ma’rifah
1. Syariat :
Adalah hukum Islam yaitu Al qur’an dan sunnah Nabawiyah / Al Hadist yang merupakan sumber acuan utama dalam semua produk hukum dalam Islam, yang selanjutnya menjadi Madzhab-madzhab ilmu Fiqih, Aqidah dan berbagai disiplin ilmu dalam Islam yang dikembangkan oleh para ulama dengan memperhatikan atsar para shahabat ijma’ dan kiyas. Dalam hasanah ilmu keislaman terdapat 62 madzhab fiqh yang dinyatakanmu’tabar (Shahih dan bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya) oleh para ulama. Sedangkan dalam hasanah ilmu Tuhid (keimanan), juga dikenal dengan ilmu kalam. Ahirnya ummat Islam terpecah menjadi 73 golongan / firqah dalam konsep keyakinan. Perbedaan ini terdiri dari perbedaan tentang konsep konsep, baik menyangkut keyakinan tentang Allah SWT, para malaikat, kitab kitab Allah, para Nabi dan Rasul, Hari Qiamat dan Taqdir.
Namun dalam masalah keimanan berbeda dengan Fiqih. Dalam Fiqh masih ada toleransi atas perbedaan selama perbedaan tersebut tetap merujuk pada Al Qur’an dan Sunnah, dan sudah teruji kebenarannya serta diakui kemu’tabarannya oleh para ulama yang kompeten. Akan tetapi dalam konsep keimanan, dari 73 golongan yang ada, hanya satu golongan yang benar dan menjadi calon penghuni surga, yaitu golongan yang konsisten / istiqamah berada dibawah panji Tauhidnya Rasulullah SWA dan Khulafa Ar Rasyidiin Al Mahdiyyin yang selanjutnya dikenal dengan Ahlu As Sunnah wal Jamaah. Sedangkan firqah / golongan lainnya dinyatakan sesat dan kafir. Jika tidak bertaubat maka mereka terancam masuk dalam neraka. Na’udzubillah.
2. Thariqah :
Adalah jalan / cara / metode implementasi syariat. Yaitu cara / metode yang ditempuh oleh seseorang dalam menjalankan Syariat Islam, sebagai upaya pendekatannya kepada Allah Swt. Jadi orang yang berthariqah adalah orang yang melaksanakan hukum Syariat, lebih jelasnya Syariah itu hukum dan Thariqah itu prakteknya / pelaksanaan dari hukum itu sendiri.
Thariqah ada 2(dua) macam :
Thariqah ‘Aam : adalah melaksanakan hukum Islam sebagaimana masyarakat pada umumnya, yaitu melaksanakan semua perintah, menjauhi semua larangan agama Islam dan anjuran anjuran sunnah serta berbagai ketentuan hukum lainnya sebatas pengetahuan dan kemampuannya tanpa ada bimbingan khusus dari guru / mursyid / muqaddam.
Thariqah Khas : Yaitu melaksanakan hukum Syariat Islam melalui bimbingan lahir dan batin dari seorang guru / Syeikh / Mursyid / Muqaddam. Bimbingan lahir dengan menjelaskan secara intensif tentang hukum-hukum Islam dan cara pelaksanaan yang benar. Sedangkan bimbingan batin adalah tarbiyah rohani dari sang guru / Syeikh / Mursyid / Muqaddam dengan izin bai’at khusus yang sanadnya sambung sampai pada Baginda Nabi, Rasulullah Saw. Thariqah Khas ini lebih dikenal dengan nama Thariqah as Sufiyah / Thariqah al Auliya’.Thariqah Sufiyah yang mempunyai izin dan sanad langsung dan sampai pada Rasulullah itu berjumlah 360 Thariqah. Dalam riwayat lain mengatakan 313 thariqah. Sedang yang masuk ke Indonesia dan direkomendasikan oleh Nahdlatul Ulama’ berjumlah 44 Thariqah, dikenal dengan Thariqah Al Mu’tabaroh An Nahdliyah dengan wadah organisasi yang bernama Jam’iyah Ahlu Al Thariqah Al Mu’tabarah Al Nahdliyah.
Dalam kitab Mizan Al Qubra yang dikarang oleh Imam Asy Sya’rany ada sebuah hadits yang menyatakan :
ان شريعتي جا ئت على ثلاثما ئة وستين طريقة ما سلك احد طريقة منها الا نجا .(ميزان الكبرى للامام الشعرني : 1 / 30)
“Sesungguhnya syariatku datang dengan membawa 360 thariqah (metoda pendekatan pada Allah), siapapun yang menempuh salah satunya pasti selamat”. (Mizan Al Qubra: 1 / 30 )
