Selasa, 12 Maret 2013

> Dzikir Tauhid

Assalamu’alaikum wr,wb…..santri KWA yang kami Mulyakan, tulisan berikut ini adalah refleksi dari pembicaraan kami dengan Sesepuh Mbah Abdul Jabbar saat beliau berada di Palembang. Dimana pada malam jum’at 27/01/2011 kemaren kami berkumpul bersama di penginapan beliau- bersama beberapa teman dari KWA Palembang. Kehadiran beliau yang mendadak itu, tidaklah kami sia-siakan. Kami sadar, sebagai kaum muda- tentu sudah selayaknya menimba dan menambah ilmu dari sesepuh yang sudah menguasai keilmuannya dengan baik. Dari hasil bicang-bincang itulah terbersit pemikiran sederhana ini. Dan hal itu tidak lain untuk menambah wacana kepada diri kita akan konsep menjadi manusia yang berilmu, berakhlak dan beramal. Sudah tentu ini adalah pertempuran paling dahsyat yang akan kita alami. Pertempuran abadi antara Kebaikan dan keburukan.
Kami kutipkan disini Kalam Al-Habib Muhammad bin Abdullah bin Syech Al-Idrus, beliau mengatakan :
“ Seseorang yang cerdas dan berpikiran sehat adalah yang mengelola ( Me-manage ) amal-amalnya sehingga semua kegiatan mereka menjadi sempurna.Langkah awal yang harus diperhatikan oleh seorang hamba dalam bersuluk adalah menyucikan dan mendidik nafsu dan menyempurnakan akhlak.Ketahuilah…keadaan hati yang paling mulia adalah ketika ia selalu berhubungan dengan Allah SWT.Inilah landasan amal dan sumber perbuatan-perbuatan yang baik. Cara memakmurkan batin adalah dengan selalu menghubungkan sir ( nurani ) dengan Allah SWT, sedangkan cara merusaknya adalah dengan selalu melalaikan-NYA.Jika hati seseorang telah memiliki hubungan yang kuat dengan Allah SWT , ia dengan mudah dapat melakukan berbagai amal dan ketaatan yang bisa mendekatkannya kepada Allah. Ketahuilah…bahwa hati itu bagai cermin, memantulkan bayangan dari semua yang ada dihadapannya.Karena itu manusia harus menjaga hatinya, sebagaimana ia menjaga kedua bola matanya. Seseorang pencari kebenaran hendaknya memperhatikan segala sesuatu yang dapat memperbaiki hatinya. Untuk memperbaiki hati diperlukan beberapa metode, diantaranya adalah dengan selalu mengolah fikir ( pemikiran ) untuk membuahkan hikmah dan asror, banyak berdzikir dengan hati dan lisan juga menjaga penampilan lahiriah : pakaian, makanan, ucapan, serta semua perilaku lahiriah yang memberikan pengaruh nyata bagi hati.”
Selanjutnya secara garis besar untuk menjadi seseorang yang selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah adalah sebagai berikut :
Taubat
Thoharoh
Sholat
Mengisi diri dengan mempelajari ilmu tentang Islam :
Berupa pendalaman pengetahuan Agama, Ilmu, Amal, Akal, Adab, dan Jihad
Tauhid
Dzikir
Ma’rifat
Metode Dzikir yang di ajarkan oleh para Mursyid pun beragam. Diantaranya seperti yang kami tuliskan dibawah ini. Maka jika Engkau menginginkan hal itu bagi dirimu, carilah dan ambillah metode dzikir yang sekiranya mudah untuk kau amalkan dan di dawamkan. Jika itu sudah kau dapatkan, maka ikatlah dia dengan kesungguhan dan ke ikhlasan hatimu dalam berthoriqoh menuju Ridho Allah SWT.
Inilah Dzikir Tauhid yang di Ijazahkan oleh :
Syaikhina wa mursyidina Pangeran Muhammad KH. Ali Umar Toyyib Al-Palembani. Palembang Darussalam.
Dimulai dengan membaca tawasul
Alfatehah bil-Qobuuli wa tamaami kulli suulin wa ma’muulin wa sholaahis-sya’ni dhohiron wa bathinan dafi’atan likulli syarrin jaalibatan likulli khoirin was-sholahi was-suruuri wa ilaa hadrotir rasuuli Sayyidina Muhammadin Sholallahu ‘alaihi wa sallama.Bisirril al-fatehah.7x
Asyhaduan laa ilaha illallah wa asyhaduanna muhammadan rasulullah. 7x
Astaghfirullahal adziim. 7x
Allahumma sholli ‘alaa sayyidina muhammadin nuridz-dzaati was-sirri saari fi saa-iril asmaa-i wash-shifaati wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallim.7x
Fakasyafna ‘anka ghithoo-aka fabashurkal yauma haddid.7x
Lahaula walaa quwwata illa billah.7x
Bismillahi…( Allahu Akbar.3x Senafas) Tawasaltu Bi Sayyidi Wa Habibi Wa Syafii’i Rasulillah Muhammad Ibni Abdullah Sholallahu ‘Alaihi Wa Sallama Wa Sayyidil Imami Masyriq Wal Maghrib Asadullahil Gholib Sayyidina Ali Bin Abi Tholib Karamallahu Wajhahu Wa Tilmidzihi Dzul-Iman Laqobuhu Kian Santang, Wal Habib Abdullah Bin Abdul Qodir Bil-Faqih, wal Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bil-Faqih,Wal Habib Alwi Bin Ahmad Bahsin.
Allahumma iyyakana’budu wa iyyaka nasta’iin…….( Niatkan disini hajatmu)…7x
Ihfazhna wa salimna min syarril kholqi ajma’iin.7x
Bihaqqi…. :
Dzikril lisan : Laa ilaha illallah. 165x
Setelah genap jumlah tersebut,sambung dengan ucapan : Muhammadur rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam.
Dzikir Lathifah Qolbi ( Allah…Allah ) Ismu Dzat :
( Qolbi ) 2 jari dibawah susu kiri : 5000 x
( Ruh ) 2 jari dibawah susu kanan : 1000 x
( Sirri ) 2 jari di atas susu kiri : 1000 x
( Khofi ) 2 jari diatas susu kanan : 1000 x
( Akhfa ) ditengah-tengah dada : 1000 x
( Nathiqoh ) ditengah-tengah 2 alis : 1000 x
( Kullu Jasad ) seluruh tubuh : 1000 x
Selanjutnya hidupkan dzikir nafasnya selama kurang lebih 30 menit sambil munajat
Caranya :
Tarik nafas dari bawah pusat sampai ke ubun-ubun, baca :HUU
Turun nafas dari ubun-ubun kebawah susu kanan 2 jari, baca :ALLAH ( sambil munajat kepada Allah )
Sholawat Nuur:
Allahumma sholli ‘ala nuril anwar, wa sirril asror,wa tiryaqil aghyaar, Wa miftahii baabil yasaar, sayyidina muhammadinil mukhtar wa alihil ath-har,wa ashabihil akhyaar, ‘adada ni’amillahi wa ifdhooli. 500 x
( Catatan : Jumlah itu bisa dikurangi semasa awal memulai / belajar )
Dzikir berikut inipun adalah warisan dari Al-Maghfurlah KH.Ali Umar Toyyib yang sangat baik untuk didawamkan / istiqomah. Mengenai dzikir ini terdapat riwayat yang berasal dari Sayyidina Qodhi Abdullah Al-Baghdadi. Beliau bercerita demikian :
“ Saya bermimpi bertemu dengan Nabi SAW, sedangkan wajah beliau pucat karena sedih. Lalu saya bertanya kepada Beliau,” Apakah gerangan penyebab pucatnya wajah paduka ?” Nabi SAW menjawab,” Malam ini ada 1.500 orang dari umatku meninggal dunia. Hanya dua orang dari mereka yang membawa iman sedangkan yang lainnya meninggal su’ul khotimah.!” Kemudian saya bertanya lagi kepada beliau,” Wahai Rasulullah, apakah yang harus dilakukan supaya para pelaku ma’siat dimuka bumi ini meninggal membawa Iman ?” Nabi SAW menjawab,” Ambillah lembaran ini ( dzikir Jalalah ) dan bacalah apa yang tertulis didalamnya. Barang siapa membaca dan membawa serta menyebar luaskannya maka dia termasuk golongan saya dan apabila dia meninggal dunia, maka meninggalnya dengan membawa Iman.”
Inilah redaksi dzikir yang didapat Sayyidina Qodhi Abdullah Al-Baghdadi dari lembaran yang diberikan Rasulullah kepada beliau.
Bismillahir rahmaanir rahiim.
Laa ilaha ilallahul maujuudu fii kulli zamaan. Laa ilaha ilallahul ma’buudu fii kulli makaan.
Laa ilaha ilallahul madzkuru bikulli lisaan. Laa ilaha ilallahul ma’ruufu bil-ihsaan.
Laa ilaha ilallahu kulli yaumiin Huwa fii sya’nin. Laa ilaha ilallahu al-amaan al-amaan.
Min zawalil iimaan wamin fitnatis-syaithoon, Yaa Qodimal ihsaan kam laka ‘alaina min ihsaan. Ihsaanukal qodiim. Yaa hannan Yaa mannaanu Yaa Rohiimu Yaa Rohmaanu Yaa Ghofuuru Yaa Ghoffaru ighfirlanaa warhamnaa wa anta khoirur rohimiin. Wa sholallahu ta’alaa ‘alaa Sayyidina Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shohbihi wa sallama, walhamdulillahi robbil ‘alamiin. Bisirril al-fatehah…
Maka demikianlah kami meletakkan PONDASI IMAN untukmu. Ambil dan pelajari untuk dirimu, dan berniatlah sebagaimana para salafush sholeh berniat. Maka niat itu akan bersambung menjadi mata rantai sampai kepada Rasulullah SAW. Dan berbahagialah bagi mereka yang disebut namanya oleh Beliau SAW didalam majelis Agung, dimana didalamnya adalah para Quthub dan Aulia Allah Subhanahu wa ta’alaa. Jika itu terjadi, kami memohon kepadamu dengan sangat “ SERTAKANLAH KAMI DIDALAM SETIAP DOAMU DAN MASUKKANLAH KAMI DIANTARA DAFTAR NAMA MEREKA YANG KAU KASIHI !”
Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika terjadi kesalahan translet bahasa. Barakalloh…jazakumullah bi ahsanil jaza.
=== Selesai Dzikir Tauhid ===

