Senin, 29 Januari 2018

RAHSIA MAKRIFAT III : RAHSIANYA MENGENAL ZAT ALLAH DAN ZAT RASULULLAH

Ada pun makrifat itu rahsianya ialah mengenal Zat Allah dan Zat Rasulullah,oleh kerana itulah makrifat dimulakan:-

1. Makrifat diri yang zahir.
2. Makrifat diri yang bathin.
3. Makrifat Tuhan.


APA GUNA MAKRIFAT?

Ada pun guna makrifat kerana mencari HAKIKAT iaitu mengenal yang Qadim dan mengenal yang baharu sebagaimana kata:

"AWALUDDIN MAKRIFATULLAH"

Ertinya: Awal ugama mengenal Allah.
Maksudnya mengenal yang mana Qadim dan yang mana baharu serta dapat mengenal yang Qadim dan yang baharu,maka dapatlah membezakan diantara Tuhan dengan hamba.


BAITULLAH KALBU MUKMININ
Sesungguhnya hati ini sewaktu bayi sehingga aqil baliq diibaratkan bunga yang sedang menguntum,tidak ada seekor ulat atau kumbang yang dapat menjelajahnya! apabila dewasa (aqil baliq) maka hati itu ibaratkan bunga yang sedang mengembang,maka masuklah ulat dan kumbang menjelajah bunga itu!
Sesungguhnya amalan makrifat dan zikir yang dibaiah itu adalah untuk membersihkan hati agar dapat menguntum semula seperti hati kanak-kanak yang suci-bersih!
Hati ini juga seperti satu bekas menyimpan gula yang tertutup rapat dan dijaga dengan baik! sekiranya tutup itu tidak jaga dengan baik atau tutupnya sudah rosak,maka masuklah semut hitam yang sememangnya gula itu makanannya!

PEPERANGAN
Peperangan yang lebih besar dari perang UHUD, KHANDAK dan lain-lain peperangan ialah "Peperangan dalam diri sendiri (Hati)", setiap saat denyut jantung ku ini, aku akan terus berperang.Sesungguhnya iblis itu menanti saat dan ketika untuk merosakkan anak Adam !Sekiranya aku tidak ada bersenjata (zikir), nescaya aku pasti kecundang!Keluar masuk nafas anak Adam adalah zikir! 6,666 sehari semalam nafas keluar dan masuk, sekiranya anak Adam tidak bersenjata, pasti ia kecundang!

ASAL USUL MAKRIFAT

Rasulullah SAW mengajar kepada sahabatnya Saidina Ali Karamullah.Saidina Ali Karamullah mengajar kepada Imam Abu Hassan Basri.Imam Abu Hassan Basri mengajar kepada Habib An Najmi.Habib An Najmi mengajar kepada Daud Attaie.Daud Attaie mengajar kepada Maaruf Al Karhi.Maaruf Al Karhi mengajar kepada Sirris Sakatari.Sirris Sakatari mengajar kepada Daud Assakatar.Daud Assakatar mengajar kepada Al Junidi. Maka Al Junidi yang terkenal sebagai pengasas MAKRIFAT.Maka pancaran makrifat itu dari empat sumber iaitu:

1. Pancaran daripada sumber SULUK yang dinamakan
Makrifat Musyahadah.
2. Pancaran daripada sumber KHALWAT yang dinamakan
Makrifat Insaniah.
3. Pancaran daripada Inayah yang dinamakan ROHANI.
4. Pancaran daripada Pertapaan yang dinamakan JIRIM.

Maka dari sumber amalan itulah terbit makrifat yang tinggi dan mempunyai rahsia yang sulit.

 

API MA'RIFATULLAH

 

Dengan berlindung kepada Allah Swt, Pencetusan Api Ma’rifattullah dalam kalimah “ALLAH” saya awali.

Syahdan, nama Allah itu tidak akan pernah dapat dihilangkan, sebab nama Allah itu akan menjadikan Zikir bagi para Malaikat, Zikir para burung, Zikir para binatang melata, Zikir tumbuh-tumbuhan dan Zikir dari Nasar yang 4 (tanah, air, angin dan api) serta zikir segala makhluk yang ada pada 7 lapis langit dan 7 lapis bumi, juga zikir makhluk yang berdiam diantara langit dan bumi. (buka…..Al-Qur’an, Surah At-thalaq, ayat 1).

Adapun zikir para makhluk Allah yang kami sebutkan tadi tidaklah sama logatnya, dan tidak sama pula bunyi dan bacaannya. Tidak sedikit para akhli Sufi dan para wali-wali Allah yang telah mendengar akan bunyi zikir para makhluk itu, sungguh sangat beraneka ragam bunyinya.

Dalam Kitab Taurat, nama Zat yang maha Esa itu ada 300 banyaknya yang ditulis menurut bahasa Taurat, dalam Kitab Zabur juga ada 300 banyaknya nama Zat yang maha esa itu yang ditulis dengan bahasa Zabur.

Dalam Kitab Injil juga ada 300 banyaknya nama Zat yang Esa itu yang ditulis dengan bahasa Injil, dan dalam Kitab Al-Qur’an juga ada 99 nama Zat yang esa itu ditulis dalam bahasa Arab. Jika kita berhitung maka dari keempat kitab itu yang ditulis berdasarkan versinya, maka akan ada 999 nama bagi zat yang maha esa itu, dari jumlah tersebut maka yang 998 nama itu, adalah nama dari Sifat Zat yang maha Esa, sedangkan nama dari pada Zat yang maha esa itu hanya satu saja, yaitu “ ALLAH ”.

Diterangkan didalam Kitab Fathurrahman, berbahasa Arab, yaitu pada halaman 523. disebutkan bahwa nama Allah itu tertulis didalam Al-Qur’an sebanyak 2.696 tempat.

Apa kiranya hikmah yang dapat kita ambil mengapa begitu banyak nama Allah, Zat yang maha Esa itu bagi kita…?

Allah, Zat yang maha esa, berpesan :

“ Wahai Hambaku janganlah kamu sekalian lupa kepada namaku “

Maksudnya : Allah itu namaku dan Zatku, dan tidak akan pernah bercerai, Namaku dan Zatku itu satu.

Allah Swt juga telah menurunkan 100 kitab kepada para nabi-nabinya, kemudian ditambah 4 kitab lagi sehingga jumlah keseluruhan kitab yang telah diturunkan-Nya berjumlah 104 buah kitab, dan yang 103 buah kitab itu rahasianya terhimpun didalam Al-Qur’annul karim, dan rahasia Al-Qur’annul karim itu pun rahasianya terletak pada kalimah “ALLAH”.

Begitu pula dengan kalimah La Ilaha Ilallah, jika ditulis dalam bahasa arab ada 12 huruf, dan jika digugurkan 8 huruf pada awal kalimah La Ilaha Ilallah, maka akan tertinggal 4 huruf saja, yaitu Allah.

Ma’na kalimah ALLAH itu adalah sebuah nama saja, sekalipun digugurkan satu persatu nilainya tidak akan pernah berkurang, bahkan akan mengandung ma’na dan arti yang mendalam, dan mengandung rahasia penting bagi kehidupan kita selaku umat manusia yang telah diciptakan oleh Allah Swt dalam bentuk yang paling sempurna.

ALLAH jika diarabkan maka Ia akan berhuruf dasar Alif, Lam diawal, Lam diakhir dan Ha.
Seandai kata ingin kita melihat kesempurnaannya maka gugurkanlah satu persatu atau huruf demi hurufnya.

• Gugurkan huruf pertamanya, yaitu huruf Alif (
ا ), maka akan tersisa 3 huruf saja dan bunyinya tidak Allah lagi tetapi akan berbunyi Lillah, artinya bagi Allah, dari Allah, kepada Allahlah kembalinya segala makhluk.
• Gugurkan huruf keduanya, yaitu huruf Lam awal (
ل ), maka akan tersisa 2 huruf saja dan bunyinya tidak lillah lagi tetapi akan berbunyi Lahu.
Lahu Mafissamawati wal Ardi, artinya Bagi Allah segala apa saja yang ada pada tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi.
• Gugurkan huruf ketiganya, yaitu huruf Lam akhir (
ل), maka akan tersisa 1 huruf saja dan bunyinya tidak lahu lagi tetapi Hu, Huwal haiyul qayum, artinya Zat Allah yang hidup dan berdiri sendirinya.

Kalimah HU ringkasnya dari kalimah Huwa, sebenarnya setiap kalimah Huwa, artinya Zat, misalnya :

Qul Huwallahu Ahad., artinya Zat yang bersifat kesempurnaan yang dinamai Allah. Yang dimaksud kalimah HU itu menjadi berbunyi AH, artinya Zat.

Bagi sufi, napas kita yang keluar masuk semasa kita masih hidup ini berisi amal bathin, yaitu HU, kembali napas turun di isi dengan kalimah ALLAH, kebawah tiada berbatas dan keatas tiada terhingga.

Perhatikan beberapa pengguguran – pengguguran dibawah ini :

Ketahui pula olehmu, jika pada kalimah ALLAH itu kita gugurkan Lam (
ل ) pertama dan Lam (ل ) keduanya, maka tinggallah dua huruf yang awal dan huruf yang akhir (dipangkal dan diakhir), yaitu huruf Alif dan huruf Ha (dibaca AH).

Kalimah ini (AH) tidak dibaca lagi dengan nafas yang keluar masuk dan tidak dibaca lagi dengan nafas keatas atau kebawah tetapi hanya dibaca dengan titik.

Kalimah AH, jika dituliskan dengan huruf Arab, terdiri 2 huruf, artinya dalam bahasa disebutkan INTAHA (Kesudahan dan keakhiran), seandai saja kita berjalan mencari Allah tentu akan ada permulaannya dan tentunya juga akan ada kesudahannya, akan tetapi kalau sudah sampai lafald Zikir AH, maka sampailah perjalanan itu ketujuan yang dimaksudkan. (Silahkan bertanya kepada akhlinya)

Selanjutnya gugurkan Huruf Awalnya, yaitu huruf ALIF dan gugurkan huruf akhirnya, yaitu huruf HA, maka akan tersisa 2 buah huruf ditengahnya yaitu huruf LAM pertama (Lam Alif) dan huruf LAM kedua ( La Nafiah). Qaidah para sufi menyatakan tujuannya adalah Jika berkata LA (Tidak ada Tuhan), ILLA (Ada Tuhan), Nafi mengandung Isbat, Isbat mengandung Nafi tiada bercerai atau terpisah Nafi dan Isbat itu.

Selanjutnya gugurkan huruf LAM kedua dan huruf HU, maka yang tertinggal juga dua huruf, yaitu huruf Alif dan huruf Lam yang pertama, kedua huruf yang tertinggal itu dinamai Alif Lam La’tif dan kedua huruf itu menunjukkan Zat Allah, maksudnya Ma’rifat yang sema’rifatnya dalam artian yang mendalam, bahwa kalimah Allah bukan NAKIRAH, kalimah Allah adalah Ma’rifat, yakni Isyarat dari huruf Alif dan Lam yang pertama pada awal kalimah ALLAH.

Gugurkan tiga huruf sekaligus, yaitu huruf LAM pertama, LAM kedua, dan HU maka tinggallah huruf yang paling tunggal dari segala yang tunggal, yaitu huruf Alif (Alif tunggal yang berdiri sendirinya).

Berilah tanda pada huruf Alif yang tunggal itu dengan tanda Atas, Bawah dan depan, maka akan berbunyi : A.I.U dan setiap berbunyi A maka dipahamhan Ada Zat Allah, begitu pula dengan bunyi I dan U, dipahamkan Ada Zat Allah dan jika semua bunyi itu (A.I.U) dipahamkan Ada Zat Allah, berarti segala bunyi/suara didalam alam, baik itu yang terbit atau datangnya dari alam Nasar yang empat (Tanah, Air, Angin dan Api) maupun yang datangnya dan keluar dari mulut makhluk Ada Zat Allah.

Penegasannya bunyi atau suara yang datang dan terbit dari apa saja kesemuanya itu berbunyi ALLAH, nama dari Zat yang maha Esa sedangkan huruf Alif itulah dasar (asal) dari huruf Arab yang banyaknya ada 28 huruf.

Dengan demikian maka jika kita melihat huruf Alif maka seakan-akan kita telah melihat 28 huruf yang ada. Lihat dan perhatikan sebuah biji pada tumbuh-tumbuhan, dari biji itulah asal usul segala urat, batang, daun, ranting, dahan dan buahnya.