Dalam riwayat hadits yang lain dinyakan bahwa :
ان شريعتي جائت على ثلاثمائة وثلاث عشرة طريقة لا تلقى العبد بها ربنا الا دخل الجنة ( رواه الطبرني )
“Sesungguhnya syariatku datang membawa 313 thariqah (metode pendekatan pada Allah), tiap hamba yang menemui (mendekatkan diri pada) Tuhan dengan salah satunya pasti masuk surga”. (HR. Thabrani)
Terlepas dari perbedaan redaksi dan jumlah thariqah pada kedua riwayat hadits diatas, mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus percaya akan adanya thariqah sebagaimana direkomendasi oleh hadits tersebut. Kalau tidak percaya berarti tidak percaya dengan salah satu hadits Nabi SAW yang Al Amiin (terpercaya dan tidak pernah bohong). Lalu bagaimana hukumnya tidak percaya pada Hadits Nabi yang shahiih?
Dari semua thariqah sufiyah yang ada dalam Islam, pada perinsip pengamalannya terbagi menjadi dua macam. Yaitu thariqah mujahadah dan Thariqah Mahabbah. Thariqah mujahadah adalah thariqah / mitode pendekatan kepada Allah SWT dengan mengandalkan kesungguhan dalam beribadah, sehingga melalui kesungguhan beribadah tersebut diharapkan secara bertahap seorang hamba akan mampu menapaki jenjang demi jenjang martabah (maqamat) untuk mencapai derajat kedekatan disisi Allah SWT dengan sedekat dekatnya. Sebagian besar thariqah yang ada adalah thariqah mujahadah.
Sedangkan thariqah mahabbah adalah thariqah yang mengandalkan rasa syukur dan cinta, bukan banyaknya amalan yang menjadi kewajiban utama. Dalam perjalanannya menuju hadirat Allah SWT seorang hamba memperbanyak ibadah atas dasar cinta dan syukur akan limpahan rahmat dan nikmat Allah SWT, tidak ada target maqamat dalam mengamalkan kewajiban dan berbagai amalan sunnah dalam hal ini. Tapi dengan melaksanakan ibadah secara ikhlash tanpa memikirkan pahala, baik pahala dunia maupun pahala ahirat , kerinduan si hamba yang penuh cinta pada Al Khaliq akan terobati. Yang terpenting dalam thariqah mahabbah bukan kedudukan / jabatan disisi Allah. tapi menjadi kekasih yang cinta dan dicintai oleh Allah SWT. Habibullah adalah kedudukan Nabi kita Muhammad SAW. (Adam shafiyullah, Ibrahim Khalilullah, Musa Kalimullah, Isa Ruhullah sedangkan Nabi Muhammad SAW Habibullah). Satu satunya thariqah yang menggunakan mitode mahabbah adalah Thariqah At Tijany.
Nama-nama thariqah yang masuk ke Indonesia dan telah diteliti oleh para Ulama NU yang tergabung dalam Jam’iyyah Ahluth Thariqah Al Mu’tabarah Al Nahdliyah dan dinyatakan Mu’ tabar (benar – sanadnya sambung sampai pada Baginda Rasulullah SAW), antara lain :
1. Umariyah                                       23. Usysyaqiyyah
2. Naqsyabandiyah                           24. Bakriyah
3. Qadiriyah                                       25. Idrusiyah
4. Syadziliyah                                     26. Utsmaniyah
5. Rifaiyah                                          27. ‘Alawiyah
6. Ahmadiyah                                     28. Abbasiyah
7. Dasuqiyah                                      29. Zainiyah
8. Akbariyah                                      30. Isawiyah
9. Maulawiyah                                   31. Buhuriyyah
10. Kubrawiyyah                               32. Haddadiyah
11. Sahrowardiyah                           33. Ghaibiyyah
12. Khalwatiyah                                 34. Khodiriyah
13. Jalwatiyah                                    35. Syathariyah
14. Bakdasiyah                                  36. Bayumiyyah
15. Ghazaliyah                                   37. Malamiyyah
16. Rumiyah                                       38. Uwaisiyyah
17. Sa’diyah                                       39. Idrisiyah