Senin, 11 Maret 2013

> MACAM - MACAM ROH DAN KEJADIAN NYA

MACAM ROH DAN KEJADIAN NYA

oleh alifbraja BAB1
MACAM MACAM - ROH

 
1. ROH ROBANI
Yaitu Roh yang mengikat antara jasad dan Diri Bathin manusia ( Nafsani ) , sehingga dapat mendatangkan kekuasaan manusia atau dalam kata lain ikatan rasa antara Alloh dengan Hambanya. Roh robani adalah sebuah alat atau sarana dan juga kendaraan bagi Diri bathin didunia ini, agar alat tersebut dapat digunakan dengan sebaik-baiknya untuk kembali kepada Alloh.
2. ROH NURANI
Yaitu Pancaran sinar / cahaya Roh Robani yang menerangi bangsa ruhani, sehingga ia akan dilimpahi sebuah ilmu pengetahuan semisal ilmu ladunni.
3. ROH ROHANI
Yaitu Nyawa atau jiwanya manusia. Roh inilah yang harus punya baju / kendaraan bila baju kemanusiaan telah fana. Maka peranan Talqin dzikir yang ditanam oleh seorang Mursyid adalah sebagai pengganti kendaraan / baju bagi Roh Rohani agar ia bisa dihantarkan menuju ke Ilahi Robbi. Baju/kendaraan kita adalah ” Laa Ilaaha illalloh ” itulah kendaraan kita, tidak ada yang lain kecuali Laa ilaaha illalloh.
4. ROH ROHMANI ( Sifat Sosial )
Yaitu Roh yang menghasilkan rasa pada jiwa manusia, Roh ini selalu bergetar bila mendapatkan sesuatu diluar tubuhnya, misal bila si A mendapatkan musibah maka Roh Rohmani-lah yang bergetar sehingga Si A akan merasakan sedih. Tanda Roh Rohmani telah mati adalah bila kita tidak merasakan apa-apa disekitar kita bila ada musibah. Tanda matinya Roh Rohmani bisa kita lihat pada diri Sang pembunuh sadis, ibu yang membunuh anaknya yg baru ahir dan lain-lainnya.
5. ROH JASMANI
Yaitu rasa jiwa yang melekat pada panca indra jasmani, sehingga kita bisa merasakan apa-apa yang ada disekitar kita.
6. ROH HEWANI
Yaitu Rasa jiwa dari sifat bangsa binatang
7. ROH NABATI
Yaitu bangsa Roh yang tidak mempunyai gerak rasa (HIDUPNYA ke-ADAM-an) misal : rambut, kuku
 
BAB 2
WUJUD DAN TABIAT BANGSA ROH

7. ROH NABATI
Yaitu pada waktu pertama lahir si Jabang bayi kedunia ini, si Jabang bayi tidak mempunyai sifat kemauan apa-apa dan tidak berdaya. Itulah bentuk dan wujud bangsa Roh Nabati

6. ROH HEWANI
Ketika si Bayi ini sudah mulai sedikit besar, maka ia mulai belajar membrangkang (merangkak), tetapi belum mempunyai sifat kepandaian (kepinteran). Itulah bentuk dan wujudnya bangsa roh Hewani

5. ROH JASMANI
Yaitu Si Bayi ini sudah mulai mempunyai kekuatan diseluruh tubuhnya. Itulah bentuk dan wujud bangsa Jasmani

4. ROH ROHMANI
Yaitu Si Anak sudah mulai membangun nafsu / sudah akil baligh tandanya dia sudah mulai menyukai lawan jenisnya.

3. ROH ROHANI
Yaitu mulai lengkap ( sempurna ) Akal dan Pikiranya atau disebut juga lsempurnanya sifat kemanusiaan. Itulah bentuk dan wujud bangsa Roh Ruhani

2. ROH NURANI
Yaitu mulai memahami pelajaran segala ilmu. Itulah bentuk dan wujud bangsa Ruhani

1. ROH ROBANI
Yaitu mulai didalam dirinya bergejolak ingin mencari ketenangan didalam qolbunya / mencari ilmu kesempurnaan hidup untuk bekal didunia dan diakherat. Dari sinilah awal manusia mulai mencari sesuatu yang dapat menghantarkannya kedalam sebuah ketenangan baik dzohir maupun bathinya. Itulah bentuk dan wujud Bangsa Roh Robani
 
BAB 3 
ASAL USUL KEJADIAN ROH JASMANI & ROH ROHANI
Ada empat unsur jasmaniyah yang berubah menjadi unsur halus, ia berkumpul menjadi unsur darah:
  1. Darah Hijau
  2. Darah Merah
  3. Darah Kuning
  4. Darah Putih
Darah hijau itu kejadiannya dari darah yang sudah habis masa kerjanya didalam tubuh kita.Darah kuning berasal dari bercampurnya darah putih dan darah merah.
Dari keempat unsur warna darah tersebut menjadi alat PERASA PANCA INDRA yaitu:    
  1. Rasa Penglihatan
  2. Rasa Hidung
  3. Rasa Lidah
  4. Rasa Dibadan
Keempat unsur Perasa inilah menjadi sari penemunya rasa. Rasa ini menjadi Budi ( Pekerjaannya Rasa ), Budi menjadi Angan-angan ( Pesuruh Rasa ).
Berkumpulnya rasa diatas menjadi senyawa didalam badan manusia yang disebut Rasa roh. Dari rasa Roh lahirlah menjadi Rasa Rosul, Rasa Rosul menjadi utusan Alloh, dan Alloh itu adalah Dzat Yang Maha Esa.




 BAB 4
PUSAT RUH
Setiap bayi yang lahir memiliki tingkat kesucian, yang dapat diumpamakan sebuah kertas yang putih polos dan bersih.
Kesuciannya berada pada wahana ( tempat ) nafs ( jiwa ) atau hawa yang masih bersih dan belum tercemar oleh polusi keduniaan.
Nafs ( hawa/jiwa ) dipasang diantara dua kutub jasmaniyah dan kutub ruhaniyah yang berpusat pada ruh, sehingga nafs ini akan dibolak balikan.
Unsur ruhani yaitu ruh itu bersifat suci sebagai utusan Tuhan dlm diri manusia yang dapat membawa sebuah ketetapan atau pedoman hidup.
Sehingga ruh ini dapat berperan sebagai obor yang memancarkan cahaya kebenaran dari Alloh Swt.
Ruh yang membawa obor atau cahaya dari Tuhannya adalah Ruh Suci atau Ruh Kudus tidak lain adalah seorang Mursyid kamil mukamil ( Pangersa Abah Qs ).
Dialah ( Pangersa Abah ) sebagai juru selamat dan juga juru nasehat untuk hawa, jiwa atau nafs ( Kita )
Jika kita ( nafs, jiwa, hawa ) tunduk ( mau belajar dzikir ) kepada ruh suci ( Guru Mursyid ) maka akan menghasilkan hawa ( nafs ) yg positif ( Nafsu Mutmainah ). Sebaliknya jika ( nafs, jiwa, hawa ) tunduk pada keinginan jasad itu disebut sebagai nafsu negatif.
Nafsu negatif ada 3 macam :
  1. Nafsu lawamah ( Kepuasan biologis ; makan, minum, tidur dllnya )
  2. Nafsu Amarah Berbuat kejahatan atau Angkara Murka, suka marah, akuisme dllnya.
  3. Sawiyah (Mulhimah)
Yaitu suka mengejar kenikmatan psikis; seks, sombong, narsisme, gemar dipuji-puji. Sedangkan untuk hawa sendiri memiliki 2 kutub nafsu yang bertentangan bisa diibaratkan uang logam yang memiliki 2 sisi ( gambar dan angka ). Akan tetapi kedua sisi tidak dapat dipisahkan atau dilihat secara bersama-sama. Apabila kita ingin menampilkan gambar maka letakkan angka dibawah dan sebaliknya.
Apabila seseorang mengaku melihat kedua sisinya ( gambar dan angka ) dalam waktu yang sama, maka orang itu bisa dikatakan mempunyai jiwa yang munafik alias kekehidupan yang palsu dan hanya berdasarkan pengakuan belaka alias suka mengaku atau bohong Itulah contoh jika orang tidak mau mengambil talqin dzikir.
 

BAB 5
PENDIDIKAN NAFS (HAWA)

Gudang ilmu yang paling dekat dengan kita adalah diri kita sendiri.
Karena diri kita adalah sumber dari ilmu dan rumus Tuhan ( Qudratulloh ). Maka peranan semua agama yang ada dimuka bumi ini adalah pendidikan yang ditunjukan kepada hawa/ Nafs / jiwa manusia agar selalu berkiblat kepadaNya.
Tetapi pendidikan yang ditunjukan kepada hawa ( Talqin dziki ), dihilangkan dan disembunyikan oleh musuh Alloh.
Alhamdulillah Pangersa Abah Anom Qs telah mengembalikan dan memperkenalkannya kembali kepada kita yaitu masalah pendidikan hawa nafsu yaitu berupa talqin dzikir.  
 
BAB 6
PENGLIHATAN RUH
Unsur manusia ada dua tubuh dan Ruh. Kalau penglihan tubuh kita sudah biasa yaitu mata melihat benda, hati melihat rasa dan akal pikiran kitmelihat dengan akal nya. ada satu penglihatan kita yaitu Penglihatan RUH. Ruh ini melihat lebih tinggi yaitu sesuatu yang tidak dapat diliat oleh unsur tubuh kita
Penglihatan Ruh ini memiliki dimensi yang sangat berbeda, yang dilihat Ruh hanyalah eksistensi Allah.dan melihatnya Ruh sesuatu yang diatas tubuh baiki itu mata , pikiran ataupun rasa. jadi yang dilihat Ruh adalah sesuatu yang diatas mata, diatas panca iondera, di atas pikiran dan diataS rasa. kalau kita melihat Allah dengan pikiran kita masih “belum haqul yakin”, kalau kita masih melihat dengan rasa artinya masih ada rasa rasa seperti rasa tenang rasa cinta berarti kita masih belum berada pada wilayah penglihatan Ruh (haqqul yaqin).
Barang siapan mampu mengenal Ruhnya maka akan mampu mengenal Allah. Allah hanya bisa disaksikan dengan Ruh. selain itu tidak bisa. dimensi yang berbeda inilah yang menyebabkan kita harus menggunakan Ruh dan meninggalkan tubuh.
Apa yang dilihat Ruh . Ruh akan melihat Allah seperti di alam azali. Bahkan Ruh akan melihat semua kehendak Allah yang tersembunyi yaitu kehendak Allah yang belum terwujud di alam nyata atau yang tidak dapat dilihat oleh penglihatan tubuh. Bagaimana Allah mengasihi, Bagaimana kebenaran kebenaran Allah , bagaimana Allah memurkai hambanya…. dan bagaimana Allah menjalankan manusia ke arah yang Ia kehendaki.
 
BAB 7
RUH KUDUS
karena Ruh itu suci maka dia tidak masuk surga, ataupun masuk ke neraka, tugas Ruh hanyalah sampai jasda manusia mati. Ruh akan ditarik kembali oleh SWT sesuai dengan masa tugasnya yaitu selama jasad masih hidup. Ruh tidaklah menyebabkan jasad hidup yang menyebabkan jasad hidup adalah Allah swt. 