Syuhudul Wahdah Fil Kasrah, Syuhudul Kasrah Fil Wahdah.

Pandang yang satu kepada yang banyak dan pandang yang banyak kepada yang satu maka yang ada hanya satu saja yaitu satu Zat dan dari Zat itulah datangnya Alam beserta isinya.

Al-Qur’an yang jumlah ayatnya 6666 ayat akan terhimpun kedalam Suratul Fatekha, dan Suratul Fatekha itu akan terhimpun pada Basmallah, dan Basmallah itupun akan terhimpun pada huruf BA, dan huruf BA akan terhimpun pada titiknya (Nuktah). Jika kita tilik dengan jeli maka titik itulah yang akan menjadi segala huruf, terlihat banyak padahal ia satu dan terlihat satu padahal ia banyak.
Selanjutnya Huruf-huruf lafald Allah yang telah digugurkan maka tinggallah empat huruf yang ada diatas lafald Allah tadi, yaitu huruf TASYDID (bergigi tiga, terdiri dari tiga huruf Alif) diatas Tasydid adalagi satu huruf Alif.

Keempat huruf Tasydid itu adalah isyarat bahwa Tuhan itu Ada, maka wajib bagi kita untuk mentauhidkan Asma Allah, Af’al Allah, Sifat Allah dan Zat Allah.
Langkah terakhir gugurkan keseluruhannya, maka yang akan tinggal adalah kosong.
LA SAUTUN WALA HARFUN, artinya tidak ada huruf dan tiada suara, inilah kalam Allah yang Qadim, tidak bercerai dan terpisah sifat dengan Zat.

Tarku Mayiwallah (meninggalkan selain Allah) Zat Allah saja yang ada.
La Maujuda Illallah (tidak ada yang ada hanya Allah).

Sembilan kali sudah kita menggugurkan kalimah Allah, seandainya juga belum dapat dipahami maka tanyakanlah kepada akhlinya.

SEBAHAGIAN PARA HAMBA DITENTUKAN OLEH ALLAH S.W.T UNTUK BERKHIDMAT KEPADA-NYA DAN ADA PULA SEBAHAGIAN YANG DIISTIMEWAKAN ALLAH S.W.T DENGAN MENCINTAI-NYA. KEPADA MASING-MASING ITU DIBERIKAN BANTUAN DARI KURNIAAN TUHAN DAN KURNIAAN TUHAN ITU TIDAK TERBATAS. Para hamba Allah s.w.t yang sampai kepada penghujung perjalanan mereka dikurniakan Allah s.w.t menetap dengan salah satu dari dua hal, iaitu sama ada berkhidmat kepada Allah s.w.t atau fana dalam mencintai-Nya. Para hamba yang ditentukan untuk berkhidmat kepada Allah s.w.t terdiri dari dua golongan. Golongan pertama adalah ahli akhirat yang mencapai makam Mukmin dan golongan kedua adalah ahli Allah s.w.t yang diserapkan oleh hal abid dan zahid. Para Mukmin adalah tentera Allah s.w.t yang berjuang menegakkan syariat Allah s.w.t dengan bersenjatakan sabar. Mereka tidak berhenti-henti berjihad pada jalan Allah s.w.t, menegakkan syariat-Nya dan memerangi hawa nafsu. Ahli jihad tersebut tidak takut mati kerana mereka melihat kematian dalam jihad adalah mati syahid dan darahnya digantikan dengan syurga yang maha indah. Para Mukmin, ahli jihad yang teguh dalam kesabaran adalah para hamba yang didekatkan. Para abid dan zahid pula adalah hamba-hamba yang telah melepasi makam sabar dan masuk kepada makam reda lalu menjadi hamba-hamba pilihan dan dimuliakan. Makam abid dan zahid sangat mulia di sisi Allah s.w.t kerana mereka tidak membuat sebarang pekerjaan kecuali beribadat kepada Allah s.w.t, mentaati sekalian perintah-Nya dengan keikhlasan sejati tanpa mengharapkan sebarang balasan. Mereka tidak melihat kepada amal perbuatan mereka tetapi melihat ibadat itu sebagai kurniaan dari Allah s.w.t yang sangat berharga. Semakin banyak amal ibadat yang terdaya mereka lakukan semakin kuatlah kesyukuran mereka. Hati mereka tidak lagi diganggu oleh tarikan dunia dan rangsangan syahwat. Jika para Mukmin biasa diibaratkan sebagai orang yang menanam pokok kerana mengetahui pokok tersebut akan mengeluarkan buah yang lazat rasanya, Mukmin yang abid dan zahid pula diibaratkan sebagai orang yang membaja dan menyiram pokok tersebut supaya ia bertambah subur. Ada pula, dari kalangan Mukmin, Allah s.w.t tentukan untuk mencintai-Nya. Cinta Allah adalah sesuatu yang sangat sulit untuk dihuraikan. Terlalu sedikit para hamba yang dipilih untuk memilikinya. Golongan yang sedikit itu adalah anbia dan aulia Allah s.w.t yang agung. Jika mahu memahami maksud Cinta Allah, selamilah ucapan mereka yang sedang asyik dalam kecintaan tersebut. Pencinta Allah s.w.t yang paling agung, Nabi Muhammad s.a.w mengucapkan: “Sekiranya diletakkan matahari pada tangan kananku dan bulan pada tangan kiriku dengan menyuruh aku menghentikan dakwah yang aku lakukan, nescaya tidak akan aku berhenti, melainkan Allah s.w.t membinasakan daku atau memenangkan daku!” “Tidak aku hiraukan walaupun sekalian makhluk-Mu memusuhi daku asalkan Engkau tidak murka kepadaku”. Imbasan Cinta Allah s.w.t hanya dapat dilihat daripada sabda Rasulullah s.a.w dan dari kalangan umat baginda yang dipilih mewarisi Cinta tersebut. Abu Bakar as-Syubli membawa puntung kayu api kerana dia mahu membakar syurga dan kaabah agar Allah s.w.t dicintai dengan sebenar-benarnya, bukan kerana syurga, dan agar manusia benar-benar menghadap Allah s.w.t bukan terhenti pada kaabah. Abu Yazid al-Bustami menasihatkan, “Jika kebajikan yang dikurniakan kepada Adam, kesucian malaikat Jibrail, kemuliaan Ibrahim, rindu dendam Musa dan Cinta Muhammad s.a.w, dikurniakan kepada kamu, janganlah kamu menyukainya kerana itu semua adalah hijab. Carilah Dia dari Dia sahaja, maka yang lain itu semuanya kamu punya”. Cinta Allah s.w.t adalah pengalaman kerohanian yang sangat seni dan aneh. Para hamba yang dikurniakan pengalaman tersebut telah terlebih dahulu melatihkan diri berpuluh-puluh tahun lamanya. Mereka berjuang tanpa henti-henti menentang hawa nafsu dan cita-cita yang berkaitan dengan dunia dan akhirat. Mereka mencarinya dalam ketaatan dan sopan santun terhadap Allah s.w.t. Orang yang mencintai Allah s.w.t ghaib dalam melihat Allah s.w.t hinggakan tidak sedar lagi terhadap apa sahaja yang selain Allah s.w.t. Fana dia dari dirinya dan sekalian alam maujud. Dia tidak dapat membezakan antara sakit dengan senang, emas dengan tanah kering. Orang yang dikuasai oleh Cinta Allah s.w.t tidak berasa apa-apa walaupun kepalanya dipancung. Abu Mansur al-Hallaj tersenyum dan ketawa bila dia disalib. Kemudian kaki dan tangannya dipotong, matanya dicungkil, lidahnya dikerat dan akhirnya kepalanya dipancung. Cinta Allah s.w.t yang menguasainya menghilangkan ketakutan dan kesakitan. Bila kakinya dipotong dia menyaksikan kaki rohnya bebas berjalan menuju Tuhannya. Bila tangannya dipotong dia menyaksikan tangan rohnya bebas mencapai Tuhannya. Bila matanya dicungkil dia menyaksikan mata rohnya lebih terang memandang kepada Tuhannya. Bila lidahnya dikerat dia menyaksikan lidah rohnya semakin petah berkata-kata dengan Tuhannya. Bila kepalanya dipancung dia merdeka sepenuhnya untuk ‘bersanding’ dengan Tuhannya. Jika diselami benar-benar akan didapati bahawa Cinta Allah s.w.t sebenarnya tidak dimiliki oleh sesiapa pun tetapi Cinta Allah s.w.t itulah yang menawan hati seseorang. Cinta Allah s.w.t itu menguasai bukan dikuasai. Cinta Allah s.w.t menarik seseorang ke dalam kefanaan dari dirinya dan segala-galanya lalu masuk ke dalam tauhid hakiki. Syarat bagi seseorang untuk layak menanggung Cinta Allah s.w.t adalah seandainya semua harta yang ada di dalam perut bumi dikeluarkan dan diberikan kepadanya, dia menolak demi Wajah Allah s.w.t. Hati yang sanggup berbuat demikian layak menerima Cinta Allah s.w.t. Orang yang benar-benar mabuk dalam percintaan tidak ingat akan harta dan dunia. Golongan pencinta Allah s.w.t adalah tetamu Allah s.w.t yang dimuliakan. Mereka dihidangkan dengan berbagai-bagai hidangan yang tidak pernah dinikmati oleh golongan lain. Merekalah yang merasai buah dari pokok yang ditanam oleh golongan Mukmin dan dijaga oleh golongan abid dan zahid. Daya rasa mereka tidak lagi serupa dengan daya rasa manusia biasa. Asma binti Abu Bakar as-Siddik tatkala tuanya, mengalami satu peristiwa yang luar biasa. Anaknya, Abdullah, telah dituduh sebagai pemberontak oleh pemerintah pada ketika itu. Abdullah dijatuhkan hukuman bunuh. Mayatnya diheret dari lorong ke lorong selama beberapa hari, dan mayat itu menjadi busuk. Apabila mayat itu diheret di hadapan rumah Asma, yang pada ketika itu sudah tidak boleh melihat, tercium bau yang sangat harum. Asma bertanyakan mayat siapakah yang berbau harum itu. Dia diberitahu yang mayat itu adalah mayat puteranya. Asma mengucapkan syukur kepada Allah s.w.t kerana menjadikannya ibu kepada seorang pemuda yang salih. Para pencinta Allah s.w.t adalah aneh. Mereka bukan lagi dalam kesedaran manusia dan bukan juga dalam kesedaran malaikat. Mereka bukan lagi penghuni dunia dan bukan juga penghuni langit. Mereka adalah tetamu Rumah Allah s.w.t yang tidak ada apa di dalamnya kecuali Allah s.w.t.


Tempat roh manusia, roh kehidupan, di dalam badan ialah dada. Tempat ini berhubung dengan pancaindera dan deria-deria. Urusan atau bidangnya ialah agama. Pekerjaannya ialah mentaati perintah Allah. Dengan peraturan-peraturan yang ditentukan-Nya, Allah memelihara dunia nyata ini dengan teratur dan harmoni. Roh itu bertindak menurut kewajipan yang ditentukan oleh Allah, tidak menganggap perbuatannya sebagai perbuatannya sendiri kerana dia tidak berpisah dengan Allah. Perbuatannya daripada Allah; tidak ada perpisahan di antara ‘aku’ dengan Allah di dalam tindakan dan ketaatannya.
“Barangsiapa percaya akan pertemuan Tuhannya hendaklah mengerjakan amal salih dan janganlah ia sekutukan sesuatu dalam ibadat kepada Tuhannya”. (Surah Kahfi, ayat 110).

Allah adalah esa dan Dia mencintai yang bersatu dan satu. Dia mahu semua penyembahan dan semua amal kebaikan, yang Dia anggap sebagai pengabdian kepada-Nya, menjadi milik-Nya semata-mata, tidak dikongsikan dengan apa sahaja. Jadi, seseorang tidak memerlukan kelulusan atau halangan daripada sesiapa pun di dalam pengabdiannya kepada Tuhannya, juga amalannya bukan untuk kepentingan duniawi. Semuanya semata-mata kerana Allah. Suasana yang dihasilkan oleh petunjuk Ilahi seperti menyaksikan bukit-bukti kewujudan Allah di dalam alam nyata ini; kenyataan sifat-sifat-Nya, kesatuan di dalam yang banyak, hakikat di sebalik yang nyata, kehampiran dengan Pencipta, semuanya adalah ganjaran bagi amalan kebaikan yang benar dan ketaatan tanpa mementingkan diri sendiri. Namun, semuanya itu di dalam taklukan alam benda, daripada bumi yang di bawah tapak kaki kita sehinggalah kepada langit-langit. Termasuk juga di dalam taklukan alam dunia ialah kekeramatan yang muncul melalui seseorang, misalnya berjalan di atas air, terbang di udara, berjalan dengan pantas, mendengar suara dan melihat gambaran dari tempat yang jauh atau boleh membaca fikiran yang tersembunyi. Sebagai ganjaran terhadap amalan yang baik manusia juga diberikan nikmati di akhirat seperti syurga, khadam-khadam, bidadari, susu, madu, arak dan lain-lain. Semuanya itu merupakan nikmati syurga tingkat pertama, syurga dunia.