18. Jusfiyyah                                      40. Akabirul Auliya’
19. Sa’baniyyah                                 41. Subbuliyyah
20. Kalsaniyyah                                 42. Matbuliyyah
21. Hamzaniyyah                               43. TIJANIYAH
22. Bairumiyah                                  44. Sammaniyah.
3. Haqiqah
Yaitu sampainya seseorang yang mendekatkan diri kepada Allah Swt. di depan pintu gerbang kota tujuan, yaitu tersingkapnya hijab-hijab pada pandangan hati seorang salik (hamba yang mengadakan pengembaraan batin) sehigga dia mengerti dan menyadari sepenuhnya Hakekat dirinya selaku seorang hamba didepan TuhanNya selaku Al Kholiq Swt. bertolak dari kesadaran inilah, ibadah seorang hamba pada lefel ini menjadi berbeda dengan ibadah orang kebanyakan. Kebanyakan manusia beribadah bukan karena Allah SWT, tapi justru karena adanya target target hajat duniawi yang ingin mereka dapatkan, ada juga yang lebih baik sedikit niatnya, yaitu mereka yang mempunyai target hajat hajat ukhrawi (pahala akhirat) dengan kesenangan surgawi yang kekal.
Sedangkan golongan Muhaqqiqqiin tidak seperti itu, mereka beribadah dengan niat semata mata karena Allah SWT, sebagai hamba yang baik mereka senantiasa menservis majikan / tuannya dengan sepenuh hati dan kemampuan, tanpa ada harapan akan gaji / pahala. Yang terpenting baginya adalah ampunan dan keridhaan Tuhannya semata. Jadi tujuan mereka adalah Allah SWT bukan benda benda dunia termasuk surga sebagaimana tujuan ibadah orang kebanyakan tersebut diatas.
4. Ma’rifah
Adalah tujuan akhir seorang hamba yang mendekatkan diri kepada Allah Swt. (salik) Yaitu masuknya seorang salik kedalam istana suci kerajaan Allah Swt. ( wusul ilallah Swt). sehingga dia benar benar mengetahui dengan pengetahuan langsung dari Allah SWT. baik tentang Tuhannya dengan segala keagungan Asma’Nya, Sifat sifat, Af’al serta DzatNya. Juga segala rahasia penciptaan mahluk diseantero jagad raya ini. Para ‘Arifiin ini tujuan dan cita cita ibadahnya jauh lebih tinggi lagi, Mereka bukan hanya ingin Allah SWT dengan Ampunan dan keridhaanNYa, tapi lebih jauh mereka menginginkan kedudukan yang terdekat dengan Al Khaliq, yaitu sebagai hamba hamba yang cinta dan dicintai oleh Allah SWT.
(syariah dan Thariqah) kita bisa mempelajari teori dan praktek secara langsung, baik melalui membaca kitab-kitab / buku-buku maupun melalui pelajaran-pelajaran (ta’lim) dan pendidikan (Tarbiyah) bagi ilmu Thariqah. Sedangkan Haqiqah dan ma’rifah pada prinsipnya tidak bisa dipelajarisebagai mana Syariah dan Thariqah karena sudah menyangkut Dzauqiyah.
Haqiqah dan ma’rifah lebih tepatnya merupakan buah / hasil dari perjuangan panjang seorang hamba yang dengan konsisten (istiqamah) mempelajari dan menggali kandungan syariah dan mengamalkanya dengan ikhlash semata mata karena ingin mendapatkan ridha dan ampunan serta cinta Allah SWT.
Perumpamaan yang agak dekat dengan masalah ini adalah : ibarat satu jenis makanan atau minuman ( misalnya nasi rawon ). Resep masakan nasi rawon yang menjelaskan bahan bahan dan cara membuat nasi rawon itu sama dengan Syariah. Bimbingan praktek memasak nasi rawon itu sama dengan Thariqah. Resep dan praktek masak nasi rawon ini bisa melalui buku dan mempraktekkan sendiri (ini thariqah ‘am ) sedangkan resep dan praktek serta bimbingan masak nasi rawon dengan cara kursus pada juru masak yang ahli (itu namanya Thariqah khusus). Makan nasi rawon dan menjelaskan rasa / enaknya ini sudah haqiqah dan tidak ada buku panduannya, demikian juga makan nasi rawon dan mengetahuisecara detail rasa, aroma, kelebihan dan kekurangannya itu namanya ma’rifah.