Dalam alam bazakh pun Ruh tidak akan merasakan apapapun karena sekali lagi bahwa Ruh sudah di tarik pulang kembali kepada Allah, sang pemilik Ruh (bukan pencipta Ruh), yang masuk surga dan masuk neraka adalah nafs yaitu diri manusia yang mempertanggungjawabkan ketika hidup. salah manusia jika masuk neraka karena tidak mau memanfaatkan Ruh yang sudah di pinjami Allah, manusia yang hanya menggunakan jasadnya saja ( baca ; memperturutkan hawa nafsunya), maka manusia akan merasakan siksa neraka.
Ruh berada di suatu ketinggian yaitu diatasnya “rasa” apapun rasa itu. Ruh berada diatas ketenangan sejati, bukan rekayasa lagi tapi benar benar murni. kenikkmatan Ruh inilah yang banyak dicari para sufi bukan lagi kenikmatan nafsiah yang berupa surga ataupun ketakutan nafsiah yang berupa neraka, meski mereka tetap meyakini adanya surga dan neraka, tapi sekali lagi mereka bisa menafikan itu semua, demi mencapai kebahagiaan Ruh yang sejati.
Inilah hakikat diri kita yang sebenarnya yaitu Ruh, kita bukan lah nafs apalagi jasad. barang siapa mengenal Ruh maka akan mengenal Tuhannya. ingat Ruh dikenal bukan wujudnya tapi eksistensinya.
 
BAB 8 
KARUHUN ( PARA LELUHUR )
Banyak pemahaman menyimpang atas nama Islam. Pemahaman KA-RUH-UN yang diidentikan dengan para leluhur zaman dulu. Yang seolah-olah para leluhur adalah biangnya Ruh. Sehingga masih banyakn diantara kita yang masih mengandalkan dan meminta sesuatu semisal kekuatan atau masalah kehidupan ini kepada para karuhun,

Maka dari itu Kembalilah kepada Biangnya Ruh yaitu Ruh Sayyidina wa Nabiyyina Muhammad Saw, dialah bapak segala Ruh *Ana Babul Arwah*

Bagaimana caranya? segeralah ambil Talqin-Dzikir dari seorang Mursyid Kamil Mukamil yang mempunyai tali washilahNya, bukan kepada para normal atau pun dukun untuk memecahkan problem kehidupan ini.
 
BAB 9
WEJANGAN PARA LELUHUR
” Urip sing sejati yaiku sing tan keno pati “.
( Hidup yang sejati itu adalah hidup yang tidak bisa terkena Mati ). Kita semua bakal hidup sejati, tapi permasalahan yang muncul adalah…Siapkah kita menghadapi hidup yang sejati, jika kita senantiasa berpegang teguh pada kehidupan didunia ini yang serba fana dan baru?
Para Leluhur juga menjelaskan:
” Tangeh lamun siro bisa ngerti sampurnaning pati, yen siro ora ngerti sampurnaning urip “.
( Mustahil kamu bisa mengerti kematian yang sempurna, jika kamu tidak mengerti hidup yang sempurna ).
Oleh karena itu carilah ilmu yg dapat menyempurnakan lahir bathin

Jumat, 08 Maret 2013

> Belajar Syari'at menuju Makrifat



Dengan hanya membaca judulnya, sebagaian orang mungkin akan berpikiran jauh. Wah ini pembahasan pasti sulit untuk diserap, paradigma yang telah berkembang dan diyakini oleh sebagian besar umat islam saat ini perihal tentang tingkatan tersebut agaknya sudah terlalu dalam. Suatu pengertian yang berkenaan dengan makna yang terlanjur diadopsi oleh sebagian orang sebagai sesuatu yang sulit untuk dimengerti atau bahkan di laksanakan. Suatu konsep pemikiran termasuk ekspresi yang seharusnya berkaitan dengan nilai-nilai etika dan nilai-nilai kehidupan secara keseluruhan. Sehingga sebagian orang terus dibayang-bayangi rasa penasaran akan makna sebenarnya dari tingkatan tersebut.
Syari’at bisa disebut syir’ah bermakna sumber yang Kemudian kata tersebut digunakan untuk pengertian hukum-hukum Allah yang diturunkan untuk manusia. Kata “syara’a” berarti memakai syari’at. Juga kata “syara’a” atau “istara’a” berarti membentuk syari’at atau hukum. Dalam hal ini Allah berfirman,
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ (٤٨)
“dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu” (QS:Al Maidah:48)
kata شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا bermakna “aturan dan jalan yang terang”
Dalam firman Allah SWT :
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ (١٣)
“Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)”
شَرَعَ = Allah telah mensyari’atkan (mengatur)
Dalam arti yang luas syari’at Artinya, hukum-hukum (peraturan) yang diturunkan Allah swt. melalui rasul-rasulNya yang mulia, untuk manusia, agar mereka keluar dari kegelapan ke dalam terang, dan mendapatkan petunjuk ke jalan yang lurus.
Melaksanakan syariat berarti mentaati peraturan / perintah perintah Allah SWT, yang diwahyukan kepada rasul Nya baik berupa Al-Qur’an maupun Sunnah Nabi yang berwujud perkataan, perbuatan, dan ketetapan, atau pengesahan.
Thariqah / Tarikat
Tarekat berasal dari bahasa Arab thariqah, jamaknya tharaiq, yang berarti jalan atau petunjuk jalan atau cara. Kata thariqah dalam al qur’an disebut kurang lebih sebanyak 9 kali. Diantaranya Firman Allah SWT dalam QS An Nisaa’:168 :

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَظَلَمُوا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلا لِيَهْدِيَهُمْ طَرِيقًا (١٦٨)
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka”

kata وَلا لِيَهْدِيَهُمْ طَرِيقًا “tidak akan menunjukkan jalan kepada mereka”
Dalam Firman Allah SWT diatas teramat jelas secara tersurat kata طَرِيقً = jalan. Sehingga apabila kemudian terdapat suatu doktrin tentang tarekat adalah salah satu ajaran pokok dengan tujuan untuk kesucian. Dengan lebih mementingkan aspek spiritual semata, sementara mengabaikan peranan sosial. Dan melupakan perhatian kepada perbaikan kehidupan masyarakat, sehingga kehidupan pengikut tarekat hanya terbatas bacaan wirid, zikir dan hidup dalam suasana sepi, bangun di tengah malam dan melaparkan diri.
Tidak jarang kemudian para pelaku jama’ah thariqah mengucilkan diri dari pergaulan di masyarakat, bahkan kemudian mengucilkan sebagian yang lain menganggap rendah dsb.
Dalam pandangan admin thariqah artinya petunjuk dalam melakukan sesuatu ibadah dengan ajaran yang ditentukan dan dicontoh oleh Nabi dan dikerjakan oleh tabi’in, turun temurun sampai dengan saat ini. Dengan kata lain thariqah adalah jalan / petunjuk dalam mengerjakan shalat, puasa, zakat, dzikir, do’a dan amalah ibadah lainnya.
Contoh mudah thariqah adalah :
1. Berwudlu mensucikan diri sebelum melaksanakan sholat.
2. Bangun untuk makan Sahur dan membaca do’a ketika akan berpuasa
3. Berdzikir sebelum sholat, dsb
thariqah = petunjuk / jalan untuk melaksanakan ibadah kepada Allah SWT.

3. HAKEKAT
Al-Haqqu = mempunyai makna benar, kebenaran, yang sebenar-benarnya, yang sesungguhnya.

فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّكَ عَلَى الْحَقِّ الْمُبِينِ (٧٩)
“ sebab itu bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata” (QS: An Naml:79)

المر تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ وَالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يُؤْمِنُونَ (١)

“ Alif laam miim raa. ini adalah ayat-ayat Al kitab (Al Quran). dan kitab yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah Benar: akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya).

مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ (٧٤)

74. mereka tidak Mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha Perkasa. (QS Al Hajj:74)


Dari ke tiga ayat diatas kata al-haqqu ( kebenaran) itu adalah ” mengabdi / menyembah / menghambakan diri dengan sebenar benarnya kepada Alloh swt saja dan tidak mensekutukan Dia. Dilakukan dengan cara yang telah dicontohkan oleh Muhammad saw “ Hakekat adalah sesuatu bentuk ibadah yang sesungguhnya yang dikerjakan peraturan Allah yang dan sesuai dengan petunjuk yang telah dicontohkan oleh Rosulullah SAW.

Jadi Hakekat dalam agama islam adalah :
Perwujudan dari Menegakkan sholat sebagaimana yg diperintahkan dan yang telah dicontohkan oleh Muhmmad saw dan itu kita lakukan semata-mata karena Alloh. Inilah salah satu unsur dari al-haqqu yang akan membawa manfaat kepada pelakunya di akherat kelak, di antara unsur-unsur al-haqqu yang lain seperti, membaca ayat-ayat Alloh, berpuasa di bulan romadhon, zakat, infaq, shodaqoh, nikah, berbuat baik, jujur, dll yang semua itu ada dasarnya di dalam Al-Qur’an dan dijelaskan dalam As-Sunnah (perikehidupan Muhammad saw) dan semua itu mesti dilakukan semata-mata karena Alloh swt.

Suatu Bentuk pelaksanaan Sholat, Zakat, Puasa, dan amalan ibadah yang lain itulah Hakekat.

Demikianlah hakekat itu, mudah dan sederhana dan telah diamalkan oleh siapa saja dengan tingkat intelektualitas yang bagaimanapun.

Ma’rifat

Hati Hati berbicara tentang makrifat dan mempelajari makrifat admin yakin itulah kata yang muncul dari mulut saudara kita semua ketika di suguhi / ditanya tentang kata makrifat. Kalau mau belajar harus cari guru yang paling hebat dan orang yang paling alim. Makrifat ini adalah ilmu yang langka saking langkanya ilmu ini maka banyak orang mencari dan akhirnya tersesat. semula mengira bahwa ia akan mengajarkan ilmu hakikat makrifat ternyata mengajarkan yang bukan itu dan bahkan mengajarkan kesyirikan.
Ya…… admin yakin pikiran – pikiran seperti diatas selalu membayangi seseorang ketika bicara tentang makrifat. Suatu paradiqma yang sudah terlanjur berkembang dan dipercaya sebagai sesuatu yang ghaib dan jauh dari jangkauan kebanyakan akal dan pikiran manusia. Sebagian lagi beranggapan orang yang sudah makrifat itu sakti, kadang orang terkesan dengan kehebatan atau kesaktian yang dimiliki guru tersebut, dan menganggap kesaktian dan kehebatan itu tanda bahwa dia oarag suci. bisa inilah bisa itulah, ketemu sama inilah ketemu sama itulah, dsb.
Lalu apa beda mereka dengan para peramal, Dukun, tukang sihir, dsb ………? Toh mereka juga sakti (menurut beberapa orang) apakah mereka juga memiliki ilmu makrifat………???