Tempat ‘roh perpindahan atau roh peralihan’ ialah di dalam hati. Urusannya ialah pengetahuan tentang jalan kerohanian. Kerjanya berkait dengan empat nama-nama pertama bagi nama-nama Allah yang indah. Sebagaimana dua belas nama-nama yang lain empat nama tersebut tidak termasuk di dalam sempadan suara dan huruf. Jadi, ia tidak boleh disebut. Allah Yang Maha Tinggi berfirman:
“Dan bagi Allah jualah nama-nama yang baik, jadi serulah Dia dengan nama-nama tersebut”. (Surah A’raaf, ayat 180).

Firman Allah di atas menunjukkan tugas utama manusia adalah mengetahui nama-nama Tuhan. Ini adalah pengetahuan batin seseorang. Jika mampu memperolehi pengetahuan yang demikian dia akan sampai kepada makam makrifat. Di samalah pengetahuan tentang nama keesaan sempurna.

Nabi s.a.w bersabda, “Allah Yang Maha Tinggi mempunyai sembilan puluh sembilan nama, sesiapa mempelajarinya akan masuk syurga”. Baginda s.a.w juga bersabda, “Pengetahuan adalah satu. Kemudian orang arif jadikannya seribu”. Ini bermakna nama kepunyaan Zat hanyalah satu. Ia memancar sebagai seribu sifat kepada orang yang menerimanya.

Dua belas nama-nama Ilahi berada di dalam lengkungan sumber pengakuan tauhid “La ilaha illa Llah”. Tiap satunya adalah satu daripada dua belas huruf dalam kalimah tersebut. Allah Yang Maha Tinggi mengurniakan nama masing-masing bagi setiap huruf di dalam perkembangan hati. Setiap satu daripada empat alam yang dilalui oleh roh terdapat tiga nama yang berlainan. Allah Yang Maha Tinggi dengan cara ini memegang erat hati para pencinta-Nya, dalam kasih sayang-Nya. Firman-Nya:
“Allah tetapkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang tetap di Penghidupan dunia dan akhirat”. (Surah Ibrahim, ayat 27).

Kemudian dikurniakan kepada mereka kehampiran-Nya. Dia sediakan pokok keesaan di dalam hati mereka, pokok yang akarnya turun kepada tujuh lapis bumi dan Dahannya meninggi kepada tujuh lapis langit, bahkan meninggi lagi hingga ke arasy dan mungkin lebih tinggi lagi. Allah berfirman:
“Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Allah adakan misal, satu kalimah yang baik seperti pohon yang baik, pangkalnya tetap dan cabangnya ke langit. (Surah Ibrahim, ayat 24).

Tempat ‘roh perpindahan atau roh peralihan’ adalah di dalam nyawa kepada hati. Alam malaikat berterusan di dalam penyaksiannya. Ia boleh melihat syurga alam tersebut, penghuninya, cahayanya dan semua malaikat di dalamnya. Kalam ‘roh peralihan’ adalah bahasa alam batin, tanpa huruf tanpa suara. Perhatiannya berterusan menyentuh soal-soal rahsia-rahsia maksud yang tersembunyi. Tempatnya di akhirat apabila kembali ialah syurga Na’im, taman kegembiraan kurniaan Allah.

Tempat ‘roh sultan’ di mana ia memerintah, adalah di tengah-tengah hati, jantung kepada hati. Urusan roh ini ialah makrifat. Kerjanya ialah mengetahui semua pengetahuan ketuhanan yang menjadi perantaraan bagi semua ibadat yang sebenar-benarnya diucapkan dalam bahasa hati. Nabi s.a.w bersabda, “Ilmu ada dua bahagian. Satu pada lidah, yang membuktikan kewujudan Allah. Satu lagi di dalam hati. Inilah yang perlu bagi menyedarkan tujuan seseorang”. Ilmu yang sebenar-benarnya bermanfaat berada di dalam sempadan kegiatan hati. Nabi s.a.w bersabda, “Quran yang mulia mempunyai makna zahir dan makna batin”. Allah Yang Maha Tinggi membukakan Quran kepada sepuluh lapis makna yang tersembunyi. Setiap makna yang berikutnya lebih bermanfaat daripada yang sebelumnya kerana ia semakin hampir dengan sumber yang sebenarnya. Dua belas nama kepunyaan Zat Allah adalah umpama dua belas mata air yang memancar dari batu apabila Nabi Musa a.s menghentamkan batu itu dengan tongkatnya.
“Dan (ingatlah) tatkala Musa mintakan air bagi kaumnya, maka Kami berkata, ‘Pukullah batu itu dengan tingkat kamu’. Lantas terpancar daripadanya dua belas mata air yang sesungguhnya setiap golongan itu mengetahui tempat minumnya”. (Surah Baqarah, ayat 60).

Pengetahuan zahir adalah umpama air hujan yang datang dan pergi sementara pengetahuan batin umpama mata air yang tidak pernah kering.
“Dan satu tanda untuk mereka, ialah bumi yang mati (lalu) Kami hidupkannya dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, lalu mereka memakannya”. (Surah Yaa Sin, ayat 33).

Allah jadikan satu bijian, sebiji benih di langit. Benih itu menjadi kekuatan kepada kehaiwanan di dalam diri manusia. Dijadikan-Nya juga sebiji benih di dalam alam roh-roh (alam al-anfus); menjadi sumber kekuatan, makanan roh. Bijian itu dijiruskan dengan air dari sumber hikmah. Nabi s.a.w bersabda, “Jika seseorang menghabiskan empat puluh hari dalam keikhlasan dan kesucian sumber hikmah akan memancar dari hatinya kepada lidahnya”.

Nikmat bagi ‘roh sultan ialah kelazatan dan kecintaan yang dinikmatinya dengan menyaksikan kenyataan keelokan, kesempurnaan dan kemurahan Allah Yang Maha Tinggi. Firman Allah:
“Dia telah diajar oleh yang bersangatan kekuatannya, yang berupa bagus, lalu ia menjelma dengan sempurnanya padahal ia di pehak atas yang paling tinggi. Kemudian ia mendekati rapat (kepadanya), maka adalah (rapatnya) itu kadar dua busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu Ia wahyukan kepada hamba-Nya apa yang Ia mahu wahyukan. Hatinya tidak mendusta apa yang dia lihat”. (Surah Najmi, ayat 5 – 11).

Nabi s.a.w menggambarkan suasana demikian dengan cara lain, “Yang beriman (yang sejahtera) adalah cermin kepada yang beriman (yang sejahtera)”. Dalam ayat ini yang sejahtera yang pertama ialah hati orang yang beriman yang sempurna, sementara yang sejahtera kedua itu ialah yang memancar kepada hati orang yang beriman itu, tidak lain daripada Allah Yang Maha Tinggi sendiri. Allah menamakan Diri-Nya di dalam Quran sebagai Yang Mensejahterakan.
“Dia jualah Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia…Yang Mensejahterakan (Pemelihara iman), Pemelihara segala-galanya”. (Surah Hasyr, ayat 23).

Kediaman ‘roh sultan’ di akhirat ialah syurga Firdaus, syurga yang tinggi.

Setesen di mana roh-roh berhenti adalah tempat rahsia yang Allah buatkan untuk Diri-Nya di tengah-tengah hati, di mana Dia simpankan rahsia-Nya (Sirr) untuk disimpan dengan selamat. Keadaan roh ini diceritakan oleh Allah melalui pesuruh-Nya:
“Insan adalah rahsia-Ku dan Aku rahsianya”.

Urusannya ialah kebenaran (hakikat) yang diperolehi dengan mencapai keesaan; mencapai keesaan itulah tuagsnya. Ia membawa yang banyak kepada kesatuan dengan cara terus menerus menyebut nama-nama keesaan di dalam bahasa rahsia yang suci. Ia bukan bahasa yang berbunyi di luar.
“Dan jika engkau nyaringkan perkataan, maka Sesungguhnya Dia mengetahui rahsia dan yang lebih tersembunyi”. (Surah Ta Ha, ayat 7)

Hanya Allah mendengar bahasa roh suci dan hanya Allah mengetahui keadaannya.

Nikmat bagi roh ini ialah penyaksian terhadap ciptaan Allah yang pertama. Apa yang dilihatnya ialah keindahan Allah. Padanya terdapat penyaksian rahsia. Pandangan dan pendengaran menjadi satu. Tidak ada perbandingan dan tidak ada persamaan tentang apa yang disaksikanya. Dia menyaksikan sifat Allah, keperkasaan dan kekerasan-Nya sebagai esa dengan keindahan, kelembutan dan kemurahan-Nya.

Bila manusia temui matlamatnya, tempat kediamannya, bila dia temui akal asbab, pertimbangan keduniaannya yang memandunya selama ini akan tunduk kepada Perintahnya; hatinya akan rasa gentar bercampur hormat, lidahnya terkunci. Dia tidak berupaya menceritakan keadaan tersebut kerana Allah tidak menyerupai sesuatu.

Bila apa yang diperkatakan di sini sampai ke telinga orang yang berilmu, mula-mula cubalah memahami tahap pengetahuan sendiri. Tumpukan perhatian kepada kebenaran (hakikat) mengenai perkara-perkara yang sudah diketahui sebelum mendongak ke ufuk yang lebih tinggi, sebelum mencari peringkat baharu, semoga mereka memperolehi pengetahuan tentang kehalusan perlaksanaan Ilahi. Semoga mereka tidak menafikan apa yang sudah diperkatakan, tetapi sebaliknya mereka mencari makrifat, kebijaksanaan untuk mencapai keesaan. Itulah yang sangat diperlukan.

KURNIAAN ALLAH S.W.T YANG MENETAP PADA HAMBA-NYA

SEBAHAGIAN PARA HAMBA DITENTUKAN OLEH ALLAH S.W.T UNTUK BERKHIDMAT KEPADA-NYA DAN ADA PULA SEBAHAGIAN YANG DIISTIMEWAKAN ALLAH S.W.T DENGAN MENCINTAI-NYA. KEPADA MASING-MASING ITU DIBERIKAN BANTUAN DARI KURNIAAN TUHAN DAN KURNIAAN TUHAN ITU TIDAK TERBATAS.
Para hamba Allah s.w.t yang sampai kepada penghujung perjalanan mereka dikurniakan Allah s.w.t menetap dengan salah satu dari dua hal, iaitu sama ada berkhidmat kepada Allah s.w.t atau fana dalam mencintai-Nya. Para hamba yang ditentukan untuk berkhidmat kepada Allah s.w.t terdiri dari dua golongan. Golongan pertama adalah ahli akhirat yang mencapai makam Mukmin dan golongan kedua adalah ahli Allah s.w.t yang diserapkan oleh hal abid dan zahid. Para Mukmin adalah tentera Allah s.w.t yang berjuang menegakkan syariat Allah s.w.t dengan bersenjatakan sabar. Mereka tidak berhenti-henti berjihad pada jalan Allah s.w.t, menegakkan syariat-Nya dan memerangi hawa nafsu. Ahli jihad tersebut tidak takut mati kerana mereka melihat kematian dalam jihad adalah mati syahid dan darahnya digantikan dengan syurga yang maha indah. Para Mukmin, ahli jihad yang teguh dalam kesabaran adalah para hamba yang didekatkan.