Minggu, 20 Januari 2013

> Ma’rifatullah Wajib Hukumnya


* Ma’rifatullah atau “mengenal Allah”
   Wajib hukumnya bagi setiap mukmin
   Setiap insan harus mengenal Sang Pencipta
   Harus mengenal siapa dirinya dan siapa Dia
   Bagi insan yang tidak mengenal Tuhannya
   Ibarat ternak tidak mengenal pemiliknya

* Dalam sebuah hadits Qudsi Allah berfirman :
   ”Kuntu khozinatan khofiyatan, ahbabtu an u’rifa,
   Kholaqtul kholqa, fa ta’araftu ilaihim, fa’arofuni.”
   Aku ( Allah ) perbendaharaan yang tersembunyi
   Aku menghendaki untuk dikenal
   Aku menciptakan makhluk, maka
   Aku memperkenalkan diriku kepada mereka
   Maka mereka mengenal Aku

* Mengenal Allah merupakan rukun iman pertama,
   Rukun iman yang paling tinggi kedudukannya.
   Bila ingin menjadi mukmin yang sejati,
   Ma’rifatullah harus dikaji dan dimiliki.

* Mengenal Allah adalah pondasi agama
   Adalah jalan menuju Allah Ta’ala
   Adalah tujuan dalam hidup manusia
   Maka ma’rifatullah ( mengenal Allah ) adalah :
   Titik awal dan titik akhir bagi insan beragama
   Beragama ( Islam ) tanpa mengenal Robbnya
   Ibarat berlayar tak tahu hendak kemana
   Ibarat berkelana tak tahu sekarang dimana
   Ibarat merantau tak tahu mencari siapa

* Maka ma’rifatullah itu wajib hukumnya
   Setiap insan harus mengenal Penciptanya,
   Sumber dan muara dari segala yang ada,
   Sumber dan muara terjadinya alam semesta.
   Sebagian mukmin berusaha mengenalnya dengan patuh
   Namun, sebagian besar yang lain acuh tak acuh.
Firman Allah :
” Allah menganugerahkan al – hikmah (termasuk ma’rifatullah) kepada siapa yang Dia kehendaki.
Dan barangsiapa dianugerahi al – hikmah itu, ia benar – benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang – orang yang berakal.” (QS.Al-Baqarah : 269)

Menempuh jalan Ma’rifat.

Setiap mu’min harus ma’rifatullah,
Harus mengenal Allah, pencipta dirinya
Yang mencipta insan dari tiada menjadi ada,
Yang semula dari air yang hina dina
Menjadi makhluk mulia yang bernama manusia.
Sungguh tak layak bila insan buta,
Terhadap Al-Khalik pencipta semesta,
Sumber dan muara keberadaan manusia.

Ma'rifatullah bukan monopoli kaum sufi,
Bukan monopoli aulia’ atau para wali,
Bukan monopoli ulama dan kyai,
Bukan monopoli ustadz dan para santri.
Setiap mukmin harus mengenal Robbnya,
Mengenal sesembahan yang dipujanya,
Agar imannya menjadi teguh sentausa,
Agar ibadah nya menjadi lurus sempurna.

Seorang mukmin yang tidak mengenal Allah,
Ibarat cermin kusam tak memantulkan wajah,
Ia tidak tahu siapa Al-Khalik yang disembah.
Ia tidak paham sifat Ar-Rahman Maha Pemurah.
Bila kalbunya hitam kelam tiada hidayah,
Dalam ibadah bisa-bisa salah arah.

Hanya orang mukmin yang dapat mengenal Allah
Orang kafir karena ingkar dan tidak percaya,
Ia tidak mengenal dan tidak membutuhkan Allah.
Orang musyrik karena mendua-tigakan tuhan.
Ia tidak mengenal mana yang sebenar-benar Allah.
Orang munafik karena zhahir dan batinya tak sama,
Maka kuburlah pengenalanya kepada Allah.

Pada hakekatnya tiada yang mengenal Allah
Kecuali hanya Allah sendiri.
Pengenalan kepada Allah merupakan rahmat
Yang dilimpahkan kepada seluruh umat.
Setiap manusia seharusnya menuju kesana,
Menuju keharibaan Allah,
Menuju ke persada Allah,
Menuju ke ma’rifatullah.

Untuk mengenal Allah harus menempuh Jalan ma’rifat.
Yakni jalan untuk meyakini eksistensi Allah,
 Jalan untuk menghayati kebesaran Allah
Jalan untuk mengamalkan ajaran Allah,
Jalan untuk mengabdi kepada Allah.
Itu bila ingin menjadi makhluk mulia.
Makhluk terpuji sesuai dengan fitrahnya.