Makrifat bukanlah sekedar ilmu namun suatu perbuatan atau tindakan yaitu suatu kesadaran dengan sebenar benar sadar bahwa tidak ada tuhan selain allah. mengakui sepenuhnya bahwa apa yang disampaikan rasulullah dalam qur an dan hadits adalah benar. apa yang benar itulah yang benar dan apa yang salah itu adalah salah. Perkuat syariah dan thariqah mengamalkan dengan keihlasan…. nanti nya akan ketemu dengan hakikat dan akhirnya akan makrifat. jadi sebenarnya Makrifat bukan ilmu namun suatu hasil amaliah. kalau makrifat di ilmukan jadinya malah membingungkan, bahkan ada yang lebih parah lagi ilmu makrifat diperdebatkan. Makrifat adalah wilayah pengalaman spiritual bahkan merupakan muara dari pengalaman ibadah itu sendiri yang akan kita alami. Tidak ada seorang gurupun yang mampu untuk memberikan kemampuan ini.
Yang sebenarnya bisa dilakukan oleh seorang guru memberikan suatu metode dengan mengajarkan syari’at, menuntun thariqat dan melaksanakan hakekat. Perkara makrifat atau tidak itu sangat tergantung dari Allah.
Firman Allah SWT :

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ (٢٥٥)

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.
Allah lah yang akan memperkenalkan dirinya kepada hambanya yang dikehendaki untuk memakrifati Dia. Melalui tanda tanda kebesaran Nya, yang sebenarnya sudah ada disekitar kita.
Firman Allah SWT : QS Ar Ruum : 20 – 24
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُونَ (٢٠)
20. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (٢١)
21. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ (٢٢)
22. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.
وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ (٢٣)
23. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.
وَمِنْ آيَاتِهِ يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَيُحْيِي بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (٢٤)
24. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.

bagaimana selanjutnya syari'ah, Thariqah, Hakekat, makrifat, menjadi sesutu hal yang misteius, adalah karena pola pikir manusia itu sendiri. karena sejatinya kesemuanya itu sudah diajarkan oleh rosulullah SAW dan diamalkan oleh kebanyakan Umat saaat ini.

Semoga kita diberi kemudahan Allah untuk mengenal NYa…
Amin ya rabbal alamin.

Wallahu’alam 

> Fitrah Sejati Manusia


Fitrah sejati dari keberadaan manusia dimuka bumi ini adalah untuk mengenal Sang Penciptanya. Inilah tuntutan naluriah dari pencarian mendalam tentang makna hakiki dalam kehidupan. Manusia adalah mahluk paling sempurna yang pernah diciptakan Allah di muka bumi ini. Bahkan manusia adalah pencitraan Tuhan Sang Maha Kekal. Seandainya kita tidak mengenal Allah, maka bagaimana kita dapat menyembah-Nya, memuji-Nya, dan memohon pertolongan pada-Nya?

Hikmah atau ilmu perlu ada dalam diri manusia untuk mengenal Allah, sebagai Tuhannya. Yaitu dengan menyingkap tirai hitam yang menutupi cerminan Qalbu seseorang, membersihkan dan mengikilaukannya sampai bersih sehingga keindahan Ketuhanan yang terbayang pada cermin Qalbu itu akan tampak. Allah ibarat harta tersembunyi dan Ia ingin di kenal. Maka dijadikan-Nya mahluk untuk mengenal-Nya. Oleh karena itu, manusia hendaknya mencari tahu cara, teknik atau metode serta mencari ilmu untuk mengenal Allah (Makrifatullah).

Allah Swt, telah berfirman di dalam sebuah hadis qudsi, yang berbunyi, “Aku laksana harta yang tersembunyi. Aku ingin dikenali. Karena itu, Aku menciptakan semua mahluk.” Kitalah mahluk yang dimaksud dalam hadis tersebut untuk mengenal Zat-Nya yang Mahaagung, dan karena itu wajiblah bagi kita untuk berusaha mengenal-Nya.

Jadi jelas sudah, bahwa tujuan Allah Swt, menciptakan manusia adalah agar mereka mencari ilmu untuk mengenali-Nya. Ada dua peringkat ilmu makrifat. Pertama, ilmu untuk mengenal sifat Allah dan perwujudan kekuasan-Nya. Kedua, ilmu untuk mengenal Zat Allah.

Dalam mengenali sifat-sifat Allah itu, manusia yang masih berdaging dan bertulang ini dapat mengalami dan merasakan hal-hal yang bersifat keduniawian dan keakhiratan, yaitu kita dapat mengenal sifat-sifat Allah melalui pengalaman dan pengamatan terhadap kedua hal tersebut. Tetapi ilmu yang membawa kita kepada pengenalan terhadap Zat Allah terletak dalam Ruh al-Quds (Ruh Suci) yang diberikan kepada manusia agar dapat mengenali rahasia-rahasia Akhirat. Allah menyebutkan perkara ini, seperti dalam firman-Nya:

“.....dan Kami memperkuatnya dengan Ruh al Quds.....” (QS. Al Baqarah 2:87)

Mereka yang mengenal Zat Allah akan memperoleh ilmu melalui Ruh Suci yang terpendam dalam diri mereka masing-masing. Jadi kedua ilmu itu (mengenal Zat dan mengenal sifat Allah) di peroleh dengan ilmu hikmah atau makrifat. Keduanya pun terbagi menjadi dua aspek, yaitu ilmu batin dan ilmu zahir. Kedua ilmu ini penting bagi seseorang yang menginginkan kebaikan dan kebajikan. Pendek kata, ilmu terbagi menjadi dua, yaitu ilmu yang ada di lidah manusia dan yang ada di dalam qalbu manusia. Inilah yang perlu dicapai dari harapan dan tujuan kita, yaitu mengenal Allas Swt.

> RISALAH MAKRIFAT 6 : TAREKAT PARA SUFI


 TAREKAT (thariqah), seperti syari’at berarti jalan, hanya saja yang pertama berarti jalan kecil (path) sedangkan yang terakhir berarti jalan besar (road). Tarekat kemudian dipahami sebagai jalan spiritual yang ditempuh seorang Sufi. Selain tarekat sering juga dipakai kata suluk yang artinya juga jalan spiritual, dan orangnya disebut salik. Tetapi kata tarekat juga dipakai sebagai kelompok persaudaraan atau orde spiritual yang biasanya didirikan oleh seorang Sufi besar, seperti Abdal-Qadir jaelani, Sadzali, Jalal al-din Rumi dan lain-lain. Nama tarekat tersebut biasanya diberi nama sesuai dengan nama-nama para pendirinya. Karena itu kita mengenal tarekat Qadiriah, Sadzaliyah atau Mawlawiyah yang dinisbatkan dengan kata Mawlana (guru kami) sebuah sebutan yang diberikan oleh para pengikut Jalal al-din Rumi kepada dirinya.

Sebagai jalan spiritual, tarekat ditempuh oleh para Sufi dan Zahid di sepanjang zaman. Setiap orang yang menempuhnya mungkin mempunyai pengalaman yang berbeda-beda, sekalipun tujuannya adalah sama, yaitu menuju Tuhan, mendekati Tuhan bahkan bersatu dengan-Nya, baik dalam arti majaz atau hakiki, yaitu kesatuan mistik atau ittihad (mystical union). Meskipun begitu para ahli sepakat untuk memilah-milah tahapan perjalanan spiritual ini ke dalam station-station (maqamat), dan keadaan-keadaan (ahwal). Sementara maqamat dicapai dengan usaha yang sadar dan sistimatis, ahwal adalah keadaaan-keadaan jiwa (mental states) yang datang secara spontan dan berlangsung relatif cepat dan tak lama.
Selain pengalaman spiritual yang berbeda-beda dari seorang Sufi dalam tarekatnya, intensitas dan kecepatan perjalanannya pun bisa berbeda-beda. Ali Nadwi misalnya menggambarkan perjalanan mistik Rumi seperti burung rajawali (falcon) yang bisa dengan cepat tiba di tangan rajanya, sedangkan ‘Aththar seperti semut. Rumi sendiri misalnya mengatakan,” Seorang Sufi bermi’raj ke Arasy dalam sekejap; sang Zahid perlukan sebulan untuk sehari pejalanan.”
Walaupun jalan spiritual ini obyektif, karena dialami oleh orang-orang suci di sepanjang zaman, tetapi pengalaman masing-masing Sufi dalam menempuh perjalanan tersebut adalah subyektif. Dan karena sifat pengalamannya subyektif, maka tidak mungkin kita mengharapkan adanya keseragaman ungkapan dan nama-nama tahapan (maqamat) atau keadaan-keadaan (ahwal) dari seluruh atau masing-masing Sufi. Oleh karena itu wajar, kalau para penulis Sufi berbeda misalnya dalam menamakan maqam-maqam ataupun urutan-urutannya. Al-Kalabadzi, misalnya menyebut maqam-maqam tersebut sebagai berikut: taubat, zuhud, sabar, faqr, tawadhu’, taqwa, tawakkal, ridha’, mahabbah dan ma’rifat, sementara al-Ghazali menyebutnya sebagai berikut : taubat, sabr, faqr, zuhud, tawakkal, mahabbah, ma’rifat dan ridha, sedangkan al-Qusyairi sebagai berikut; taubat, wara, zuhud, tawakkal, sabar dan ridha. Selain perjalanan tersebut digambarkan secara datar dan dalam bentuk prosa, seperti tersebut di atas, ada juga yang menggambarkannya secara simbolis dan dalam bentuk puitis. Farid al-Din ‘Aththar misalnya menggambarkan perjalanan spiritualnya dengan indah dalam karya puitisnya Manthiq al-Thayr sebagai perjalanan panjang dan melelahkan dari burung-burung (yang melambangkan jiwa-jiwa manusia) dalam rangka menjumpai raja mereka “simurgh”. Untuk itu mereka harus melampaui tujuh lembah yaitu lembah pencaharian, lembah cinta, ma’rifat, perpisahan, kesatuan, keheranan, faqir dan fana’. Atau seperti Ibn ‘Arabi yang melukiskan pengalaman spiritualnya secara detail tanpa berusaha memberi nama masing-masing tingkatnya tetapi menceritakan dengan gamblang perjalanan manusia dari tingkat indrawi menuju tingkat imajinal, dan dari dunia imajinasi ke tingkat spiritual murni. Sekurangnya ada 19 tingkatan yang digambarkan Ibn Arabi dalam kitabnya Risalat al-Anwar fima yumnah shahib al-khalwa min al-Asrar, sebelum akhirnya manusia kembali kepada dunia indrawi.
Apa yang kita gambarkan selama ini tentang tarekat, adalah pengertian tarekat sebagai perjalanan spiritual, yang juga disebut suluk. Tetapi ada pengertian lain dari tarekat dalam arti persaudaraan atau ordo spiritual. Pengertian ini sebenarnya yang lebih dikenal oleh kalangan luas, seperti Tarekat Naqsabandiah, Sinusiah, Qadiriah dan sebagainya. Tentu bukan tempatnya di sini untuk membahas satu persatu tarekat tersebut, namun beberapa hal tentang tarekat ini perlu dikemukakan. Pertama, tentang metode spiritual dan peranan sang guru (mursyid). Karena tasawuf pada hakekatnya tidak bisa dipelajari lewat buku, maka latihan spiritual berupa dzikr, atau sama’, adalah cara yang efektif untuk memahaminya lewat pengalaman batin. Daripada mengajarkan murid-murid tentang ajaran-ajaran para Sufi, seorang guru akan mengajak murid-muridnya untuk melakukan perjalanan bersama melalui dzikir menuju tuhan, dengan metode yang pernah dialami oleh si mursyid. Dengan begitu sang guru berharap bahwa apa yang pernah ia alami dengan metode yang sama akan juga dialami oleh murid-muridnya. Metode ini harus diikuti dengan disiplin yang tinggi dan dengan penuh ketaatan kepada petunjuk sang guru. Ini terjadi karena sang guru merasa yakin hanya dengan cara itulah maka pengalaman seorang murid akan sesuai dengan yang direncanakan. Dalam hal ini murid tidak boleh protes atau membangkang, dan seorang murid harus bertindak seolah-olah seperti mayat dalam pangkuan orang yang memandikannya. Boleh saja membangkang, tetapi sang guru tidak bertanggung jawab atas kegagalan sang murid yang membangkang tersebut dan tidak ada jaminan bahwa usahanya itu akan berhasil. Jadi inilah kira-kira peranan sang mursyid terhadap muridnya, yakni memastikan bahwa segala hal-ihwal metodenya dijalankan sepenuhnya oleh sang murid. Baru setelah segalanya dijalankan dengan baik, seorang murid bisa berharap sukses dalam upaya tersebut.