Para abid dan zahid pula adalah hamba-hamba yang telah melepasi makam sabar dan masuk kepada makam reda lalu menjadi hamba-hamba pilihan dan dimuliakan. Makam abid dan zahid sangat mulia di sisi Allah s.w.t kerana mereka tidak membuat sebarang pekerjaan kecuali beribadat kepada Allah s.w.t, mentaati sekalian perintah-Nya dengan keikhlasan sejati tanpa mengharapkan sebarang balasan. Mereka tidak melihat kepada amal perbuatan mereka tetapi melihat ibadat itu sebagai kurniaan dari Allah s.w.t yang sangat berharga. Semakin banyak amal ibadat yang terdaya mereka lakukan semakin kuatlah kesyukuran mereka. Hati mereka tidak lagi diganggu oleh tarikan dunia dan rangsangan syahwat. Jika para Mukmin biasa diibaratkan sebagai orang yang menanam pokok kerana mengetahui pokok tersebut akan mengeluarkan buah yang lazat rasanya, Mukmin yang abid dan zahid pula diibaratkan sebagai orang yang membaja dan menyiram pokok tersebut supaya ia bertambah subur.

Ada pula, dari kalangan Mukmin, Allah s.w.t tentukan untuk mencintai-Nya. Cinta Allah adalah sesuatu yang sangat sulit untuk dihuraikan. Terlalu sedikit para hamba yang dipilih untuk memilikinya. Golongan yang sedikit itu adalah anbia dan aulia Allah s.w.t yang agung. Jika mahu memahami maksud Cinta Allah, selamilah ucapan mereka yang sedang asyik dalam kecintaan tersebut. Pencinta Allah s.w.t yang paling agung, Nabi Muhammad s.a.w mengucapkan:
“Sekiranya diletakkan matahari pada tangan kananku dan bulan pada tangan kiriku dengan menyuruh aku menghentikan dakwah yang aku lakukan, nescaya tidak akan aku berhenti, melainkan Allah s.w.t membinasakan daku atau memenangkan daku!”

“Tidak aku hiraukan walaupun sekalian makhluk-Mu memusuhi daku asalkan Engkau tidak murka kepadaku”.

Imbasan Cinta Allah s.w.t hanya dapat dilihat daripada sabda Rasulullah s.a.w dan dari kalangan umat baginda yang dipilih mewarisi Cinta tersebut. Abu Bakar as-Syubli membawa puntung kayu api kerana dia mahu membakar syurga dan kaabah agar Allah s.w.t dicintai dengan sebenar-benarnya, bukan kerana syurga, dan agar manusia benar-benar menghadap Allah s.w.t bukan terhenti pada kaabah. Abu Yazid al-Bustami menasihatkan, “Jika kebajikan yang dikurniakan kepada Adam, kesucian malaikat Jibrail, kemuliaan Ibrahim, rindu dendam Musa dan Cinta Muhammad s.a.w, dikurniakan kepada kamu, janganlah kamu menyukainya kerana itu semua adalah hijab. Carilah Dia dari Dia sahaja, maka yang lain itu semuanya kamu punya”.

Cinta Allah s.w.t adalah pengalaman kerohanian yang sangat seni dan aneh. Para hamba yang dikurniakan pengalaman tersebut telah terlebih dahulu melatihkan diri berpuluh-puluh tahun lamanya. Mereka berjuang tanpa henti-henti menentang hawa nafsu dan cita-cita yang berkaitan dengan dunia dan akhirat. Mereka mencarinya dalam ketaatan dan sopan santun terhadap Allah s.w.t. Orang yang mencintai Allah s.w.t ghaib dalam melihat Allah s.w.t hinggakan tidak sedar lagi terhadap apa sahaja yang selain Allah s.w.t. Fana dia dari dirinya dan sekalian alam maujud. Dia tidak dapat membezakan antara sakit dengan senang, emas dengan tanah kering. Orang yang dikuasai oleh Cinta Allah s.w.t tidak berasa apa-apa walaupun kepalanya dipancung. Abu Mansur al-Hallaj tersenyum dan ketawa bila dia disalib. Kemudian kaki dan tangannya dipotong, matanya dicungkil, lidahnya dikerat dan akhirnya kepalanya dipancung. Cinta Allah s.w.t yang menguasainya menghilangkan ketakutan dan kesakitan. Bila kakinya dipotong dia menyaksikan kaki rohnya bebas berjalan menuju Tuhannya. Bila tangannya dipotong dia menyaksikan tangan rohnya bebas mencapai Tuhannya. Bila matanya dicungkil dia menyaksikan mata rohnya lebih terang memandang kepada Tuhannya. Bila lidahnya dikerat dia menyaksikan lidah rohnya semakin petah berkata-kata dengan Tuhannya. Bila kepalanya dipancung dia merdeka sepenuhnya untuk ‘bersanding’ dengan Tuhannya.

Jika diselami benar-benar akan didapati bahawa Cinta Allah s.w.t sebenarnya tidak dimiliki oleh sesiapa pun tetapi Cinta Allah s.w.t itulah yang menawan hati seseorang. Cinta Allah s.w.t itu menguasai bukan dikuasai. Cinta Allah s.w.t menarik seseorang ke dalam kefanaan dari dirinya dan segala-galanya lalu masuk ke dalam tauhid hakiki. Syarat bagi seseorang untuk layak menanggung Cinta Allah s.w.t adalah seandainya semua harta yang ada di dalam perut bumi dikeluarkan dan diberikan kepadanya, dia menolak demi Wajah Allah s.w.t. Hati yang sanggup berbuat demikian layak menerima Cinta Allah s.w.t. Orang yang benar-benar mabuk dalam percintaan tidak ingat akan harta dan dunia.

Golongan pencinta Allah s.w.t adalah tetamu Allah s.w.t yang dimuliakan. Mereka dihidangkan dengan berbagai-bagai hidangan yang tidak pernah dinikmati oleh golongan lain. Merekalah yang merasai buah dari pokok yang ditanam oleh golongan Mukmin dan dijaga oleh golongan abid dan zahid. Daya rasa mereka tidak lagi serupa dengan daya rasa manusia biasa.

Asma binti Abu Bakar as-Siddik tatkala tuanya, mengalami satu peristiwa yang luar biasa. Anaknya, Abdullah, telah dituduh sebagai pemberontak oleh pemerintah pada ketika itu. Abdullah dijatuhkan hukuman bunuh. Mayatnya diheret dari lorong ke lorong selama beberapa hari, dan mayat itu menjadi busuk. Apabila mayat itu diheret di hadapan rumah Asma, yang pada ketika itu sudah tidak boleh melihat, tercium bau yang sangat harum. Asma bertanyakan mayat siapakah yang berbau harum itu. Dia diberitahu yang mayat itu adalah mayat puteranya. Asma mengucapkan syukur kepada Allah s.w.t kerana menjadikannya ibu kepada seorang pemuda yang salih.

Para pencinta Allah s.w.t adalah aneh. Mereka bukan lagi dalam kesedaran manusia dan bukan juga dalam kesedaran malaikat. Mereka bukan lagi penghuni dunia dan bukan juga penghuni langit. Mereka adalah tetamu Rumah Allah s.w.t yang tidak ada apa di dalamnya kecuali Allah s.w.t.

MENYAKSIKAN ALLAH: SAMPAI KEPADA MAKAM MELIHAT KENYATAAN ZAT YANG MAHA SUCI

Melihat Allah ada dua jenis: Pertama melihat sifat keindahan Allah yang sempurna secara langsung di akhirat’ dan satu lagi melihat sifat-sifat ketuhanan yang dipancarkan ke atas cermin yang jernih kepunyaan hati yang tulen di dalam kehidupan ini. Dalam hal tersebut penyaksian kelihatan sebagai penzahiran cahaya keluar daripada keindahan Allah yang sempurna dan dilihat oleh mata hati yang hakiki.
“Hati tidak menafikan apa yang dia lihat”. (Surah Najmi, ayat 11).

Mengenai melihat kenyataan Allah melalui perantaraan, Nabi s.a.w bersabda, “Yang beriman adalah cermin kepada yang beriman”. Yang beriman yang pertama, cermin dalam ayat ini, adalah hati yang beriman yang suci murni, sementara yang beriman kedua adalah Yang Melihat bayangan-Nya di dalam cermin itu, Allah Yang Maha Tinggi. Sesiapa yang sampai kepada makam melihat kenyataan sifat Allah di dalam dunia ini akan melihat Zat Allah di akhirat, tanpa rupa tanpa bentuk.

Kenyataan ini disahkan oleh Saidina Umar r.a dengan katanya, “Hatiku melihat Tuhanku dengan cahaya Tuhanku”. Saidina Ali r.a berkata, “Aku tidak menyembah Allah kecuali aku melihat-Nya”. Mereka berdua tentu telah melihat sifat-sifat Allah dalam kenyataan. Jika seseorang melihat cahaya matahari masuk melalui jendela dan dia berkata, “Aku melihat matahari”, dia bercakap benar.

Allah memberi gambaran yang jelas tentang kenyataan sifat-sifat-Nya:
“Allah itu nur bagi langit-langit dan bumi. Bandingan nur-Nya (adalah) seperti satu kurungan pelita yang di dalamnya ada pelita (sedang) pelita itu dalam satu kaca, (dan) kaca itu sebagai bintang yang seperti mutiara, yang dinyalakan (dengan minyak) dari pohon yang banyak faedah (iaitu) zaitun yang bukan bangsa timur dan bukan bangsa barat, yang minyaknya (sahaja) hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api, nur atas nur, Allah pimpin kepada nur-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah mengadakan perumpamaan bagi manusia, dan Allah mengetahui tiap sesuatu”. (Surah Nuur, ayat 35).

Perumpamaan dalam ayat ini adalah hati yang yakin penuh di kalangan orang yang beriman. Lampu yang menerangi bekas hati itu ialah hakikat atau intipati kepada hati, sementara cahaya yang dipancarkan ialah rahsia Tuhan, ‘roh sultan’. Kaca adalah lutsinar dan tidak memerangkap cahaya di dalamnya tetapi ia melindunginya sambil menyebarkannya kerana ia umpama bintang. Sumber cahaya adalah pohon Ilahi. Pohon itu adalah makam atau suasana keesaan, menjalar dengan dahan dan akarnya, memupuk prinsip-prinsip iman, berhubung tanpa perantaraan dengan bahasa yang asli.

Secara langsung, melalui bahasa yang asli itulah Nabi s.a.w menerima pembukaan al-Quran. Dalam kenyataan Jibrail membawa firman Tuhan hanya setelah firman tersebut diterima – ini adalah untuk faedah kita supaya kita boleh mendengarnya dalam bahasa manusia. Ini juga memperjelaskan siapakah yang tidak percaya dan munafik dengan memberi mereka peluang untuk menafikannya seperti mereka tidak percaya kepada malaikat.
“Dan sesungguhnya diwahyukan kepada kamu Quran (ini) dari sisi (Tuhan) yang bijaksana, yang mengetahui”. (Surah Naml, ayat 6).

Oleh kerana Nabi s.a.w menerima pembukaan sebelum Jibrail membawanya kepada baginda, setiap kali Jibrail membawa ayat-ayat suci itu Nabi s.a.w mendapatinya di dalam hatinya dan membacanya sebelum ayat itu diberikan. Inilah alasan bagi ayat:
“Dan janganlah engkau terburu-buru dengan Quran sebelum habis diwahyukan kepada kamu”. (Surah Ta Ha, ayat 114).

Keadaan ini menjadi jelas sewaktu Jibrail menemani Nabi s.a.w pada malam mikraj, Jibrail tidak terdaya untuk pergi lebih jauh daripada Sidratul Muntaha. Dia berkata, “Jika aku ambil satu langkah lagi aku akan terbakar”. Jibrail membiarkan Nabi s.a.w meneruskan perjalanan seorang diri.

Allah menggambarkan pokok zaitun yang diberkati, pokok keesaan, bukan dari timur dan bukan dari barat. Dalam lain perkataan ia tidak ada permulaan dan tidak ada kesudahan, dan cahayanya yang menjadi sumber tidak terbit dan tidak terbenam. Ia kekal pada masa lalu dan tiada kesudahan pada masa akan datang. Kedua-dua Zat Allah dan sifat-sifat-Nya adalah kekal abadi. Kedua-dua kenyataan Zat-Nya dan kenyataan sifat-Nya bergantung kepada Zat-Nya.

Penyembahan yang sebenar hanya boleh dilakukan apabila hijab yang menutup hati tersingkap agar cahaya abadi menyinarinya. Hanya selepas itu hati menjadi terang dengan cahaya Ilahi. Hanya selepas itu roh menyaksikan perumpamaan Ilahi itu.

Tujuan diciptakan alam maya adalah untuk ditemui khazanah rahsia itu. Allah berfirman melalui Rasul-Nya:
“Aku adalah Perbendaharaan Yang Tersembunyi. Aku suka dikenali lalu Aku ciptakan makhluk agar Aku dikenali”.