> MAKRIFAT, HAKEKAT, TARIKAT, SYARIAT


Pemahaman yang beredar dalam khasanah sufistik, tasawuf atau mistik Islam bahwa perjalanan spiritual itu dimulai dari menjalankan syariat, memasuki jalan suluk tarekat dengan berdzikir, kemudian berolah pikir di aras hakekat, hingga berujung pada mengenal Tuhan setelah bermakrifat/ bertemu dengan-Nya.

Mohon maaf bila pemahaman tersebut perlu didekonstruksi dan didiskusikan ulang. Sebab keyakinan kita atas hal itu bisa jadi salah.
Menurut saya, proses bahwa perjalanan spiritual itu justeru tidak dimulai dari syari’at, tarekat, hakikat, hingga ma’rifat. Namun lihatlah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW, teladan umat muslim justeru yang terjadi adalah kebalikannya:
Perjalanan spiritual justeru dimulai dari MA’RIFAT, TAREKAT, HAKIKAT dan akhirnya sampai pada SYARIAT.
MAKRIFAT adalah bertemu dan mencairnya kebenaran yang hakiki: yang disimbolkan saat Muhammad SAW bertemu Jibril, HAKIKAT saat dia mencoba untuk merenungkan berbagai perintah untuk IQRA, TAREKAT saat Muhammad SAW berjuang untuk menegakkan jalanNya dan SYARIAT adalah saat Muhammad SAW mendapat perintah untuk sholat saat Isra Mikraj yang merupakan puncak pendakian tertinggi yang harus dilaksanakan oleh umat muslim.
Itulah sebabnya, SYARIAT SHOLAT ADALAH PUNCAK PENDAKIAN SPIRITUAL yang terkadang justeru dilalaikan oleh kaum sufi dan para ahli spiritual. Padahal, Nabi MUHAMMAD SAW memberi tuntunan tidak seperti itu.
SHOLAT adalah komunikasi tertinggi serta pertemuan antara TUHAN dan MANUSIA. Sholat juga merupakan PERTEMUAN TITIK MODULASI DIMENSI YANG LAHIR DAN BATIN ANTARA TUHAN YANG MAHA LAHIR DAN MAHA BATIN dengan manusia yang merupakan makhluk satu-satunya yang memiliki SDM untuk mempertemukan titik temu dari dua dimensi tersebut dalam dirinya.
TITIK TEMU itu terletak pada KESADARAN. NAH, Bagaimana penjelasan tentang PERJUMPAAN TUHAN dengan MANUSIA? Monggo KITA sholat dengan khusyuk. CARI TITIK PALING HENING dan NIKMATILAH WAJAH TUHAN DAN BERMESRAANLAH DENGAN DIA, YANG MAHA TERKASIH.
MA’RIFAT, HAKIKAT, TAREKAT DIAKSES dengan alat epistemologis PANCAINDERA AKAL-RASA-BUDI dan akhirnya PENDAKIAN SPIRITUAL sampai pada SYARIAT, yaitu DIAKSES DENGAN SEMUA ALAT EPISTEMOLOGIS MANUSIA: PANCAINDERA, AKAL, RASA, BUDI dan ini yang special yaitu HIDAYAH WAHYU untuk kemudian dimanifestasikan dalam PERILAKU…
Itu sebabnya, bila Sholatnya bagus maka PERILAKU PASTI BAIK, SEHINGGA DARI PERILAKULAH KITA BISA MENAKAR APAKAH SESEORANG ITU SUDAH BERMANUNGGAL DENGAN TUHAN. PERILAKU adalah ibadah yang menjadi SYAHADAT manusia yang sudah mencapai taraf INSAN KAMIL, yaitu bermanunggalnya makrokosmos dengan mikrokosmos, jagad alit dan jagad gede, manunggaling kawulo kelawan gusti.

> Kisah Nabi Muhammad SAW


Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang terakhir. Setelah nabi Muhammad SAW tidak ada nabi lagi. Nabi Muhammad SAW adalah panutan atau teladan bagi umat Islam. Berikut ini sekelumit kisahnya:
1. Masa Kelahiran Nabi Muhammad SAW dan Kebiasaan Masyarakat Jahiliyah
Pada masa kelahiran Nabi Muhammad SAW terdapat kejadian yang luar biasa yaitu ada serombongan pasukan Gajah yang dipimpin Raja Abrahah (Gubernur kerajaan Habsyi di Yaman) hendak menghancurkan Kakbah karena negeri Makkah semakin ramai dan bangsa Quraisy semakin terhormat dan setiap tahunnya selalu padat umat manusia untuk haji. Ini membuat Abrahah iri dan Abrahah berusaha membelokkan umat manusia agar tidak lagi ke Makkah. Abrahah mendirikan gereja besar di Shan’a yang bernama Al-Qulles. Namun tak seorang pun mau datang ke gereja Al Qulles itu. Abrahah marah besar dan akhirnya mengerahkan tentara bergajah untuk menyerang Kakbah. Didekat Makkah pasukan bergajah merampas harta benda penduduk termasuk 100 ekor Unta Abdul Muthalib
Dengan tak disangka Abdul Munthalib kedatangan utusan Abrahah supaya menghadap ke Abrahah. Yang pada akhirnya Abdul Munthalib meminta Untanya untuk dikembalikan dan bersedia mengungsi bersama penduduk dan Abdul Munthalib berdo’a kepada Allah supaya Kakbah diselamatkan.
Keadaan kota Makkah sepi tentara Abrahah dengan leluasa masuk Makkah dan siap untuk menghancurkan Kakbah. Allah SWT mengutus burung Ababil untuk membawa kerikil Sijjil dengan paruhnya. Kerikil itu dijatuhkan tepat mengenai kepala masing-masing pasukan bergajah tersebut hingga tembus ke badan sampai mati. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al Fiil ayat 1-5. (QS 105 :1-5). Pasukan bergajah hancur lebur mendapat adzab dari Allah SWT.
Pada masa itu lahir bayi yang diberi nama Muhammad dari kandungan ibu Aminah dan yang ber-ayahkan Abdullah. Muhammad lahir sudah yatim karena saat nabi Muhammad SAW masih dalam kandungan ayahnya sudah meninggal dunia. Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin, 12 Rabiul Awal tahun Gajah dan bertepatan tanggal 22 April 571 M.
2. Kebiasaan Masyarakat Jahiliyah
Pada zaman kelahiran nabi Muhammad SAW masyarakat Makkah mempunyai kebiasaan jahiliyah yaitu kebiasaan menyembah patung atau berhala. Jahiliyah artinya zaman kebodohan. Yang disembah bukan Allah tetapi patung atau berhala dan kebiasaannya sangat buruk yaitu mabuk, berjudi, maksiat dan merendahkan derajat wanita. Mereka hidup berpindah-pindah dan terpecah dalam suku-suku yang disebut kabilah. Hidup serba bebas tidak ada aturan dalam bermasyarakat. Sehingga kehidupan sangat kacau balau.
Nah, di saat kekacaubalauan masyarakat Makkah itu lahir Nabi Muhammad SAW sebagai Rahmat bagi seluruh alam.
3. Masa Kanak-Kanak Nabi Muhammad SAW hingga Masa Kerasulannya
Kebiasaan di kalangan pemuka pada saat itu apabila mempunyai bayi, maka bayi yang baru lahir itu dititipkan kepada kaum ibu pedesaan. Dengan tujuan agar dapat menghirup udara segar dan bersih serta untuk menjaga kondisi tubuh ibunya agar tetap sehat.
Menurut riwayat, setelah Muhammad dilahirkan disusui oleh ibunya hanya beberapa hari saja, Tsuaibah menyusui 3 hari setelah itu oleh Abdul Munthalib disusukan kepada Halimah Sa’diyah istri Haris dari kabilah Banu Saad.
Semenjak kecil Muhammad memiliki keistimewaan yaitu badannya cepat besar, umur 5 bulan sudah dapat berjalan dan umur 9 th sudah lancar berbicara serta umur 2 th sudah menggembalakan kambing dan wajahnya memancarkan cahaya.
Muhammad diasuh Halimah selama 6 th. Pada usia 4 th Muhammad didekati oleh malaikat Jibril dan menelentangkannya lalu membelah dada dan mengeluarkan hati serta segumpal darah dari dada nabi Muhammad SAW lalu Jibril mencucinya kemudian menata kembali ke tempatnya dan Muhammad tetap dalam keadaan bugar.
Dengan adanya peristiwa pembelahan dada itu, Halimah khawatir dan mengembalikan Muhammad ke ibundanya. Pada usia 6 th nabi diajak Ibunya untuk berziarah ke makam ayahnya di Yatsrib dengan perlalanan 500 km. Dalam perjalanan pulang ke Makkah Aminah sakit dan akhirnya meninggal di Abwa yang terletak antara Makkah dan Madinah.
Nabi Muhammad lantas ditemani Ummu Aiman ke Makkah dan diantarkan ke tempat kakeknya yaitu Abdul Munthalib. Sejak itu Nabi menjadi yatim piyatu tidak punya ayah dan ibu. Abdul Munthalib sangat menyayangi cucunya ini (Muhammad) dan pada usia 8 th 2 bl 10 hari Abdul Munthalib wafat. Kemudian Nabi diasuh oleh pamannya yang bernama Abu Thalib.
Abu Thalib mengasuh menjaga nabi sampai umur lebih dari 40 th. Pada usia 12 th nabi diajak Abu Thalib berdagang ke Syam. Di tengah perjalanan bertemu dengan pendeta Bahira. Untuk keselamatan nabi Bahira meminta abu Thalib kembali ke Makkah.
Ketika Nabi berusia 15 th meletus perang Fijar antara kabilah Quraisy bersama Kinanah dengan Qais Ailan. Nabi ikut bergabung dalam perang ini dengan mengumpulkan anak-anak panah buat paman-paman beliau untuk dilemparkan kembali ke musuh.
Pada masa remajanya Nabi Muhammad biasa menggembala Kambing dan pada usia 25 th menjalankan barang dagangan milik Khadijah ke Syam. Nabi Muhammad SAW dipercaya untuk berdagang dan ditemani oleh Maisyarah. Dalam berdagang nabi SAW jujur dan amanah serta keuntungannya melimpah ruah.
Peristiwa tentang cara dagangnya nabi SAW itu diceritakan Maisyarah ke Khadijah. Lantas Khadijah tertarik dan mengutus Nufaisah Binti Mun-ya untuk menemui Nabi agar mau menikah dengan Khadijah. Setelah itu Nabi memusyawarahkan kepada pamannya dan disetujuinya akhirnya Khadijah menikah dengan Nabi Muhammad SAW dengan mas kawin 20 ekor Onta Muda.
Usia Khadijah waktu itu 40 th dan Nabi Muhammad SAW 25 th.
Dalam perkawinannya Nabi dianugerahi 6 putra-putri yaitu Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayah, Ummu Kulsum dan Fatimah. Semua anak laki-laki nabi wafat waktu masih kecil dan anak perempuannya yang masih hidup sampai nabi wafat adalah Fatimah.
Masa Kerasulan Nabi Muhammad SAW
Pada usia 35 th lima tahun sebelum kenabian ada suatu peristiwa yaitu Makkah dilanda banjir besar hingga meluap ke baitul Haram yang dapat meruntuhkan Kakbah. Dengan peristiwa itu orang-orang Quraisy sepakat untuk memperbaiki Kakbah dan yang menjadi arsitek adalah orang Romawi yang bernama Baqum.
Ketika pembangunan sudah sampai di bagian Hajar Aswad mereka saling berselisih tentang siapa yang meletakkan hajar Aswad ditempat semula dan perselisihan ini sampai 5 hari tanpa ada keputusan dan bahkan hampir terjadi peretumpahan darah. Akhirnya Abu Umayah menawarkan jalan keluar siapa yang pertama kali masuk lewat pintu Masjid itulah orang yang memimpin peletakan Hajar Aswad. Semua pada sepakat dengan cara ini. Allah SWT menghendaki ternyata yang pertama kali masuk pintu masjid adalah Rasulullah SAW dan yang berhak adalah Rasulullah.
Orang-orang Quraisy berkumpul untuk meletakkan Hajar Aswad . Rasulullah meminta sehelai selendang dan pemuka-pemuka kabilah supaya memegang ujung-ujung selendang lalu mengangkatnya bersama-sama. Setelah mendekati tempatnya Nabi mengambil Hajar Aswad dan meletakkannya ke tempat semula akhirnya legalah semua. Mereka pada berbisik dan menjuluki “Al-Amin” yang artinya dapat dipercaya.
Nabi Muhammad SAW mempunyai kelebihan dibanding dengan manusia biasa, beliau sebagai orang yang unggul, pandai, terpelihara dari hal-hal yang buruk, perkataannya lembut, akhlaknya utama, sifatnya mulia, jujur terjaga jiwanya, terpuji kebaikannya, paling baik amalnya, tepat janji, paling bisa dipercaya sehingga mendapat julukan Al-Amin dan beliau juga membawa bebannya sendiri, memberi kepada orang miskin, menjamu tamu dan menolong siapapun yang hendak menegakkan kebenaran.
Pada saat Nabi Muhammad SAW hampir berusia 40 th kesukaannya mengasingkan diri dengan berbekal Roti dan pergi ke Gua Hira di Jabal Nur. Rasulullah di Gua Hira beribadah dan memikirkan keagungan alam. Pada usia genap 40 th Nabi dianggkat menjadi Rasul. Beliau menerima wahyu yang pertama di gua Hira dengan perantaraan Malaikat jibril yaitu surat Al-Alaq ayat 1-5.
Ketika Nabi berada di gua Hira datang malaikat Jibril dan memeluk Nabi sambil berkata “Bacalah”. Jawab Nabi “Aku tidak dapat membaca” Lantas Malaikat memegangi dan merangkul Nabi hingga sesak kemudian melepaskannya dan berkata lagi “Bacalah”. Jawab Nabi”Aku tidak bisa membaca”. Lantas Malaikat memegangi dan merangkulnya lagi sampai ketiga kalinya sampai Nabi merasa sesak kemudian melepasknnya. Lalu Nabi bersedia mengikutinya (Surat Al-Alaq ayat 1-5). QS 96 : 1-5)
Rasulullah mengulang bacaan ini dengan hati yang bergetar lalu pulang dan menemui Khadijah (isterinya) untuk minta diselimutinya. Beliau diselimuti hingga tidak lagi menggigil tapi khawatir akan keadaan dirinya.
Khadijah menemui Waraqah bin Naufal dan menceritakan kejadian yang dialami oleh Nabi. Waraqah menanggapi “Maha suci, Maha suci, Dia benar-benar nabi umat ini, katakanlah kepadanya, agar dia berteguh hati.
4. Rasulullah Berdakwah
Rasulullah SAW di kala mengasingkan diri di Gua Hira dengan perasaan cemas dan khawatir tiba-tiba terdengan suara dari langit, beliau menengadah tampak malaikat jibril. Beliau menggigil, ketakutan dan pulang minta kepada isterinya untuk menyelimutinya. Dalam keadaan berselimut itu datang Jibril menyampaikan wahyu yang ke dua yaitu surat Al Muddatsir (QS 74 ayat 1-7).
Dengan turunnya wahyu ini Rasulullah SAW mendapat tugas untuk menyiarkan agama Islam dan mengajak umat manusia menyembah Allah SWT.
1). Menyiarkan Agama Islam Secara Sembunyi-Sembunyi
Setelah Rasulullah SAW menerima wahyu kedua mulailah beliau dakwah secara sembunyi-sembunyi dengan mengajak keluarganya dan sahabat-sahabat beliau seorang demi seorang masuk Islam.
Orang-orang yang pertama-tama masuk Islam adalah:
a). Siti Khadijah (Istri Nabi SAW)
b). Ali Bin Abi Thalib (Paman Nabi SAW)
c). Zaid Bin Haritsah (Anak angkat Nabi SAW)
d). Abu Bakar Ash-Shidiq (Sahabat Dekat Nabi SAW)
Orang-orang yang masuk Islam dengan perantaraan Abu Bakar Ash-Shidiq yaitu:
a). Utsman Bin Affan
b). Zubair Bin Awwam
c). Saad Bin Abi Waqqash
d). Abdurahman Bin Auf
e). Thalhah Bin “Ubaidillah
f). Abu Ubaidillah Bin Jarrah
g). Arqam Bin Abil Arqam
h). Fatimah Binti Khathab
Mereka itu diberi gelar “As-Saabiqunal Awwaluun” Artinya orang-orang yang terdahulu dan yang pertama-tama masuk Islam dan mendapat pelajaran tentang Islam langsung dari Rasulullah SAW di rumah Arqam Bin Abil Arqam.
2). Menyiarkan Agama Islam Secara Terang-Terangan
Tiga tahun lamanya Rasulullah SAW dakwah secara sembunyi sembunyi dari satu rumah ke rumah lainnya. Kemudian turun surat Al Hijr: 94 (QS 15 ayat 94).
Artinya”Maka sampaikanlah secara terang-terangan segala apa yang telah diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik (QS Al Hijr : 15).
Dengan turunnya ayat ini Rasulullah SAW menyiarkan dakwah secara terang-terangan dan meninggalkan cara sembunyi-sembunyi. Agama Islam menjadi perhatian dan pembicaraan yang ramai dikalangan masyarakat Makkah. Islam semakin meluas dan pengikutnya semakin bertambah.
Bagaimana tanggapan orang-orang Quraisy?
Orang-orang quraisy marah dan melarang penyiaran islam bahkan nyawa Rasul terancam. Nabi beserta sahabatnya semakin kuat dan tangguh tantangan dan hambatan dihadapi dengan tabah serta sabar walaupun ejekan, cacian, olok-olokan dan tertawaan, menjelek-jelekkan, melawan al-Qur’an dan memberikan tawaran bergantian dalam penyembahan.
Dakwah secara terangan ini walaupun banyak tantangan banyak yang masuk Agama Islam dan untuk penyiaran Islam Nabi SAW ke Habasyah (Etiopia),Thaif, dan Yatsrib (Madinah). Sehingga Islam meluas dan banyak pengikutnya.
Pada masa kerasulan Nabi Muhammad SAW th ke 10 pada saat “Amul Khuzni”artinya tahun duka cita yaitu Abu Thalib (pamannya wafat) dan siti Khadijah (istri nabi juga wafat) serta umat Islam pada sengsara. Ditengah kesedihan ini Nabi Muhammad dijemput oleh Malaikat Jibril untuk Isra’ Mi’raj yaitu sebuah perjalanan dari masjidil Aqsha ke Masjidil Haram dan dari Masjidil Haram menuju ke Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT untuk menerima perintah shalat lima waktu.
6. Rasulullah SAW sebagai Uswatun Hasanah
Uswatun Hasanah artinya teladan yang baik. Panutan dan teladan umat Islam adalah Nabi Muhammad SAW. seorang laki-laki pilihan Allah SWT yang diutus untuk menyampaikan ajaran yang benar yaitu Agama Islam. Oleh sebab itu, kita sebagai muslim harus meniru dan mencontoh kepribadian beliau. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam QS Al Ahzab ayat 21 yang berbunyi:
Artinya”Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah SAW suri teladan yang baik bagimu bagi orang yang mengharap rahmat Allah SWT dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(QS Al Ahzab:21).
Untuk dapat meneladani Rasulullah SAW harus banyak belajar dari Al-Qur’an dan Al Hadits. Sebagai salah satu contoh saja yaitu tentang kejujuran dan amanah atau dapat dipercayanya nabi Muhammad SAW.
7. Sifat Rasulullah SAW
Rasulullah SAW mempunyai sifat yang baik yaitu:
1). Siddiq
Siddiq artinya jujur dan sangat tidak mungkin Rasulullah bersifat bohong
(kidzib)
Rasulullah sangat jujur baik dalam pekerjaan maupun perkataannya. Apa yang
dikatakan dan disampaikan serta yang diperbuat adalah benar dan tidak bohong.
Karena akhlak Rasulullah adalah cerminan dari perintah Allah SWT.
2). Amanah
Amanah artinya dapat dipercaya.
Sangat tidak mungkin Rasulullah bersifat Khianat atau tidak dapat dipercaya.
Rasulullah tidak berbuat yang melanggar aturan Allah SWT. Rasulullah taat
kepada Allah SWT. Dan dalam membawakan risalah sesuai dengan petunjuk
Allah SWT tidak mengadakan penghianatan terhadap Allah SWT maupun
kepada umatnya.
3). Tabligh
Tabligh artinya menyampaikan.
Rasulullah sangat tidak mungkin untuk menyembunyikan (kitman).
Setiap wahyu dari Allah disampaikan kepada umatnya tidak ada yang ditutup-
tutupi atau disembunyikan walaupun yang disampaikan itu pahit dan bertentangan dengan tradisi orang kafir.
Rasulullah menyampaikan risalah secara sempurna sesuai dengan perintah Allah SWT.
4). Fathonah
Fathonah artinya cerdas
Sangat tidak mungkin Rasul bersifat baladah atau bodoh.
Para Rasul semuanya cerdas sehingga dapat menyampaikan wahyu yang telah
diterima dari Allah SWT. Rasul adalah manusia pilihan Allah SWT maka sangat tidak mungkin Rasul itu bodoh. Apabila bodoh bagaimana bisa menyampaikan wahyu Allah.
8. Haji Wada’ Rasulullah SAW
Pada tahun 10 H, nabi Muhammad SAW melaksanakan haji yang terakhir yautu haji wada’. Sekitar 100 ribu jamaah yang turut serta dalam ibadah haji bersama beliau. Pada saat wukuf di arafah Nabi SAW menyampaikan khutbahnya dihadapan umatnya yaitu yang berisi pelarangan melaksanakan penumpahan darah kecuali dengan cara yang benar, melarang mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak benar, melarang makan makanan yang riba dan menganiaya, hamba sahaya harus diperlakukan dengan baik, dan umatnya supaya berpegang teguh dengan Al Qur’an dan sunah Nabi SAW.
Dalam surat Al Maidah ayat 3 telah diungkapkan bahwa:
Artinya: “ Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan sungguh telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (Q.S. Al Maidah (5) : 3).
Ayat ini menjelaskan bahwa dakwah nabi Muhammad SAW telah sempurna. Nabi Muhammad SAW dakwah selama 23 tahun. Pada suatu hari beliau merasa kurang enak badan, badan beliau semakin tambah melemah, beliau menunjuk Abu Bakar sebagai imam pengganti beliau dalam shalat. Pada tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 11 Hijriyah beliu wafat dalam usia 63 tahun.
B. Nabi Muhammad SAW Rahmatan Lil ‘Alamin
Nabi Muhammad SAW adalah nabi akhiruzzaman yaitu nabi yang terakhir di dunia ini. Maka setelah nabi Muhammad Saw tidak ada nabi lagi di dunia ini. Allah SWT mengutus nabi Muhammad SAW sebagai rahmatan lil ‘Alamin yaitu untuk semua manusia dan bangsa. Nabi Muhammad Saw diutus untuk memberikan bimbingan kepada manusia agar menjalani hidup yang benar sehingga dapat memperoleh kebahagiaan di dunia maupun di akherat.
Misi Nabi Muhammad SAW
Misi yang dibawa nabi Muhammad SAW adalah cerminan atau panutan bagi seluruh umat manusia yaitu sebagai berikut:
a. Menyiarkan agama Islam
Islam disiarkan atau didakwahkan Rasulullah SAW secara sempurna terhadap umat manusia yaitu selama 23 tahun.
b. Menyampaikan wahyu Allah SWT
Wahyu Allah SWT yaitu berupa Al Qur’an. Al Qur’an ini di dakwahkan kepada umat manusia dan bangsa sebagai pedoman hidup.
c. Menyampaikan kabar gembira dan peringatan kepada umat manusia
d. Menyempurnakan akhlak yaitu akhlak Qurani
Misi nabi Muhammad SAW tidak hanya dikalangan kaum tertentu saja akan tetapi Rasulullah SAW diutus untuk seluruh kaum dan bangsa dan ajarannya berlaku untuk seluruh umat manusia sepanjang masa. Dari berbagai sumber