Ini bermakna Dia boleh dikenali di dalam dunia ini melalui sifat-sifat-Nya. Tetapi untuk melihat dan mengenali Zat-Nya sendiri hanyalah boleh terjadi di akhirat. Di sana melihat Allah adalah secara langsung sebagaimana yang Dia kehendaki dan yang melihatnya adalah mata bayi hati.
“Beberapa muka pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya mereka melihat”. (Surah Qiamat, ayat 22 & 23).

Nabi s.a.w bersabda, “Aku melihat Tuhanku di dalam rupa jejaka tampan”. Mungkin ini adalah bayangan bayi hati. Bayangan adalah cermin. Ia menjadi alat untuk menzahirkan yang ghaib. Hakikat Allah Yang Maha Tinggi tidak menyerupai sesuatu samada bayangan atau bentuk. Bayangan adalah cermin, walaupun yang kelihatan bukanlah cermin dan bukan juga orang yang melihat ke dalam cermin. Fikirkan tentang itu dan cubalah memahaminya kerana ia adalah hakikat kepada alam rahsia-rahsia.

Tetapi semuanya berlaku pada makam sifat. Pada makam Zat semua kenyataan hilang, lenyap. Orang yang di dalam makam Zat itu sendiri lenyap tetapi mereka merasai zat itu dan tiada yang lain. Betapa jelas Nabi s.a.w menggambarkannya, “Aku daripada Allah dan yang beriman daripadaku”. Dan Allah berfirman melalui Rasul-Nya:
“Aku ciptakan cahaya Muhammad daripada cahaya Wujud-Ku sendiri”.

Maksud Wujud Allah adalah Zat-Nya Yang Maha Suci, menyata di dalam sifat-sifat-Nya Yang Maha Mengasihani. Ini dinyatakan-Nya melalui Rasul-Nya:
“Rahmat-Ku mendahului murka-Ku”.

Rasul yang dikasihi Allah adalah cahaya kebenaran sebagaimana Allah berfirman:
“Tidak Kami utuskan engkau melainkan menjadi rahmat kepada seluruh alam”. (Surah Anbiyaa’, ayat 107).

“Sesungguhnya telah datang kepada kamu rasul Kami, menerangkan kepada kamu beberapa banyak dari (isi Kitab) yang kamu sembunyikan, dan ia tidak ambil tahu berapa banyak. Sesungguhnya telah datang kepada kamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan”. (Surah Maaidah, ayat 15).

Pentingnya utusan Allah yang dikasihi-Nya itu jelas dengan firman-Nya kepada baginda, “Jika tidak kerana engkau Aku tidak ciptakan makhluk”.

Kamis, 09 Mei 2013

<> Suluk Syech Siti Jenar


Suluk Syech Siti Jenar menceritakan nasib Siti Jenar yang mirip dengan nasib Al-Hallaj. tetapi dalam beberapa hal terdapat perbedaan mendasar tentang penghukuman itu.ddalam pembahasan ini digunakan sebuah Serat yang berjudul Suluk Syech Siti Jenar ( alih aksara oleh Sutarti, 1981 ). 

Suluk ini menceritakan Syech Siti Jenar yang di anggap sebagai wali yang sakti yang berasal dari bangsa sudra. ia mendapat ilmu ketika mendengarkan ajaran Sunan Bonang kepda Sunan Kalijaga waktu Sunan Bonang mengajarkan ilmu di pesisir pantai naik perahu. Syech Siti Jenar lalu mendapatkan Ilham yang kemudian mendirikan ajaran. Ajaran Syech Siti Jenar ini disebut sebagai Tekad
Kajabariyah Kodariyah yang mengakui adanya dzat Allah. Allah mempunyai 20 sifat dianggap melekat dengan dunia dan menjadi zat Allah ( Wujud Mutlak ).
Menurut ajaran ini manusia terdiri atas dua anasir, yakni : 1) Aku (diri) yang sementara yang busuk menjadi tanah. 2) Aku ( Yang Haq ) yang Abadi yang hidup dengan Kayad Hayun, yang tidak merasa sakit dan susah yang mempunyai 20 sifat. Aku mempunyai sifat Jalal dan Kalam. Inilah yang dianggap sebagai Tuhan. Wujud Aku bersama aku, tetapi juga terpisah dengan aku. sifat-sifat-Nya menyusup dalam aku.
 Ajaran Syech Siti Jenar mengangggap bahwa raga yang digunakan untuk hidup ini adalah bangkai. ia mengatakan bahwa hidup ini adalah ”mati” yang mendapatkan siksa ( karena merasa sakit, susah,dan sebagainya ),hal ini seperti di ungkapkan dalam suluk Syeh Siti Jenar sebagai berikut :
Siti Jenar pemengkuning urip
Nyipta rinten-ratri maot purwaning kuna idhup
Ngunandika pangeran Siti Brit
Ngungun rumaket pejah
Kyeh nraka kerasuk
Lara lapa adhem panas
Putek bingung risi susah jroning pati
Seje urip kang mulya
( Syech Siti jenar memandang bahwa dunia ini adalah kematian ,siang-malam memikirkan maut,tetapi merupakan awal dari kehidupan. berfikir Pangeran Siti Brit, terheran bahwa dekat dengan mati banyak yang masuk neraka, merasa sakit susah, panas dingin, kebingungan, risi, susah di dalam mati ).
Karena hidup di dunia dianggap sebagai mati, tujuan di dunia ini ialah mencapai kehidupan yang lepas, yakni kehidupan dengan kayad kayun, suatu kehidupan yang sejati, hidup sebagai Aku,yang bersifat ilahi.
Urip Sak jroning Pati, Pati Sak Jroning Urip ( Sumber : Sastra Sufistik : Bani Sudardi : Hal 102 ).
Bagaimana menurut Anda tentang Suluk Syech Siti Jenar ini?

<> Wuquufu al Qolbi Hadlir ila Robby


Pengertian wuquufu al-qolbi hadir ila robby

Hubungan segala sesuatu selain Allah (mahluk) sudah seharusnya tidak memalingkan perhatiannya dari Allah SWT, walau sesaat pun. Begitu terputus dari segala macam ikatan, hanya hubungan dengan Allah saja yang mesti ada dan tersisa dalam hati sanubari. Dalam ungkapan lain, semua hubungan mestilah berasal hanya dan cuma satu saja, yang disebut oleh kaum Sufi tentang hadlir ilalloh terus menerus, senantiasa merasakan panggilan & KehadiranNYA di setiap gerak nafas mahluk yang begitu dekat melebihi dekatnya sesuatu yang paling dekat dengan diri mahluk, atau Kontemplasi Ilahi.
Seperti diungkapkan seorang penyair darwisy :Kehidupan dan hatiku sibuk dengan diriMu, dan mataku mengerling ke kanan dan ke kiri (muroqobah ma’iyah ‘ala haqiqoti al-ruh)Agar saingan-sainganku tidak tahu (fana’ kullun), bahwa Engkaulah sesungguhnya KekasihKU
Sesudah mengutip ayat-ayat Alquran ini, saya akan menyebutkan beberapa hadis Nabi Muhammad mengenai kewajiban mengerti (‘arif) Allah berikut segala keuntungan dan manfaat serta kefana’an diri yang diperoleh dariNYA barulah mahluk bisa mengingat dengan sebenar-benarnya mengingat.
Abdullah bin faqir
Seseorang berkata, “Ya Rasul Allah, aku demikian banyak terbebani oleh perintah-perintah dalam Syari’ah. Berilah aku nasihat ihwal sesuatu yang mesti kupegang erat-erat”. Nabi bersabda, “Hendaknya lidahmu tidak pernah berhenti mengingat dan menyebut-nyebut nama Allah sampai kau terpanggil dan fana’u al-fana’ ila baqo’u al-ilahiyah dengan seluruhnya”
Nabi Muhammad SAW bersabda : “Maukah aku beritahukan kepadamu amalan-amalan yang dipandang oleh Tuhanmu sebagai lebih baik dan lebih utama, yang menjadi sarana menaikkan derajatmu dan yang lebih baik ketimbang memberi sedekah berupa emas dan perak dan bahkan lebih baik ketimbang memerangi musuhmu, entah dalam keadaan membunuh mereka atau terbunuh mereka ?”. Mereka menjawab, “Ya”. Nabi bersabda ; “Mengingat Allah / dzikrul ilaahi”.
Seperti diungkapkan seorang penyair :
Kuucapkan nama-Mu dan kubakar kehidupanku,
Hingga sampai titik keADAManku.
Aku laksana lilin, dalam api, lantaran lidahKU ku mampu memujaMU.
Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari ‘Abdullah ibn ‘Umar bahwa Nabi Muhammad saw, bersabda : “Tak ada sesuatu pun yang lebih efektif dalam menyelamatkan diri kita dari hukuman Allah selain mengingat-Nya”. Orang-orang bertanya, “Tidak jugakah berjuang di jalan Allah akan menyelamatkan diri kita ?”. Beliau menjawab, “Tidak, tidak ada satu amalan pun bisa menyamai zikir atau mengingat Allah, sekalipun para prajurit menggunakan pedangnya sedemikian rupa sehingga pedang itu patah”.
Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw
bersabda : “Orang-orang yang tidak terikat dan bebas ( hurrin / merdeka lahir bathin pada kepasrahan ) sudah lebih dulu unggul”, sabda Nabi SAW dan Orang-orang bertanya, “Ya Rasul Allah, siapakah orang-orang yang tidak terikat dan bebas itu ?”, Beliau menjawab, “Laki-laki dan perempuan yang tidak henti-hentinya ingat setelah ‘arif billah”.
Seperti diungkapkan oleh seorang penyair Sufi :
Hati seorang Mukmin beroleh kegembiraan
dari kebahagiaan iman,
Kebahagiaan iman memberikan kebahagiaan
kepada kaum Mukmin.
Semua kegembiraan lainnya pun terlupakan,
Disaat kaum ahli bathin memperoleh kebahagiaan
dari mengingat Allah.
Anas meriwayatkan langsung, dari Rasulullah, “Allah SWT berfirman, ‘Aku senantiasa bersama pikiran hamba-Ku dan bersamanya manakala ia mengingat-Ku. Manakala ia mengingat-Ku dalam hatinya, Aku juga mengingatnya dalam hati-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam sebuah majelis dan majelis ini lebih baik
dari majelisnya”.
Janganlah melupakan Allah, agar engkau terpanggil menjadi kekasihNYA. Jika engkau pernah mengingat-NYA setelah melihatNYA, pasti engkau telah terpanggil & dipilih untuk menjadi KEKASIHNYA tanpa washilah.
Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah saw, bersabda “Allah SWT berfirman, ‘Aku bersama hamba-KU manakala ia mengingat-KU dan bibirNYA hanya bergerak menyebut-nyebut nama-KU”.
Al-Qusyairi meriwayatkan dari Anas, “Nasib malang tidak akan menimpa orang yang mengatakan, BILLAAHI, LILLAAHI, MA’ALLOHI, WA ILALLOHI KULLUHUM AJMA’IINA”.
Dalam sebuah hadis lain diriwayatkan ; “Hari Kiamat akan terjadi jika Allah, Allah tidak lagi diucapkan di muka bumi”.
Seorang yang ‘ARIF billah bisa disamakan dengan orang hidup dalam kubah alloh ( kesadaran ), dan seorang yang tidak ‘Arif billah bisa disamakan dengan orang mati / mayat berjalan, yakni orang-orang yang ‘ARIF billah adalah hidup dalam panggilan kefana’an tauhid dan orang yang tidak ‘arif billah adalah mati (bangkai berjalan).
Sesudah mengetahui titik nuqoth yang ditegaskan pada BIKAANA BI YAKUUNU BIKUN BIHI maka berbagai MANFAAT dan HIKMAH, bisa Kita fahami dengan sebenar-benarNYA.
Dzikir adalah piagam Panggilan Allah. Barangsiapa diberi anugerah dzikir Haqqullah, maka yang demikian itu berarti bahwa ia sudah diberi perintah berikut, “Engkau memang benar-benar haqqi”.
Di sini lalu timbul pertanyaan : Mengapa dzikir atau mengingat Allah, yang demikian mudah dan sama sekali tidak susah, dipandang sebagai lebih bermanfaat dan lebih unggul ketimbang bentuk-bentuk ibadah lainnya yang memerlukan tindakan yang
sulit dan sukar ?. Imam al Ghazali memberikan jawaban sebagai berikut :
Kenyataan ini bisa ditetapkan melalui pengetahuan & pengalaman mistis/sepiritual, akan tetapi, sejauh pengetahuan & pemahaman praktis aqal, bisa dikatakan bahwa hanya dzikir atau mengingat Allah saja yang efektif dan bermanfaat, yang senantiasa dan terus-menerus dilakukan disertai kehadiran ( Allah ) dalam jiwa dan pikiran. Akan halnya dzikir atau mengingat Allah secara verbal dan hati disibukkan dengan permainan dan senda gurau saja tanpa isi, dzikir panggilanNYA dalam keadaan suci ,batal,sibuk,bercanda bekerja,berdiskusi tanpa di batasi oleh gerak lahir & bathin.
Hadis Nabi memperkuat pandangan ini. Sebagaimana diungkapkan seorang penyair darwisy :
Jika engkau tidak mengerti di saat mengingat Allah, Sebelum mengenali haqiqatnya (haqqu al-rububiyah). Meskipun engkau sibuk sepanjang hayatmu, maka engkau tak beroleh apa-apa kecuali kesesatan belaka dan dirimu tiada sadar merasa mengingat sesuatu yang belum pernah engkau melihat dan mengenalinya
Namun engkau telah menyebut dan merasa telah dzikir kepadaNYA.
Itulah CIRI-CIRI haqiqat MUNAFIQ, belum mengenal namun telah merasa mengingat al-haq. Namun, mengingat dzat Kekasih dengan panggilanNYA kekasih untuk kekasihNYA dalam kerelaan UBUDIYAH AL-RUBUBIYAH senantiasa bermanfaat dan selalu berguna sepanjang masa.
{يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُوا الأَلْبَابِ} (البقرة/269).
“Allah berikan HIKMAH kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang diberi HIKMAH, maka ia telah diberi kebaikan yang banyak” (Al Qur’an, Surah Al Baqoroh, 2:269)
 Wuquufu al Qolbi Hadlir ila Robby

<> Metode untuk Makrifat dengan Tuhan


Metode untuk Makrifat dengan Tuhan   Dalam Surat Al-Kahfi ayat 110, Allah berfirman:  “Maka barang siapa yang ingin menemukan Allah, maka hendaklah ia mengerjakan amalan baik dan janganlah ia mempersekutukan siapapun dalam beribadah kepada Allah.”

Ayat di atas itulah yang  menjadi pegangan mereka untuk mencapai tujuan ber makrifat dengan Tuhan . Para sufi menempuh berbagai  metode yang membawa mereka pada kondisiberpadu dengan Tuhan atau makrifat dengan Tuhan
Untuk mencapai Hakekat (liqa) bermakrifat dengan Tuhan, Kaum Sufi  mengadakan kegiatan batin, riadhah/latihan dan mujahadah/perjuangan rohani. Perjuangan seperti ini dinamakan suluk, dan yang mengerjakannya dinamakan salik. Liqa Allah menjadi perhatian utama para sufi, seperti halnya Imam Ghozali membawa pengikutnya kepada Liqa bertemu dengan Tuhan/ makrifat dengan Tuhan ,
Metode yang para tersebut adalah:
  • Hulul (Tuhan menjelma ke dalam Insan) seperti ajaran Al-Hallaj. Katanya: “keinsananku tenggelam ke dalam Ketuhanan-Mu, tetapi tidak mungkin percampuran, sebab Ketuhanan-Mu itu senantiasa menguasai akan Keinsananku”.
  • Al-Isyraq ( Cahaya dari segala cahaya), seperti ajaran Abul Futuh Al-Suhrawardi. Beliau berkata, “Tujuan segala-galanya satu juga,  yaitu menuntut Cahayanya kebenaran dari Cahaya segala cahaya, yaitu Allah.
  • Ittihad ( Tuhan dan hamba berpadu menjadi satu), seperti ajaran Abu Yazid Bustami, Beliau berkata, ” Kami telah melihat Engkau maka Engkaulah itu, dan aku tidak ada disana“.
  • Ittisal (Hamba dapat menghubungkan diri dengan Tuhan) dan menentang faham Hulul dari al-Hallaj.
  • Wihdatul Wujud (Yang ada hanya satu) seperti ajaran Ibnu Araby, beliau berkata, “Al-Abidu wal Makbudu Wahidun” Yang menyembah dan yang disembah itu Satu.
  • Metode menurut Imam Ghozali, bahwa Wujud Tuhan meliputi segala Wujud. Tidak ada Wujud melainkan Allah dan perbuatan (ciptaan) Allah.  Allah dan perbuatannya adalah dua bukan satu. Alam ini adalah makhluk dan bukti adanya Khalik.
Walau para Sufi  menggunakan metode yang berbeda, tetapi pada akhirnya metode mereka itu dapat mengantarkannya pada kondisi Makfifat .

<> Penciptaan Nur Muhammad Awal Terciptanya Semua Makhluk


Sebelum semua makhluk diciptakan Allah, Nur Muhammad lah yang pertama kali diciptakan. Di dalam hadits qudsi Allah swt berfirman kepada Nabi Muhammad saw: Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, Aku ingin dikenal kemudian Aku ciptakan alam (makhluk) agar Aku bisa dikenal. Dengan merenungkan tanda-tanda alam dan ayat-ayat Al Qur’an kaum muslimin dapat memperoleh kilasan aspek Ke-Ilahian yang telah dituangkan di alam semesta yang oleh Al Qur’an disebut sebagai wajah Allah (wajh-Allah).

Di dalam hadits qudsi tersebut di atas terdapat kalimat yang berbunyi: Kemudian Aku ciptakan alam (makhluk)….. Ini masih berbentuk cahaya dan cahaya itu terbagi-bagi sebagaimana pendapat Ka’ab bin Akbar ra dalam kitab yang berjudul Madari: Yusu’ud (tangga-tangga kenaikan) yang di tulis oleh Syeh Nawawi pada halaman 2 s/d 3, yang terjemahannya kurang lebih sebagai berikut: berkata Ka’ab bin Akbar ra:
Ketika Allah hendak menciptakan Maujudat / makhluk, menghamparkan bumi dan meninggikan langit. Allah menggenggam seganggam dari nurNya dan berfirman: Kun Muhammad, maka jadilah segenggam nur tadi menjadi sebuah tiang dari nur yang memancarkan cahaya sampai menembus hijab-hijab kegelapan. Lalu tiang itu bersujud dan berkata: Allahu Akbar. Allah berfirman kepada tiang nur itu: “Aku ciptakan kamu dan Aku beri nama kamu Muhammad. Darimu Ku awali semua makhluk, dan darimu Ku akhiri semua para utusan”. Kemudian Allah membagi empat bagian. Kemudian Allah ciptakan Lauhil Mahfud dari bagian pertama. Lalu Qalam dari bagian yang kedua. Allah berfirman : kepada Qalam, “Tulislah !” maka bergetarlah Qalam seribu tahun kedahsyatan kedahsyatan kitabullah. Lalu Qalam berkata, “Apa yang harus aku tulis ?” Allah berfirman : “Tulislah Lailaaha Illallah Muhammadurrasulullah”. Maka Qalam menulis kalimat itu. Lalu Qalam diberi petunjuk tentang ilmu Allah yang berkaitan dengan makhluk, kemudian Qalam menulis, Anak cucu Adam dari sulbinya; siapa yang taat kepada Allah akan masuk surga, siapa yang maksiyat kepada Allah akan masuk neraka. Umat Nuh; siapa yang taat kepada Allah masuk surga…Umat Ibrahim; siapa yang taat kepada Allah, masuk surga, siapa maksiat…Umat Musa; siapa yang taat kepada Allah masuk surga, siapa maksiat kepada Allah ….Umat Isa; siapa yang taat kepada Allah masuk surga, siapa maksiyat kepada Allah…Umat Muhammad; siapa yang taat kepada Allah masuk surga, siapa maksiyat kepada Allah….ketika Qalam mau menulis kalimat berikutnya ( masuk neraka ) tiba- tiba ada seruan dari Yang Maha Tinggi: “Hai Qalam beradablah kamu”. Maka pecahlah Qalam karena karena kedahsyatan seruan itu, dan sobek ujungnya berbentuk garis lurus, dengan tangan kudrat maka jadilah adap. Qalam tidak bisa menulis kecuali pecah bergaris ujungnya. Lalu Allah berfirman: “Tulislah, umat berdosa Tuhan Maha Pengampun” kemudian Allah menciptakan Arasy dari bagian yang ke tiga. Dari bagian yang ke empat menjadi empat bagian:
1. Bagian kesatu dijadikan akal
2. Bagian kedua dijadikan ma’rifat ( agar dapat mengetahui)
3. Bagian ketiga dijadikan cahaya Arsy dan sinar penglihatan serta seluruh cahaya termasuk siang ( matahari), sinar malam( bulan dan bintang). Semua cahaya ini berasal dari Nur Muhammad, Nur Muhammad adalah awal segala makhluk
4. Bagian yang ke empat dititipkan di bawah arasy, sampai Allah menciptakan Adam. Kemudian Allah menitipkan bagian itu (nur Muhammad) pada punggung Adam, bersujudlah para Malaikat.
Kemudian Allah memasukkan Adam ke surga, para Malaikat berbaris rapi di belakang Adam, menyaksikan nur tersebut. Adam berkata: “Ya Allah kenapa para Malaikat berkumpul di belakangku?” Allah berfirman : “Wahai Adam mereka melihat nur kekasihku Muhammad penutup para utusan yang Aku keluarkan (pancaran cahaya) dari punggung mu” Adam berkata: “Ya Tuhan jadikan nur itu di depan saya, supaya saya bisa melihat dan berhadapan dengan malaikat”. Maka Allah memindahkan nur itu pada dahi nabi Adam, Malaikat berbaris di depan Adam. Adam berkata: “Ya Tuhan, jadikan Nur ini di tempat yang aku bisa melihat. Maka Allah jadikan Nur itu pada telunjuk Adam. Adam bisa melihat Nur itu bertambah bagus, megah dan Adam mendengar Nur itu bertasbih penuh keagungan, kemudian Nur itu pindah ke Hawa (istri Adam), seperti matahari yang bersinar.
Kemudian ditentukan permulaan para utusan dari Nabi Sis as. Maka hilanglah Nur itu di wajah Hawa pindah ke Nabi Sis as. Lalu Adam mengambil sumpah Nabi Sis as. Bahwasanya: “Tidak akan menyimpan Nur itu kecuali dari yang suci ke yang suci, dari yang mulia ke yang mulia,” sampai pada sulbi Abdullah bin Abdul Mutholib. Kemudian Allah mengeluarkannya ke dunia ini dan menjadikannya Raja para Utusan Rahmatan lil alamin dan seorang panutan yang memancarkan cahaya yang terang benderang.
Demikian dikala Nabi Muhammad saw. Diturunkan ke dunia, beliau disinari cahaya yang terang benderang sehingga, cahaya matahari yang menyinarinya tidak bisa memberi bayangan, dikarenakan cahaya Nur Muhammad lebih terang dari pada sinar matahari, itu terjadi di sepanjang hidup sampai beliau wafat. Dan siapa generasi penerusnya setelah Rasulullah saw. wafat?
Melihat dari sumpah Nabi Adam as. yang berbunyi tidak akan menyimpan Nur itu kecuali dari yang suci ke yang suci, dari yang mulia ke yang mulia. Mengingat risalah yang di bawa oleh Rasulullah saw. Dan dilanjutkan para pewarisnya yaitu para sahabat, para wali yang suci, dan para tabiin serta para ulama’ (yang disucikan dan yang dimuliakan oleh Allah swt.)
Jadi manusia yang dititipi Nur Muhammad, adalah orang-orang yang suci dan orang-orang yang dimuliakan oleh Allah swt. Adapun orang- orang yang mensucikan diri sehingga ia mencapai pada tingkat kesucian ruh mereka diberi petunjuk untuk menuju ke jalan yang sampai kepada ruhnya ruh Nur Muhammad, karena ruh tercipta dari percikan Nur Muhammad dikala bersujud dan bertasbih kepada Allah selama ribuan tahun. Sumber dari Penciptaan Nur Muhammad Awal Terciptanya Semua Makhluk: Makrifat Haji
Tambahan dari komentar:
Keterangan berikut adalah suntingan dari kitab ‘Sirrul Asrar Fi Ma Yahtaju Ilayhil Abrar’ oleh Ghawthul A’zham Shaikh Muhyiddin Abdul Qadir Jilani رضي الله عه
Maka berkata Shaikhuna; tentang
… Nur Muhammad (iaitu hakikat Muhammad) – atau ringkasnya asal kejadian.
Semoga Allah Ta’ala memberikan kamu kejayaan di dalam amalan-amalan kamu yang disukaiNya dan Semoga kamu memperolehi keredaanNya. Fikirkan, tekankan kepada pemikiran kamu dan fahamkan apa yang aku katakan.
Allah Yang Maha Tinggi pada permulaannya menciptakan cahaya Muhammad daripada cahaya suci Keindahan-Nya. Dalam hadis Qudsi Dia berfirman;
“Aku ciptakan ruh Muhammad daripada cahaya Wajah-Ku”.
Ini dinyatakan juga oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dengan sabdanya:
“Mula-mula Allah ciptakan ruhku. Pada permulaannya diciptakanNya sebagai ruh suci”.
“Mula-mula Allah ciptakan qalam”.
“Mula-mula Allah ciptakan akal”.
Apa yang dimaksudkan sebagai ciptaan permulaan itu ialah ciptaan hakikat kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم; kebenaran tentang Muhammad yang tersembunyi. Dia juga diberi nama yang indah-indah.
Dia dinamakan Nur, cahaya suci kerana dia dipersucikan dari kegelapan yang tersembunyi di bawah sifat jalal Allah.
Allah Yang Maha Tinggi berfirman:
قَدْ جَآءَكُمْ مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَـبٌ مُّبِينٌ
“Sesungguhnya telah datang kepada kamu dari Allah, cahaya dan kitab yang menerangkan”. – Al-Maaidah, ayat 15
Dia dinamakan aqal yang meliputi (akal universal) kerana dia telah melihat dan mengenali segala-galanya.
Dia dinamakan qalam kerana dia menyebarkan hikmah dan ilmu dan dia mencurahkan ilmu ke dalam huruf-huruf.
Roh Muhammad adalah zat atau hakikat kepada segala kejadian, permulaan dan kenyataan alam maya. Baginda صلى الله عليه وسلم menyatakan hal ini dengan sabdanya;
“Aku daripada Allah dan sekalian yang lain daripadaku”.
Allah Yang Maha Tinggi menciptakan sekalian roh daripada roh baginda صلى الله عليه وسلم di dalam alam kejadian yang pertama, dalam bentuk yang paling baik. ‘Muhammad’ adalah nama kepada sekalian kemanusiaan di dalam alam arwah. Dia adalah sumber, asal usul dan kediaman bagi sesuatu dan segala-galanya.