> Pendeta Fundamentalis Radikal Masuk Islam


Allah berfirman:"Dan orang-orang yang berjuang untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (Q.S. Al-Ankabût [29]: 69)


Sue Watson merupakan seorang profesor, pendeta, dan misionaris, yang pantas disebut sebagai fundamentalis radikal, dan kini telah memutuskan untuk menjadi muallaf.

Hidayah telah menghampirinya, sehingga dia tertarik pada Islam, dan akhirnya memeluk agama yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW ini. Kisah keislamannya bermula ketika dia baru saja lulus dari pendidikan pasca sarjana, lima bulan setelah mendapatkan gelar Master of Divinity (Ketuhanan) dari sekolah seminari ternama, dia bertemu seorang wanita yang pernah bekerja di Arab Saudi dan telah memeluk Islam.

Jiwa misionarisnya muncul. Dia pun mencoba bertanya kepada wanita itu dengan maksud menjalankan misi kristennya. Kepada wanita itu, Watson bertanya tentang perlakuan Islam terhadap wanita. ”Saya terkejut dengan jawabannya. Jawaban itu bukan yang saya harapkan, jadi saya bertanya lagi tentang Tuhan (Allah SWT) dan Muhammad,” ujarnya. Namun wanita itu tidak mau menjawab pertanyaan tersebut. Wanita itu justru mengajak Watson untuk berkunjung ke Islamic Center karena di sana ada orang yang bisa menjawab pertanyaan itu dengan lebih baik.

Selama delapan tahun, Watson mempelajari kristen di sekolah teologi. Sebagai seorang penganut Kristen yang taat, dia memandang Islam sebagai agama setan. Dalam setiap doanya, dia meminta kepada Yesus agar dilindungi dari roh- roh jahat. Namun setelah peristiwa di atas dan dia kemudian berdialog di Islamic Center tersebut, dia seperti mendapatkan pandangan lain tentang Islam. ”Saya cukup terkejut dengan pendekatan mereka (umat Islam), karena langsung dan lugas. Tidak ada intimidasi, pelecehan (terhadap agama lain), dan tak ada manipulasi psikologis,” tuturnya.

Watson pun menceritakan, ustadz di Islamic Center itu menawarkan dirinya untuk mempelajari Alquran di rumahnya. ”Ini seperti studi banding terhadap Alkitab”. Saya tak percaya, mereka kemudian memberikan beberapa buku mengenai Islam dan mengatakan jika saya memiliki pertanyaan maka mereka akan bersedia menjawabnya di kantor katanya.

Malamnya, Watson langsung membaca semua buku itu. Itulah untuk kali pertama, dia membaca buku tentang Islam yang ditulis oleh seorang Muslim sendiri. Selama ini, dia hanya membaca buku-buku mengenai Islam yang ditulis oleh orang Kristen. Keesokan harinya, dia kembali menemui Ustadz itu untuk menanyakan beberapa hal mengenai Islam yang didapatnya dari membaca buku itu. Hal itu terus berulang setiap hari selama sepekan. Hingga tanpa terasa, dia telah membaca sebanyak 12 buku dalam tempo sepekan itu.

Dari situ, dia mulai memahami mengapa Muslim merupakan umat yang paling sulit di dunia ini untuk diajak memeluk Kristen, karena tak ada lagi yang bisa ditawarkan kepada mereka (Muslim). Islam mengajarkan hubungan dengan Tuhan, pengampunan dosa, keselamatan, dan janji kehidupan yang kekal,” paparnya.

Selama menjalani proses dialog itu, secara alamiah, pertanyaan pertamanya terpusat kepada Allah, Tuhan umat Islam. Siapakah Allah yang disembah kaum Muslim ini? Sebagai seorang Kristen, dia diajarkan bahwa Allah itu merupakan Tuhan palsu. Namun setelah membaca buku Islam dan berdialog, dia baru mengetahui bahwa Allah itu Maha Kuasa, Maha Mengetahui, dan Allah itu Maha Esa. Tidak ada Tuhan lain yang mendampingi Allah.

Selanjutnya, pertanyaan yang penting lainnya yakni tentang Muhammad. Siapa Muhammad? Dia baru mengetahui bahwa umat Muslim tidak berdoa kepada Muhammad, seperti orang Kristen berdoa kepada Yesus. Dia (Muhammad) juga bukan seorang perantara, sehingga dilarang berdoa kepadanya. Dia pun mengetahui bahwa umat Islam juga percaya pada Yesus sebagai seorang nabi seperti Muhammad. Menurutnya, banyak kesalahpahaman dari penganut Kristen tentang Islam.

Tanpa disadarinya, dia mulai mengakui kebenaran Islam. ”Tapi saya tidak beralih memeluk Islam pada waktu itu juga karena saya belum percaya sepenuhnya di dalam hati. Saya terus pergi ke gereja, membaca Alkitab, akan tetapi di satu sisi juga belajar Islam di Islamic Center. ”Saya benar-benar meminta petunjuk Tuhan, karena tak mudah untuk pindah agama. Saya tak mau kehilangan keselamatan,” ucapnya.

Dua bulan setelah proses pengenalan dengan Islam, Watson masih terus meminta kepada Tuhan agar diberikan petunjuk. Hingga akhirnya, suatu ketika, dia merasakan ada sesuatu yang jatuh meresap ke dalam dirinya. ”Saya lantas terduduk, dan itulah untuk kali pertama saya menyebut nama Allah SWT. Ada kedamaian yang dirasakan. Dan sejak itu, empat tahun lalu hingga sekarang, saya percaya bahwa Allah lah satu-satunya Tuhan” tuturnya.

Keputusannya memeluk Islam bukannya tanpa risiko. Setelah menjadi mualaf, Watson dipecat dari pekerjaan sebagai pengajar di dua Perguruan Tinggi Kolese, dikucilkan oleh teman-temannya di sekolah Teologi dan sesama profesor teologi, dan tidak diakui lagi oleh keluarga suaminya. Pilihannya itu juga disikapi negatif oleh anak-anaknya yang sudah dewasa dan dicurigai oleh pemerintahnya sendiri.

”Tanpa adanya kekuatan iman, mungkin saya sudah tak sanggup menghadapi itu semua,” ujarnya. ”Saya sangat berterima kasih kepada Allah SWT yang telah menjadikan saya sebagai Muslim. Dan saya berharap hidup dan mati sebagai Muslim.”