<> Jalan Pintas Menemui Allah



Suatu ketika berkumpul berdua antara Nabi saw dan Shahabat Ali ra : “Ya Rasul, adakah jalan pintas menemui Allah?”. Padahal sebenarnya Shahabat Ali pasti mengetahui banyak cara untuk menemui Allah: Bekerja karena Allah, Shalat Sunnah dan shalat wajib karena Allah, sedekah wajib atau sunnah karena Allah dan lain-lain. Itu merupakan contoh-contoh jalan menemui Allah. Tapi anehnya mengapa ada pertanyaan : “Adakah jalan singkat menemui Allah”. Kemudian Rasulullah Saw menjawab singkat: “Ada!” Lalu pintu ditutup dan diberikanlah cara-caranya : ini, ini, dan ini”. Dengan senangnya, Sayiddina Ali memberi tahu cara yang baru saja disampaikan oleh Rasulullah Saw kepada Abu Bakar Siddiq ra. Kemudian Abu Bakar Siddiq ra memberitahukan kepada Tabi’in, dari Tabi’in memberitahukan kepada tabi’it-tabi’iin, terus-menerus ilmu itu disampaikan hingga saat ini…….
Jalan Pintas Menemui Allah

<> Makna Bismallah



Dalam suatu hadits Nabi saw. Beliau bersabda, ” Setiap kandungan dalam seluruh kitab-kitab Allah diturunkan, semuanya ada di dalam Al-Qur’an. Dan seluruh kandungan Al-Qur’an ada di dalam Al-Fatihah. Dan semua yang ada dalam Al-Fatihah ada di dalam Bismillahirrahmanirrahiim.”
Bahkan disebutkan dalam hadits lain, “setiap kandungan yang ada dalam Bismillahirrahmaanirrahiim ada di dalam huruf Baa’, dan setiap yang terkandung di dalam Baa’ ada di dalam titik yang berada dibawah Baa’”.
Sebagian para Arifin menegaskan, “Dalam perspektif ahlul ma’rifatullah , ” Bismillaahirrahmaanirrahim” itu kedudukannya sama dengan “kun” dari Allah”.
Perlu diketahui bahwa pembahasan mengenai Bismillahirrahmaanirrahiim banyak ditinjau dari berbagai segi, baik dari segi gramatikal (Nahwu dan sharaf) ataupun segi bahasa (etimologis), disamping tinjuan dari materi huruf, bentuk, karakteristik, kedudukan, susunannya serta keistemewaanya atas huruf-huruf lainnya yang ada dalam Surat Pembuka Al-Qur’an, kristalisasi dan spesifikasi huruf-huruf yang ada dalam huruf Baa’, manfaat dan rahasianya.
Tujuan tulisan ini bukan mengupas semua itu, tetapi lebih pada esensi atau hakikat makna terdalam yang relevan dengan segala hal di sisi Allah swt, Pembahasannya akan saling berkelin dan satu sama lainnya, karena seluruh tujuannya adalah Ma’rifat kepada Allah swt.
Kami memang berada di gerbangNya, dan setiap ada limpahan baru di dalam jiwa maka ar-Ruhul Amin turun di dalam kalbunya kertas. Ketahuilah bahwa Titik yang berada dibawah huruf Baa’ adalah awal mula setiap surat dan Kitab Allah Ta’ala. Sebab huruf itu sendiri tersusun dari titik, dan sudah semestinya setiap Surat ada huruf yang menjadi awalnya, sedangkan setiap huruf itu ada titik yang menjadi awalnya huruf. Karena itu menjadi keniscayaan bahwa titik itu sendiri adalah awal dan pada setiap surat dan Kitab Allah Ta’ala.
Kerangka hubungan antara huruf Baa’ dengan Tititknya secara komprehensif akan dijelaskan berikut nanti. Bahwa Baa’ dalam setiap surat itu sendiri sebagai keharusan adanya dalam Basmalah bagi setiap surat, bahkan di dalam surat Al-Baqarah. Huruf Baa’itu sendiri mengawali ayat dalam surat tersebut. Karena itu dalam konteks inilah setiap surat dalam Al-Qur’an mesti diawali dengan Baa’ sebagaimana dalam hadits di atas, bahwa seluruh kandungan Al-Qur’an itu ada dalam surah Al-Fatihah, tersimpul lagi di dalam Basmalah, dan tersimpul lagi dalam Huruf Baa’, akhirnya pada titik .
Hal yang sama , Allah SWT dengan seluruh yang ada secara paripurna sama sekali tidak terbagi-bagi dan terpisah-pisah. Titik sendiri merupakan syarat-syarat dzat Allah Ta’ala yang tersembunyi dibalik khasanahnya ketika dalam penampakkan-Nya terhadap mahlukNya,  titik itu tidak tampak dan tidak Layak lagi bagi anda untuk dibaca selamanya mengingat kediaman dan kesuciannya dari segala batasan, dari satu makhraj ke makhraj lainya. Sebab ia adalah jiwa dari seluruh huruf yang keluar dari seluruh tempat keluarnya huruf. Maka,camkanlah, dengan adanya batin dari Ghaibnya sifat Ahadiyah.
Misalnya anda membaca titik menurut persekutuan, seperti huruf Taa’ dengan dua titik, lalu Anda menambah satu titik lagi menjadi huruf Tsaa’,  maka yang Anda baca tidak lain kecuali Titik itu sendiri, sebab Taa’ bertitik dua, dan Tsaa’ bertitik tiga tidak terbaca, karena bentuknya satu, yang tidak terbaca kecuali titiknya belaka. Seandainya Anda membaca di dalam diri titik itu niscaya bentuk masing-masing berbeda dengan lainnya. Karena itu dengan titik itulah masing-masing dibedakan, sehingga setiap huruf sebenarnya tidak terbaca kecuali titiknya saja. Hal yang sama dalam perspektif makhluk, bahwa makhluk itu tidak dikenal kecuali Allah.
Bahwa Anda mengenal-Nya dari makhluk sesungguhnya Anda mengenal-Nya dari Allah swt. Hanya saja Titik pada sebagian huruf lebih jelas satu sama lainnya, sehingga sebagian menambah yang lainnya untuk menyempurnakannya, seperti dalam huruf-huruf yang bertitik, kelengkapannya pada ttik tersebut. Ada sebagian yang tampak pada kenyataannya seperti huruf Alif dan huruf-huruf tanpa Titik. Karena huruf tersebut juga tersusun dari titik-titik. Oleh sebab itulah, Alif lebih mulia dibanding Baa’,karena Titiknya justru menampakkan diri dalam wujudnya, sementara dalam Baa’ itu sendiri tidak tampak (Titik berdiri sendiri). Titik di dalam huruf Baa’ tidak akan tampak, kecuali dalam rangka kelengkapannya menurut perspektif penyatuan. Karena Titik suatu huruf Merupakan kesempurnaan huruf itu sendiri dan dengan sendirinya menyatu dengan huruf tersebut. Sementara penyatuan itu sendiri mengindikasikan adanya faktor lain, yaitu faktor yang memisahkan antara huruf dengan titiknya.
Huruf Alif itu sendiri posisinya menempati posisi tunggal dengan sendirinya dalam setiap huruf. Misalnya Anda bisa mengatakan bahwa Baa’ itu adalah Alif yang di datarkan Sedang Jiim, misalnya, adalah Alif dibengkokkan’ dua ujungnya. Daal adalah Alif yang yang ditekuk tengahnya.
Sedangkan Alif dalam kedudukan titik, sebagai penyusun struktur setiap huruf ibarat Masing-masing huruf tersusun dari Titik. Sementara Titik bagi setiap huruf ibarat Neucleus yang terhamparan. Huruf itu sendiri seperti tubuh yang terstruktur. Kedudukan Alif dengan kerangkanya seperti kedudukan Titik. Lalu huruf-huruf itu tersusun dari Alif sebagimana kita sebutkan, bahwa Baa’ adalah Alif yang terdatarkan.
Demikian pula Hakikat Muhammadiyyah merupakan inti dimana seluruh jagad raya ini diciptakan dari Hakikat Muhammadiyah itu. Sebagaimana hadits riwayat Jabir, yang intinya Allah swt. menciptakan Ruh Nabi saw dari Dzat-Nya, dan menciptakan seluruh alam dari Ruh Muhammad saw. Sedangkan Muhammad saw. adalah Sifat Dzahirnya Allah dalam makhluk melalui Nama-Nya dengan wahana penampakan Ilahiyah.
Anda masih ingat ketika Nabi saw. diisra’kan dengan jasadnya ke Arasy yang merupakan Singgasana Ar-Rahman. Sedangkan huruf Alif, —walaupun huruf-huruf lain yang tanpa titik sepadan dengannya, dan Alif merupakan manifestasi Titik yang tampak di dalamnya dengan substansinya — Alif memiliki nilai tambah dibanding yang lain. Sebab yang tertera setelah Titik tidak lain kecuali berada satu derajat. Karena dua Titik manakala disusun dua bentuk alif, maka Alif menjadi sesuatu yang memanjang. Karena dimensi itu terdiri dari tiga: Panjang, Lebar dan Kedalaman.
Sedangkan huruf-huruf lainnya menyatu di dalam Alif,seperti huruf Jiim. Pada kepala huruf Jiim ada yang memanjang, lalu pada pangkal juga memanjang, tengahnya juga memanjang. Pada huruf Kaaf misalnya, ujungnya memanjang, tengahnya juga memanjang namun pada pangkalnya yang pertama lebar. Masing-masing ada tiga dimensi. Setiap huruf selain Alif memiliki dua atau tiga jangkauan yang membentang. Sementara Alif sendiri lebih mendekati titik. Sedangkan titik , tidak punya bentangan. Hubungan Alif diantara huruf-huruf yang Tidak bertitik, ibarat hubungan antara Nabi Muhammad saw, dengan para Nabi dan para pewarisnya yang paripurna. Karenanya Alif mendahului semua huruf.
Diantara huruf-huruf itu ada yang punya Titik di atasnya, ada pula yang punya Titik dibawahnya,Yang pertama (titik di atas) menempatip osisi “Aku tidak melihat sesuatu sebelumnya) kecuali melihat Allah di sana”.
Diantara huruf itu ada yang mempunyai Titik di tengah, seperti Titik putih dalam lobang Huruf Mim dan Wawu serta sejenisnya, maka posisinya pada tahap, ”Aku tidak melihat sesuatu kecuali Allah didalamnya.” Karenanya titik itu berlobang, sebab dalam lobang itu tampak sesuatu selain titik itu sendiri Lingkaran kepada kepala Miim menempati tahap, “Aku tidak melihat sesuatu” sementara Titik putih menemptai “Kecuali aku melihat Allah di dalamnya.”
Alif menempati posisi “Sesungguhnya orang-orang yang berbaiat kepadamu sesungguhnya mereka itu berbaiat kepada Alllah.” Kalimat “sesungguhnya” menempati posisi arti “Tidak”, dengan uraian “Sesungguhnya orang-orang berbaiat” kepadamu tidaklah berbaiat kepadamu tidaklah berbaiat kepadamu, kecuali berbaiat kepada Allah.”
Dimaklumi bahwa Nabi Muhammad saw. dibaiat, lalu dia bersyahadat kepada bersyahadat kepada Allah pada dirinya sendiri, sesungguhnya tidaklah dia itu berbaiat kecuali berbaiat kepada Allah. Artinya, kamu sebenarnya tidak berbaiat kepada Muhammad saw. tetapi hakikat-nya berbaiat kepada Allah swt. Itulah arti sebenarnya dari Khilafah tersebut
Menurut Ibnu Araby dalam Kitab Tafsir Tasawufnya, “Tafsirul Qur’anil Karim” menegaskan, bahwa dengan (menyebut) Asma Allah, berarti Asma-asma Allah Ta’ala diproyeksikan yang menunjukkan keistimewaan-nya, yang berada di atas Sifat-sifat dan Dzat Allah Ta’ala. Sedangkan wujud Asma itu sendiri menunjukkan arah-Nya, sementara kenyataan Asma itu menunjukkan Ketunggalan-Nya.
Allah itu sendiri merupakan Nama bagi Dzat (Ismu Dzat) Ketuhanan. dari segi Kemutlakan Nama itu sendiri. Bukan dari konotasi atau pengertian penyifatan bagi Sifat-sifat-Nya, begitu pula bukan bagi pengertian “Tidak membuat penyifatan”.
“Ar- Rahman” adalah predikat yang melimpah terhadap wujud dan keparipurnaan secara universal. menurut relevansi hikmah. dan relevan dengan penerimaan di permulaan pertama.
“Ar-Rahiim” adalah yang melimpah bagi keparipurnaan maknawi yang ditentukan bagi manusia jika dilihat dari segi pangkal akhirnya. Karena itu sering. disebutkan, “Wahai Yang Muha Rahman bagi Dunia dan akhirat, dan Maha Rahim bagi akhirat”.
Artinya, adalah proyeksi kemanusiaan yang sempuma, dan rahmat menyeluruh, baik secara umum maupun khusus, yang merupakan manifestasi dari Dzat Ilahi. Dalam konteks, inilah Nabi Muhammad saw. Bersabda, “Aku diberi anugerah globalitas Kalam, dan aku diutus untuk menyempurnakan akhlak (menuju) paripurna akhlak”.
Karena. kalimat-kalimat merupakan hakikat-hakilkat wujud dan kenyataannya. Sebagaimana Isa as, disebut sebagai Kalimah dari Allah, sedangkan keparipurnaan akhlak adalah predikat dan keistimewaannya. Predikat itulah yang menjadi sumber perbuatan-perbuatan yang terkristal dalam jagad kemanusiaan. Memahaminya sangat halus. Di sanalah para Nabi – alaihimus salam – meletakkan huruf-huruf hijaiyah dengan menggunakan tirai struktur wujud. Kenyataan ini bisa djtemukan dalam periode! Isa as, periode Amirul Mukminin Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah, dan sebagian masa sahabat, yang secara keseluruhan menunjukkan kenyataan tersebut.
Disebutkan, bahwa Wujud ini muncul dari huruf Baa’ dari Basmalah. Karena Baa’ tersebut mengiringi huruf Alif yang tersembunyi, yang sesungguhnya adalah Dzat Allah. Disini ada indikasi terhadap akal pertama, yang merupakan makhluk awal dari Ciptaan Allah, yang disebutkan melalui firman-Nya, “Aku tidak menciptakan makhluk yang lebih Kucintai dan lebih Kumuliakan ketimbang dirimu, dan denganmu Aku memberi. denganmu Aku mengambil, denganmu Aku memberi pahala dan denganmu Aku menyiksa”. (Al-hadits).
Huruf-huruf yang terucapkan dalam Basmalah ada 18 huruf. Sedangkan yang tertera dalam tulisan berjumlah 19 huruf. Apabila kalimat-kalimat menjadi terpisah. maka jumlah huruf yang terpisah menjadi 22.
Delapan belas huruf mengisyaratkan adanya alam-alam yang dikonotasikannya dengan jumlahnya. 18 ribu alam. Karena huruf Alif merupakan hitungan sempurna yang memuat seluruh struktur jumlah. Alif merupakan induk dari seluruh strata yang tidak lagi ada hitungan setelah Alif. Karena itu dimengerti sebagai induk dari segala induk alam yang disebut sebagai Alam Jabarut, Alam Malakut, Arasy, Kursi, Tujuh Langit., dan empat anasir, serta tiga kelahiran yang masing masing terpisah dalam bagian-bagian tersendiri.
Sedangkan makna sembilan belas, menunjukkan penyertaan Alam Kemanusiaan. Walau pun masuk kategori alam hewani, namun alam insani itu menurut konotasi kemuliaan dan universalitasnya atas seluruh alam dalam bingkai wujud, toh ada alam lain yang memiliki ragam jenis yang prinsip. Ia mempunyai bukti seperti posisi Jibril diantara para Malaikat.
Tiga Alif yang tersembunyi yang merupakan pelengkap terhadap dua puluh dua huruf ketika dipisah-pisah, merupakan perunjuk pada Alam Ilahi Yang Haq, menurut pengertian Dzat. Sifat dan Af ‘aal. Yaitu tiga Alam ketika dipisah-pisah, dan Satu Alam ketika dinilai dari hakikatnya.
Sementara tiga huruf yang tertulis menunjukkan adanya manifestasi alam-alam tersebut pada tempat penampilannya yang bersifat agung dan manusiawi.
Dan dalam rangka menutupi Alam Ilahi, ketika Rasulullah saw, ditanya soal Alif yang melekat pada Baa’, “dari mana hilangnya Alif itu?” Maka Rasulullah saw, menjawab, “Dicuri oleh Syetan”.
Diharuskannya memanjangkan huruf Baa’nya Bismillah pada penulisan, sebagai ganti dari Alifnya, menunjukkan penyembunyian Ketuhanannya predikat Ketuhanan dalam gambaran Rahmat yang tersebar. Sedangkan penampakannya dalam potret manusia, tak akan bisa dikenal kecuali oleh ahlinya. Karenanya, dalam hadist disebutkan, “Manusia diciptakan menurut gambaran Nya”.
Dzat sendiri tersembunyikan oleh Sifat, dan Sifat tersembunyikan oleh Af’aal. Af’aal tersembunyikan oleh jagad-jagad dan makhluk.
Oleh sebab itu, siapa pun yang meraih Tajallinya Af’aal Allah dengan sirnanya tirai jagad raya, maka ia akan tawakkal. Sedangkan siapa yang meraih Tajallinya Sifat dengan sirnanya tirai Af’aal, ia akan Ridha dan Pasrah. Dan siapa yang meraih Tajallinya Dzat dengan terbukanya tirai Sifat, ia akan fana dalam kesatuan. Maka ia pun akan meraih Penyatuan Mutlak. Ia berbuat, tapi tidak berbuat. Ia membaca tapi tidak membaca “Bismillahirrahmaanirrahiim”.
Tauhidnya af’aal mendahului tauhidnya Sifat, dan ia berada di atas Tauhidnya Dzat. Dalam trilogi inilah Nabi saw, bermunajat dalam sujudnya, ” Tuhan, Aku berlindung dengan ampunanmu dari siksaMu, Aku berlindung dengan RidhaMu dari amarah dendamMu, Aku berlindung denganMu dari diriMu “.
Sumber : Tafsirul Qur’anil Karim, karya Ibnu Araby

Selasa, 16 April 2013

> Meditasi Menuju Kemanunggalan


Meditasi menuju Kemanunggalan ~ Apa yang  sampaikan ini hanyalah sebagai pondasi atau landasan dasar perjalanan menuju Allah, menurut ajaran Ma’rifat Syekh Siti Jenar. Jadi, setelah memperoleh pengalaman spiritual dari lelaku di bawah ini, bukan berarti bahwa perjalanan spiritual sudah diperoleh sempurna. Akan tetapi paling tidak, dengan pengalaman ma’rifat dasar berikut ini akan menjadi awal yang sangat baik untuk melanjutkan lelaku dan pengalaman spiritual lebih lanjut.

Untuk memperoleh hasil yang optimal, maka praktik meditasi (khalwat, I’tikaf, atau Tahannuts) dilaksanakan dengan urutan-urutan berikut:


a.    Mandi mensucikan jasmani dan rohani niat,”Bismillahirrahmanirrahim. Niyatingsun ngedusi seduluringsun papat, lima pencer, kenem Bumi, kapitu Rasul, Allahu amalkah. Niyatingsun ngedusi badan jasmani, resik jaba suci jero. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.”

b.    Melaksanakan meditasi yang disebut sebagai shalat ma’rifat, dengan tata cara berikut:

1.    Dimuali dari Tafakur atau pemusatan pemikiran dan hati.
Melakukan meditasi sampai ke tubuh, hati, dan pemikiran hingga mencapai gelombang alfa (hening, tenang, tentram, dan damai)

Cara melakukan tafakkur
§         Mengambil napas sekuat mungkin, kemudian napas ditahan   dibagian bawah perut.
§         Membaca wirid dalam hati (kalbu, batin),”Allah, Allah, Allah...” sambil melepaskan nafas secara perlahan-lahan.


“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai (QS. 7: 205).”

§         Dilakukan sekitar 10 x – 41 x, sampai mencapai gelombang alfa.
§         Boleh membaca Asma’ Allah yang lain, sesuai keinginan kita, (utamanya asma ul-husna).


Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaulhusna (nama-nama yang terbaik) ....
(QS. 17: 110).“

2.    Membaca surat Al-fatihah
Caranya: dilakukan dengan menahan napas, cukup 1 – 3 kali.

3.    Mengucapkan niat (afirmasi) dan permohonan do’a iftitah.


"Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau(Q.S. 7: 143)".
“ Ya allah, aku berhasrat menemui dan mengenalmu, jika engkau izinkan, tunjukanlah wajah-Mu padaku, agar aku dapat menyaksikan-Mu (bermusyahadah).

Dilakukan dengan menahan nafas, mengucapkan niat dengan tulus ikhlas, kemudian melepaskannya secara perlahan-lahan.

4.    Membaca Sholawat satu kali, istighfar 3 kali, dan membaca “Hu-Allah” 3 kali.
Dilakukan dengan menahan napas, dan setelah selesai dikeluarkan perlahan-lahan.

5.    Menutup 9 lubang (babahan nawa/hawa sanga), mati sakjeroning urip.

6.    Kembali ke posisi duduk rileks dan mengatur napas, sambil ber-dzikir dalam hati. “Hu – Allah” sebanyak 7 kali.

7.    Membaca: Sahadat Allah “Allah, Allah, Allah lebur badan, dadi nyawa, lebur nyawa dadi cahaya, lebur cahaya dadi idhafi, lebur idhafi dadi rasa, lebur rasa dadi sirna mulih maring sejati, kari amungguh Allah kewala kang langgeng tan kena pati.”

8.    Membaca: “Ashadu-ananingsun, la ilaha rupaningsun,  illallah-pangeraningsun, satuhune ora ana pangeran anging ingsun, kang badan nyawa kabeh” dengan menahan napas.

9.    Selesai melakukan meditasi, ritual ditutup dengan bacaan,”Sabda sukmo, adhep-idhep Allah, kang anembah Allah, kang sinembah Allah, kang murba amisesa.”
(sumber: ajaran ma’rifat Syekh Siti jenar)