Mantan misionaris yang kini telah berganti nama menjadi Khadijah Watson itu, sekarang bekerja sebagai seorang guru untuk melayani kalangan perempuan di salah satu pusat dakwah di Jeddah, Arab Saudi.

Sumber: voa-islam.com

Hidayah itu adalah pemberian Allah yang Allah berikan kepada orang-orang yang Allah kehendaki karena masih ada orang-orang yang memperjuangkan agama Allah dengan dakwah jihad fisabilillah . Dakwah adalah tanggung jawab kita semua saudaraku, karena itulah keutamaan kita umat islam. Sebagaimana pun rusaknya umat ini sudah tidak ada nabi lagi karena nabi terakhir adalah nabi muhammad s.a.w. Bersyukurlah kita selama masih ada hamba beriman yang masih mau berdakwah.

> Ahli Kitab dan Kerasulan Muhammad SAW


Oleh: Tasrief Surungan

Berita akan datangnya Nabi akhir zaman, yang kelak bernama Muhammad, Sang Terpercaya, sebenarnya telah ada dalam kitab-kitab sebelumnya, yakni Taurat dan Injil. Allah SWT berfirman kepada Nabi Musa A.S.
" Akan Aku angkat seorang Nabi dari sanak saudara mereka, sebagaimana juga kenabian kepada Kamu, dan Akan Kutetapkan FirmanKu ke mulutnya hingga dia akan berbicara kepada mereka semua yang akan Aku perintahkan. (Deuteronomy 18:18) Siapakah seorang nabi yang dimaksud? Tidak lain adalah Rasulullah Muhammad S.A.W. Beliau menerima firman dari Allah berupa Al Quran, yang di dalamnya terdapat petunjuk yang nyata. Sedangkan yang Allah maksudkan "sanak saudara mereka" adalah anak cucu (keturunan) Nabi Ismail A.S, sepupu keturunan kaum Yahudi, anak cucu Nabi Ishaq A.S. Pernyataan Allah kepada Musa "sebagaimana kenabian kepadamu", mengandung makna bahwa antara kenabian Musa dan Muhammad memiliki beberapa persamaan, antara lain keduanya menghadapi tantangan yang demikian berat, diberi aturan hidup kemasyarakatan yang cukup komprehensif, dll.
Dalam Injil, Isa putra Maryam berkata: Jika Aku masih ada, maka Pemberi Peringatan (Conforter) itu tak akan datang padamu, tetapi jika Aku pergi, maka, Aku akan mengirimkannya kepadamu. Ia akan membimbingmu kepada kebenaran, sebab ia akan berbicara tentang dirinya tetapi apapun yang ia dengar, maka ia harus mengatakannya. (john 16:7 dan 16:13). Kaum Kristiani menafsirkan conforter itu sebagai Roh Kudus, untuk tidak mengakui kenabian Muhammad SAW, padahal, kalau merujuk ke Bahasa Ibrani, sebagai bahasa paling tua dari injil yang dapat ditemukan (kendati Isa AS, berbicara dalam bahasa Aramaik), maka "conforter", tersebut akan mirip dengan nama Ahmad atau Muhammad dalam Bahasa Arab. Tentang apa yang dikatakan Isa Almasih, Al Quran memberi informasi sbb:
Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata:"Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira akan kedatangan seorang Rasul bernama Ahmad (Muhammad)'... (QS 61:6)
Bagi, para ahli kitab yang ikhlas jaman dulu, mereka tahu betul dan bahkan menunggu akan janji Allah itu. Karenanya, seperti diketahui dalam kisah Nabawiah, ketika Muhammad belum menjadi Nabi, masih kanak-kanak, dalam perjalanan berdagang menuju Syam bersama pamannya Abu Thalib, bertemu dengan seorang pendeta Yahudi bernama Bahira, dengan mudah pendeta tsb dapat mengenali ciri-ciri kenabian yang ada pada diri Muhammad. Juga ketika beberapa hari setelah wahyu pertama, Khadija RA membawa Nabi ke pendeta Nasrani, Waraqah bin Nufail yang tanpa ragu mengatakan bahwa" Itu adalah perjumpaan Anda dengan Penghulu Malaikat, Malaikat jibril, malaikat yang sama yang datang kepada Musa. Sekiranya saya masih muda maka tentu saya akan menjadi pengikut dan pendukung anda pada saat nantinnya Anda diusir oleh kaum Anda dari tanah ini.
Orang-orang di sekitar Nabi sendiri yang punya pengetahuan seperti Abu Bakar sangat meridukan akan realisasi kabar kembira dari Alkitab. Abu Bakar, yang sering berdagang ke Syam, sering sekali mendengar penuturan orang-orang yang dijumpainya di Syam, bahwa dari sekitar Mekah itulah kelak akan diturunkan Nabi terakhir. Alasannya, karena di sanalah berdiam anak cucu keturunan Nabi Ismail AS, yang kelak salah seorang daripadanya akan diangkat oleh Allah menjadi Nabi, sebagaimana tercantum dalam kitab Taurat, dan telah dikutipkan di atas. Bagian lain kitab Taurat menyebutkan bahwa kelak nabi itu adalah dari keturunan Ke'dar (Isaiah 42:11),sedangkan Genesis 25:13, menyebutkan bahwa Ke'dar adalah anak kedua dari Ismail. Abu Bakar yang menyaksikan keadaan masyarakat Mekah yang kian hari kian rusak moralnya, menyadari akan semakin dekatnya kedatangan Nabi yang ditunggu itu. Bahkan, terkadang dalam benaknya menebak-nebak, siapa gerangan di antara penduduk Mekah yang akan bakal menjadi Nabi itu. Hingga pada suatu waktu, dalam keresahan dan penantian yang memuncak, Abu Bakar dikabari bahwa Muhammad sahabatnya, yang selama itu dikenalnya sebagai orang paling jujur, paling baik dan paling ikhlas di antara orang Quraish, telah memprolamirkan diri sebagai Nabi, maka tanpa ragu-ragu Abu Bakar saat itu juga membenarkan.
Fenomena pengakuan kenabian Muhammad saw telah berlangsung dari dulu hingga kini. Demikianlah, Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendakinya. Akan tetapi ada pula dari sebagian ahli kitab yang justru ingkar, kendati pada awalnya menunggu. Bahkan, beberapa di antara mereka dengan lancang mengadakan perubahan terhadap naskah Taurat dan Injil. Sebagai contoh mari kita telaah kisah ibadah qurban oleh Nabi Ibrahim. Taurat menuturkan sbb: " Allah berfirman:" Ambillah sekarang anakmu, anakmu yang tunggal, Ishaq, yang kamu kasihi dan pergilah ke tanah Moria, dan korbankanlah ia sebagai persembahan di salah satu dari bukit yang akan Aku tunjukkan kemudian". (Genesis 22:2). Kalau dicermati, maka ada kontradiksi dalam redaksi ayat ini, sebab menurut kitab Taurat sendiri, Ishaq bukanlah anak tunggal. Ia lahir setelah Ismail. Juga mengenai tempat kejadian, Tanah Moria, kaum Yahudi dan Nasrani menganggapnya di sekitar Palestina, sebagai tempat kediaman Ishaq dan ibunya Zarah, padahal sesungguhnya tanah Moria adalah tanah yang diperlihatkan Allah kepada Ibrahim dalam mimpi, dan terletak di sekitar Baitullah, tempat Ismail dan ibunya St. Hajar bermukim. Itu sebabnya, hinnga kini baik kaum Yahudi dan Nasrani bingung, tak tahu dimana letak tanah Moria itu. Sebab mendasarkan diri pada Taurat yang telah diubah tsb. Juga, apabila peneleahan dilanjutakan hingga akhir Genesisi 22, terlihat jelas bahwa setting background tidak cocok jika tetap dipaksakan bahwa yang akan dikorbankan adalah Ishaq. Berbeda halnya apabila kita menerima versi cerita menurut Al Quran, dimana yang direncanakan untuk dikorbankan adalah Ismail. Sehingga, sekiranya tak ada perubahan terhadap naskah Taurat, kurang lebih akan berbunyi sbb: Dan Ambillah Anakmu Yang pertama Ismail, yang kamu cintai..."
Dengan demikian lanjutannya cerita dari genesis 22 tidak akan kontradiksi, dan akan jelas bahwa memang agama Allah itu satu adanya, yaitu Agama Ibrahim yang hanif, Islam. Upaya pendeta yahudi untuk menghindarkan ketokohan Ismail dalam cerita Taurat tiada lain adalah bagian dari keengganan menerima Islam. Alquran memperingatkan mereka sbb: "Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir padanya". (QS 2:41). "Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'kub. (Ibrahim berkata):"Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama islam".(QS 2:132).
Selanjutnya Al Quran mengajarkan bagaimana muslim meresponi mereka, "Dan mereka berkata:"Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk". Katakanlah:"Tidak, bahkan kami mengikuti agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah Ibrahim dari golongan yang musyrik". Katakanlah:"Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'kub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepadaNya".(QS 2:136). Katakanlah: "Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepadaNya kami mengikhlaskan hati, ataukah kamu (hai Orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishaq, ya'kub dan anak-anak cucunya adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah:" Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya? Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.
Simpulan
Kerasulan Muhammad SAW sejak awal telah diisyaratkan dalam kitab-kitab sebelumnya. Beliau adalah penutup sekaligus pelengkap risalah yang diturunkan Allah SWT. Allah berfirman: " Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni'matKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu" (QS 5:3).
Allah juga menegaskan " Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima agama itu daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang yang merugi. (QS 3:85)
Maha Benar Allah dengan dengan segala FirmanNya.

Rabu, 20 Februari 2013

> Susunan Keluarga Nabi Muhammad saw

Istri Istri Nabi
Istri Pertama    : Khadijah binti Khuailid
Istri Kedua     : Saudah Al-A’miriyah
Istri Ketiga     : A’isyah binti Abu Bakar
Istri Keempat   : Hafshah binti Umar bin Khattab
Istri kelima     : Zainab binti Khuzaimah
Istri Keenam     : Hind binti Hudhaifah
Istri Ketujuh    : Zainab binti Jahsy
Istri Kedelapan  : Juairiyah binti Harist
Istri Kesembilan : Shafiyyah binti Hay
Istri Kesepuluh : Ramlah binti Abu sufyan
Istri Kesebelas : Maimunah binti Harist
Istri Keduabelas : Mariya Al-Qibthiyyah
Putra Putri Nabi
Pertama  : Zainab
Kedua   : Qasim
Ketiga   : Ruqayyah
Keempat : Ummu Kalstum
Kelima  : Fatimah
Keenam : Abdullah
Ketujuh : Ibrahim
Cucu Nabi
Pertama  : Hasan
Kedua   : Husein

> BELAJAR BAHASA ARAB



mempelajari bahasa arab disamping mempelajari bahasa inggris adalah penting  sebab bahasa arab tanpa bahasa ingris kuran afdol begitu juga sebaliknya